12.PENGOBATAN MEDIS YANG RUMIT
Delapan tahun sudah sejak Kahfi dibawa ustadz Darma entah menginap dimana. Sampai sekarang lokasinya misterius karena malam berikutnya Kahfi diantar pulang dengan tetap ditutup mata pakai kain hitam. Setelah tertidur cukup lama dalam mobil dan dibangunkan di perhentian angkot menuju ke rumah, diberinya Kahfi uang untuk angkot. Turun angkot, Kahfi jalan kaki sekitar 200 meter masuk komplek rumah kami. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri Kahfi setelahnya tak luput dari pantauanku sebagai anak bungsu kesayanganku dan kami selalu berusaha mengalihkan kegalauannya yang tak kami ketahui dan mencari solusinya meski dengan dia masih tetap dengan segala keketusan bicara atau kebandelannya. Selain upaya pengobatan-pengobatan alternatif, mencari-cari sekolah dan kursus yang cocok, juga selalu kami ajak dalam moment acara-acara keluarga, jalan-jalan ke luar kota, pulang kampung, maupun acara sekolah. Namun di luar dugaan, peristiwa naas senja itu terjadi juga yang membawa kami memasuki belantara yang barulagi.
Semua di dunia ini butuh tahapan atau proses yang kadang butuh waktu yang begitu lama, dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang dianggap kecil menjadi besar, dari hal yang dianggap mistis menjadi penyakit yang nyata ada dalam ilmu kedokteran, dari anggapan sekedar kenakalan masa pubertas menjadi penyakit sungguhan. Dokter mengatakan Kahfi terkena gangguan jiwa depresi berat dan harus diobati dengan cara medis selain dengan pendekatan kasih sayang penciptaan situasi lingkungan yang kondusif, serta jauhkan dari stigma negatif.
Pada awalnya sering muncul pertanyaanku kepada Allah, mengapa ini terjadi pada kami, apa salahku, dalam riwayat genetik kami tidak terdapat penyakit ini, apa kata orang-orang, dan sebagainya. Namun kemudian pada akhirnya kusadari vonis itu harus kuterima dengan lapang dada. Segera kuubah mindsetku dari Suuzhon menjadi Husnuzhon. Apapun yang terjadi ini tidak lain karena Allah menyayangiku, menyayangi kami. Mengapa harus dengan jalan begini hanya Allah yang tahu. Manusia siapapun silakan mau berkata apa, mau menilai apa. Kami adalah orang-orang istimewa yang diberi ujian yang istimewa pula oleh Allah karena dinilai mampu. Orang lain belum tentu diberi, maka teruslah tingkatkan ikhtiar dan berdoadengan hati yang teguh dan iman yang kuat.
Keluar dari rumah sakit setelah sekitar 10 hari dirawat, kulihat wajah Kahfi masih mendung, murung. Obat-obat yang diberikan dokter sepertinya kurang cocok, sehingga dia membuang obat-obat tersebut. Kumohon kepada dokter Nita bersedia setiap saat dihubungi untuk berkonsultasi baik melalui telpon, sms, maupun tatap muka konsultasi atau mengganti obat yang kurang cocok.Untuk melancarkan komunikasi maka kubeli dan kupelajari buku-buku terkait masalah gangguan kejiwaan, ilmu yang masih asing bagiku. Tidak hanya kubaca tapi juga kutulis. Fokus pikiranku banyak tercurah untuk memperdalam pengetahuan tentang masalah ini. Kupikir ini hikmahnya, aku yang tadinya tidak tertarik menjadi tertarik, tidak (mau) tahu menjadi tahu.Mulai dari pertama, masalah aliran sesat yang aku tidak (mau) tahu menjadi tahu, kupelajari buku-buku dan informasi terkait, kemudian masalah berbagai pengobatan alternatif yang selama ini tidak pernah kugubris akhirnya kudatangi satu persatu, dan sekarang masalah penyakit gangguan kejiwaan, kukumpulkan referensi terkait, kupelajari dan kemudian kucoba membuatnyamenjadi sebuah proposal penelitian.
Setiap hari kupelajari kata-kata yang cukup menarik dari beberapa referensi.
Gangguan jiwa seperti halnya penyakit umum lainnya disebabkan beberapa penyebab yaitu faktor bio-psiko-sosial. Masih banyak masyarakat menganggap penyakit gangguan jiwa berbeda dengan penyakit fisik, bahkan menganggap orang yang terkena gangguan jiwa termasuk keluarganya disebabkan karena mendapat kutukan sehingga harus disingkirkan bahkan patut dihina. Label negatif seperti penyebutan “orang gila” secara tidak disadari merupakan stigma negatif yang diciptakan manusia sendiri. Manusia yang menciptakan label negatif tersebut adalah masyarakat yang tidak mengerti tentang penyakit gangguan jiwa sehingga enggan mengurus keluarga atau orang lain yang mengalami gangguan jiwa (Arif, 2006). Stigma memiliki konsekuensi negatif yang mematikan.Masyarakat yang merendahkan, menghina orang sakit inilahmenurut Emha Ainun Najib adalah orang gila yang sesungguhnya (Harian Surya, 1992).
Menurut Nabi Muhammad SAW, orang Gila ialah orang yang berjalan dengan sombong, memandang orang dengan pandangan yang merendahkan, membusungkan dada, berharap akan surga Tuhan. Tapi berbuat maksiat, yang keburukannya membuat orang tidak aman, dan kebaikannya tidak pernah diharapkan (al-majnun haqq al-majnun) (Bagus Utomo, 2011).
Karena merasa begitu rumitnya dalam proses pengobatan Kahfi, karena sudah berapa dokter tempat berkonsultasi namun obatnya masih belum juga cocok. Kemudian aku melakukan koresponden via sms dengan teman yang baru kukenal yang bekerja di RS Soeharto Herjan dokter Rafli (bukan nama sebenarnya), dokter Ahli Jiwa asal dari Palembang yang juga ahli main musik.
“Pertama-tama aku salut atas kebolehan hobby awakmembuat orang hanyut dalam
alunan saxophonenya dalam acara kemaren. Kalau tidak berkeberatan ado yang nak ku konsultasikan via emaildengan awak.”
“ alhamdulillah… aku meraso tersanjung, silakan yuk dengan senang hati.”
Lalu aku bebas mendiskusikan dengan dokter tersebut tentang masalah Kahfi.
“Dinda Rafli, anakku Kahfi sudah makan obat tetapi masih belum ado perubahan, masih malas, mengurung diri. Dulu dikasih obat dari dokter Fuad dan juga dokter Nita tapi reaksi badannyo jadi kaku pecak robot, kadang lemes, kadang begerak mondar mandir dak berenti, ayuk kesiannian... lalu dak galak makan obat apo-apo lagi, dibuangnyo, tapi tambah terlihat kacau pikirannyo dan pernah ngomong nak bunuh diri bae.”
“Sabar yuk…aku akan berusaha bantu ayuk semampu yang pacak kulakuken. Kagek kujelasken sedikit tentang penyakit ini, meski aku yakin ayuk banyak tau jugo. Kalu Kahfi pacak diajak nemui aku, kito buat janji.”
“Alhamdulillah…” Aku merasa agak plong karena bisa leluasa berkonsultasi dengan ahlinya wong kito.







