Sebuah Kilas Balik di Milad FLP ke 24

Saat SMA, guru mata pelajaran Agama Islam sekaligus Pembina ekstrakurikuler Kerohanian Islam menunjuk saya sebagai tutor sebaya bagi teman-teman yang belum bisa baca tulis Al Qur’an. Selain itu juga untuk membantu guru pengampu mata pelajaran Agama Islam yang saat itu hanya ada dua orang, untuk membantu memantau perkembangan membaca dan menulis Al Qur’an.

Sesungguhnya metode pembelajaran tutor sebaya ini sebagai salah satu upaya untuk mendidik siswa sebagai tutor sebaya terpilih agar kemampuannya tidak hanya dimanfaatkan bagi diri sendiri tetapi juga dibagi kepada orang lain.

Dari persentuhan saya dengan kegiatan ekskul Rohis inilah kemudian saya mengenal majalah-majalah islami populer pada saat itu, yang kebetulan menjadi penghuni rak perpustakaan di masjid sekolah kami. Diantaranya adalah majalah Ummi, Annida dan Sabili. Untuk Sabili terus terang saya tidak suka membacanya, bagi saya saat itu rasanya terlalu “berat”.

Bagi teman-teman yang lahir tahun 90an dan aktif di rohis pasti familiar dengan majalah satu ini. Boleh dibilang Annida merupakan pelopor genre sastra baru di Indonesia, yang kerap disebut dengan sastra islami.

Harian Republika pernah menulis bahwa Annida memberikan “pencerahan bagi pembacanya” bukan “sekedar hiburan”.  Sastrawan dan Penyair, Taufik Ismail menyebut Annida melalui cerpennya mengajak remaja mencintai sastra dan Islam sekaligus. Sastrawan, pendiri Komunitas Rumah Dunia, Gola Gong mengatakan, cerita-cerita Annida “selalu menyisakan sesuatu setelah kita membacanya”. Bagi saya sendiri Annida adalah sahabat yang menemani masa remaja saya.

Dari Annida inilah kemudian saya mengenal Forum Lingkar Pena, karena kelahiran Forum Lingkar Pena memang dibidani oleh Annida. Barangkali ada yang belum tahu, Forum Lingkar Pena adalah organisasi pengaderan penulis yang bertujuan memberikan pencerahan melalui tulisan yang didirikan pada tahun 1997.

Nama Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia  sepertinya sudah tidak asing lagi bagi kita, kakak beradik ini merupakan pendiri Forum Lingkar Pena bersama Maimon Herawati dan belasan aktivis lainnya. FLP sendiri adalah organisasi inklusif. Keanggotaannya terbuka bagi siapa saja tanpa memandang ras maupun agama. Mayoritas anggota FLP memang muslim, namun tingkat pemahaman keislaman mereka tidak seragam. Ada juga non muslim yang bergabung. Meski demikian para anggota FLP memiliki niat yang sama, yaitu membagi seberkas cahaya bagi para pembaca dan menganggap kegiatan menulis adalah bagian dari ibadah.

Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 2010, saya dan beberapa teman merasa gelisah dengan geliat literasi di kabupaten Lebak, tempat kami tinggal. Akhirnya dari obrolan yang kadang sambil lalu kami sepakat untuk membentuk sebuah komunitas literasi. Awalnya bingung harus memulai darimana, tetapi seseorang menyarankan kami untuk bersilaturahmi dengan pegiat-pegiat literasi di Lebak yang sudah bergerak lebih dulu.

Pada saat itu pertama kali yang kami kunjungi adalah Bunda Iroh Siti Zahroh, Dengan komunitas dongeng Saija Adinda yang didirikannya beliau menularkan virus-virus literasi dengan fokus anak-anak usia dini. Sehari-hari beliau bergiat sebagai widyaiswara di LPMP Banten. Kunjungan kedua, kami mendatangai rumah Kang Chavchay Syaifullah, seorang penyair angkatan 98. Sastrawan nasional yang berasal dari Lebak. Ketiga kami mengunjungi Komunitas Rumah Dunia, milik Gola Gong.

