3. Mie Ayam Ibu Judes
Di jalan Sumedang Tanjungkerta terdapat sebuah kedai mie ayam. Nama kedainya bukan Mie Ayam Sederhana, atau Mie Ayam Lezat, atau suatu nama mirip itu. Nama kedai yang dipilih sepertinya yang justru dihindari orang lain. Apa namanya ? Namanya, Mie Ayam Ibu Judes.
Loh…kok bisa?
Tentulah si ibu pedagang tidak akan bahagia kalau mengetahui bahwa dirinya itu judes dimata para pelanggannya. Andaipun iya dia itu termasuk orang judes, jika dia menyadari bagaimana penilaian orang lain padanya pasti akan dia perbaiki sikapnya. Setuju kan ?
Saya kira, pemberian nama ini bukan dimaksudkan untuk menonjolkan sisi judes pedagangnya. Ini lebih ke taktik jualan saja, supaya calon pembeli penasaran saja. Sekarang ini, sesuatu yang nyeleneh malah suka menarik perhatian orang kan ?
Terlepas dari judes atau tidaknya si ibu penjual mie ayam ini, ternyata memang tidak jarang kita menemukan penjual yang judes.
Putri saya tidak tahu nama ibu pemilik warung di ujung kampung itu. Tetapi saya segera paham siapa yang dimaksud ketika dia menjawab “dari warung judes…”, saat dia saya tanya dari mana membeli es krim. Ibu warung di ujung kampung itu memang agak irit bicara dan mahal senyum. Dia hanya akan bertanya kita butuh apa sambil melihat muka kita, kemudian mengambil barangnya dan menyodorkan kepada kita tanpa ada ramah-ramahnya. Juga dia tidak akan tergopoh-gopoh mendekat dan bertanya mau beli apa saat dia sedang beraktivitas di belakang. Orang yang mau belanja dibiarkan saja pada berdiri sambil tentu saja merasa kesal.
Si ibu itu hanya akan berbasa-basi kepada pelanggan yang benar-benar sudah biasa belanja di sana, sudah benar-benar dikenal dirinya. Kalau kepada orang yang baru, jangan harap dapat tegur sapa atau senyuman. Sehingga, orang yang menempelkan predikat judes padanya bukan hanya putri saya, banyak juga yang lainnya.
Bagi orang sekampung mungkin sudah kebal saja, dianggap biasa, lagi pula tidak ada warung lainnya yang selengkap warung tersebut. Namun bagi orang-orang yang sudah terbiasa mendapat sapaan selamat sore atau selamat siang dari petugas kasir minimarket, seolah tak sudi belanja di warung dan dilayani dengan ketus.
Nah,si ibu warung ujung kampung ini sudah mendapat brand dirinya, yaitu judes. Dengan kata lain, judes adalah personal branding ibu warung ini.
Lain lagi cerita si teteh tukang gorengan dekat rumah.
Karena omsetnya tidak terlalu banyak, jadi dia selalu menggoreng bakwan atau kroket hanya jika ada yang mau beli. Akibatnya, jika ada orang lapar mau beli bakwan maka dia harus rela menunggu sambil menahan keroncongan perutnya.
Para pembeli yang kesal seringkali ngomel-ngomel kepada si teteh ini, dan meminta agar si teteh selalu siap gorengan yang mateng. Jadi jika ada yang beli ya tinggal ambil. Biasanya protes-protes itu disampaikan dengan nada pura-pura marah, atau bercanda-canda. Tetapi intinya sama saja, kami para pembeli menghendaki si teteh selalu siapkan gorengan matang siap saji.
Walaupun hampir setiap hari para tetangga yang merupakan pelanggan gorengan si teteh itu ngomel-ngomel, namun dia bersikukuh tidak mau menggoreng jika tidak ada yang beli. Alasannya, karena seringkali dia sediakan gorengan matang malah gak ada yang beli. Sehingga gorengannya menjadi dingin dan tidak terjual. Daripada rugi seperti itu lebih baik diomeli terus gara-gara tidak menyediakan stok gorengan matang. Akhirnya sambil bercanda-canda para tetangga itu memanggil dia si lempeng, yang artinya lurus. Lurus dalam pendirian tidak mau diberi masukan.
Walaupun bukan hal yang besar, tetap saja hal itu melekat pada nama si teteh. Pokonya jangan harap ada stok gorengan di si teteh. Kalau mau gorengan di si teteh ya harus sabar menunggu menggoreng dulu. Si lempeng, itulah branding si teteh.
Penjual mie ayam judes, pemilik warung judes dan si teteh lempeng, adalah contoh-contoh asosiasi suatu keadaan terhadap seseorang. Walaupun hanya soal sederhana, itulah personal branding. Karena perkaranya kecil jadi saya sebut juga sebagai miniatur personal branding.
Apakah personal branding ini penting untuk dibicarakan ?
Apakah personal branding berpengaruh terhadap “keberuntungan” seseorang ?
Tentu saja.









