Bangkitlah anakku Hari esok masih ada

Terbaru641 Dilihat

MELEDAKNYA ITU MENJELANG SENJA

Ini episode kehidupan yang paling berat untuk diungkapkan. Tapi menurut Prof. Dr. Nasarudin Umar yang rajin kuikuti zoomnya belakangan, bahwa orang yang kuat imannya adalah yang mampu menipiskan perbedaan antara penderitaan dan kebahagiaan, antara sedih dan gembira, karena yakin bahwa semua datang atas kehendak Allah yang tidak perlu diragukan lagi kasih sayangnya pada kita. Masuk syurga atau neraka tidak masalah. Yang penting adalah cinta Mu. Mungkin ini cara Mu agar supaya aku makin mendekati Mu dan mencintai Mu, karena Engkau selalu mencintai hamba Mu.

Tujuh tahun telah berlalu sejak peristiwa penculikan Kahfi, usianya sudah 22 tahun. Jika tidak ada halangan tentu dia sudah tamat D3 atau S1. Namun sampai sekarang belum tentu arahnya. Dia sudah ikut latihan vocal suara meski tidak sampai selesai, sudah pula ikut latihan sebagai MC. Nah untuk jadi MC nampaknya dia tertarik dan sudah nampil beberapa kali dalam event acara capping day dan acara wisuda di sekolahku. Aku senang melihat dia beberapa kali tampil cukup percaya diri pakai jas hitam pada saat jadi MC, meski selalu ada sepupunya yang mendampingi. Badannya sudah berisi dan terlihat ganteng bersih ceria. Namun tugas ini dilakukannya dengan tidak konsisten. Kadang mau kadang tidak, dan belakangan tidak mau lagi. Begitu juga sikapnya sering berubah-ubah, susah dipegang. Pagi bilang mau, beberapa jam kemudian bilang gak mau. Pernah kita ajak jalan silaturahmi ke Palembang, mau ikut sudah beli tiket tiba-tiba bilang gak jadi tanpa alasan yang jelas. Kalau kita menunjukkan sikap amarah atau kesal maka mukanya menjadi merah menahan amarah atau membanting sesuatu, melamun, menyendiri berjam-jam, kadang malas mandi. Jadi kamilah yang harus berhati-hati.

Tadi sudah kukatakan bahwa aku punya sekolah, maksudku aku dan teman-teman sejak tahun 1994 telah mendirikan sekolah tinggi ilmu kesehatan prodi D3 dan kemudian ditambah prodi S1. Kahfi sudah sering kumotivasi untuk masuk di sekolahku saja, maksudku supaya gampang bimbingan dan pengawasannya. Namun dia masih belum mau. Tahun ini dia bersedia kumasukkan untuk prodi D3 dulu dengan minta bantuan pengarahan dan bimbingan khusus serta pengertian dari teman-teman dosen. Perkuliahannya berlangsung up and down, kadang semangat kadang tidak, namun masih tetap diteruskan semampunya. Dia ditempatkan di sebuah kamar asrama sekolah kami, kamar sebelahnya adalah kamarku, karena Kahfi masih tetap diurus kebutuhannya dan diawasi perilakunya.

Pada suatu sore, Sinta datang menjenguk Kahfi. Sudah beberapa bulan ini dia tidak terlihat, kukira hubungan mereka sudah putus. Kubiarkan mereka berbincang-bincang sebagai kawan lama di ruang tamu kamar Kahfi. Setelah beberapa lama kemudian, Sinta masuk ke kamarku dengan muka terlihat muram dan sedih.

”Bu… Kahfi marah-marah sama Sinta.”

“Kenapa?”

“Bilang Sinta gak setia, perempuan murahan! Hikhik.

“Ya sudah, sabar saja dulu, belakangan memang Kahfi agak emosional.”

Lalu kualihkan Sinta bicara hal lain-lain supaya ketegangan mereda. Setelah beberapa lama kemudian Sinta kembali ke tempat Kahfi di sebelah kamarku.

Namun… beberapa waktu kemudian hampir seiring dengan suara azan Magrib, tiba-tiba kulihat Sinta berlari ketakutan keluar dari pintu kamar Kahfi menuju ke arahku. Aku cepat berdiri. Kahfi menyusul mengejar Sinta sambil menunjuk muka dan mengepalkan tinjunya. Sinta berlari ke belakangku, Kahfi tetap mengejar dengan muka merah padam hampir tak kukenali wajahnya dan mengayunkan tinjunya ke arah Sinta. Aku yang menghadang, terkena pelipisku… kembali dia mengayunkan tendangannya, terkena perutku. Akupun roboh…..

Sayup kudengar suara Kahfi menjerit meraung berlari kesana kemari, meninju dua jendela kaca, pecah, meninju dan menendang pintu-pintu. Mahasiswa yang berada dalam kamar-kamar asrama keluar dan menjerit. Ada seorang dosen yaitu pak Anwar yang sore itu jadwalnya mengajar belum pulang. Segera dia memerintahkan mahasiswi mengangkatku ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam bersama Sinta. Juga memerintahkan kepada yang lain agar masuk kamar dan mengunci pintunya. Pak Anwar dari dalam kamarku menelpon ambulans: CITO! ada pasien yang akut, Jemput segera ke alamat. Kami hanya menunggu pasrah, apa yang terjadi pada Kahfi di luar sana kupasrahkan kepada Allah yang sudah pasti menyayangi umat Nya. Selang beberapa menit tidak terdengar lagi suara Kahfi, hening….. Kami menunggu… Pelipis kiriku yang sedikit berdarah dibersihkan dan ditutup dengan kain kasa.

Karena sudah sepi, hening, pak Anwar mencoba mengintip pelan-pelan keluar kamar, dan saat kembali katanya tenang saja tidak apa-apa lagi Kahfi sekarang terbaring tak bergerak di kamarnya. Sekitar 20-30 menit kemudian ambulans datang, Kahdi disuntik dan dibawa tanpa perlawanan oleh 3 orang petugas/perawat ke rumah sakit di daerah Pondok Kopi.

Besoknya aku dibawa ke rumah sakit memeriksakan pelipisku dijahit 2 jahitan dan diopname selama 3 malam. Untuk episode ini, maafkan aku tidak mau berlama-lama cerita, karena apapun yang dilakukan Kahfi sungguh di luar kesadarannya. Sampai dengan saat ini aku tetap menyayangi dan makin menyayanginya, karena sesungguhnya dialah yang wajib segera ditolong dengan cara yang benar sesuai dengan penyakit yang dideritanya.

Tinggalkan Balasan