Dari ketiga pertemuan itu pesan utamanya hampir serupa bahwa menularkan virus literasi itu berat, apalagi di daerah kita (Lebak dan Banten), apalagi kalau kita “bukan siapa-siapa”. Alih-alih mendapat simpati malah biasanya tak dilirik setengah mati. Tapi jangan mengalah dengan keadaan, terus saja lakukan apa yang kita yakini jika itu untuk kebaikan sesama.

Saat itu karena Bunda Iroh memiliki kegiatan dengan komunitasnya sendiri, Kang Chavchay lebih banyak berkegiatan di luar Lebak. Maka satu-satunya yang kemudian menjadi pembimbing kami adalah Mas Gola Gong. Di Komunitas Rumah Dunia ini akhirnya saya dan teman-teman berkenalan dengan Forum Lingkar Pena, yang kebetulan hampir semua anggota FLP Serang – Banten adalah alumni kelas menulis di Rumah Dunia. Dan hanya di Kabupaten Lebaklah yang pada saat itu FLP tidak memiliki cabang. Akhirnya kami sepakat untuk mendirikan FLP Cabang Lebak.

Dan akhirnya di Maret 2010, di teras gedung BKD Kabupaten Lebak kami mengadakan agenda perdana yaitu launching dan pelatihan perdana. Saat itu kami bagi menjadi dua sesi. Sesi pertama launching dengan memperkenalkan sejarah Forum Lingkar Pena dan diresmikannya FLP Cabang Lebak. Sesi dua Bedah buku dan Motivasi Menulis dari Gola Gong dan Chavchay Syaifullah. Saat itu saya sendiri tidak mengira akan mendapat sambutan luar biasa dari siswa-siswa SMP, SMA, SMK dan Mahasiswa maupun masyarakat umum yang kami undang untuk hadir dalam kegiatan ini. Lebih dari 100 orang memadati teras BKD saat itu.

Berikut adalah beberapa dokumentasi kegiatan pada saat itu:

Banyak pengalaman menarik yang tidak melulu tentang menulis yang saya dapat selama bergiat di FLP Cabang Lebak. Salah satu yang berkesan adalah saat mengikuti kegiatan Upgrading Pengurus Nasional 1 FLP yang diadakan di Jogja pada saat itu. Kebetulan saya, Hilal dan Lilo yang menjadi perwakilan pada kegiatan tersebut. Bertemu dengan teman-teman perwakilan seluruh Indonesia selama tiga hari tentu membawa kesan-kesan tersendiri.

Dari perjalanan panjang mendirikan FLP Cabang Lebak, akhirnya kini mati suri kembali. Sedih rasanya, tapi memang benar dugaan sejak mula dari pegiat-pegiat literasi pendahulu kami. Ini bukan perjuangan yang mudah. Meski disetiap kegiatan yang diadakan FLP pusat kami ikuti, tetapi kegiatan di FLP cabang sendiri mati, tidak ada lagi pengkaderan. Meski saat ini saya dan teman-teman sedang mengupayakan kembali hidupnya FLP Cabang Lebak.

Di Milad FLP ke 24 ini, satu-satunya kegiatan yang kami ikuti adalah lomba antologi cerpen antar cabang. Di bawah ini adalah cover antologi Rehat Sejenak yang kami ikut sertakan dalam memeriahkan Milad FLP ke 24.

Berharap besar sekali ke depan saya dan teman-teman bisa menghidupkan FLP Cabang Lebak kembali. Meski kami tahu ini bukan perjalanan yang mudah. Semua berproses, tidak ada proses sekali jadi yang singkat. Dan semoga apapun wadahnya, apapun komunitasnya kita mampu bersinergi bersama untuk kabupaten Lebak yang kita cintai. Semoga tidak ada senioritas apalagi merasa “saya lah pegiat literasi terdahulu di Lebak”.

Dan untuk FLP, selamat Milad yang ke 24.

Berbakti. Berkarya. Berarti

Tinggalkan Balasan

News Feed