Bangkitlah anakku Hari esok masih ada

Terbaru1115 Dilihat

Organisasi Islam Under Ground

Hampir dua tahun berlalu, selama Kahfi dalam pendidikan di SMU boarding school aku terus berpikir dan mencari tahu apa yang terjadi dengannya dalam peristiwa hilangnya selama dua hari pada saat dia mau ujian SMP. Dari Kahfi sendiri susah menggali info yang runut karena dia sendiri tidak tahu, tidak mengerti dan juga seperti ada rasa takut untuk bercerita. Makin lama kulihat dia makin sering bengong, melamun, solat berjam-jam kalau sedang di rumah. Paling kalau dipancing sedikit-sedikit dengan nada yang datar tanpa emosi dan pada moment yang tepat ada sedikit keterbukaan, baru bisa keluar info sedikit.

“Waktu Kahfi ikut ustadz Darma guru ngaji tempo hari, berangkatnya jam berapa dari kos an ustadz?”

Pulang sekolah diajak umar ke ustadz, diajak ustadz pergi, mobil sudah jemput”

“diajak kemana mau apa, katanya”

mau perdalam ilmu khusus untuk Kahfi”

“Umar ga ikut?”

“ Ga, kata ustadz Umar ga usah, Kahfi aja”

“ Kahfi kok mau?”

“ Iya ustadz baik orangnya, ramah perhatian

kira-kira dibawa kemana?”

“Ga tau, Kahfi tertidur di mobil, lagian mata ditutup kain hitam”

“Mobilnya kecil apa besar dan ada berapa orang dalam mobil?

“Mobil kayak mobil ibu, orang bicara sepertinya 3-4orang”

anak-anak, apa dewasa?” tanyaku dengan menahan rasa ingin meledak amarah

“Dewasa”

“di mobil, Kahfi ga diapa-apain?”

“Ga, tidur, dibangunin, buka tutup mata sudah gelap”.

“Lama juga ya di perjalanan?”

“Hmm….”

“Kahfi ga takut waktu itu?’

“Iya takut, tapi mau gimana”.

“Teruus…?”

“Iya sampai rumah istirahat, ada banyak orang”

Owh… teruss?”

“Yaa ga tau orang-orang bicara apa, Kahfi kecapean, ya sudahlah!”.

Katanya sambil memejamkan mata, nampaknya sudah tidak mau ditanya lagi”.

Pada kesempatan lain aku pelan-pelan bertanya lagi.

“Kahfi nginap di sana di kasih makan ya? Itu rumah apa masjid?

“nasi bungkus, rumah kayu tinggi

“Ooo… orang-orangnya gimana?”

“ baju gamis, koko, yang jenggot panjang kasih ceramah”

“tentang apa?”

agama Islam

“ semalaman itu?”

“ iya tengah malam tidur, besoknya sambung”

“ ga bosan dengar ceramah terus menerus?”

“ Kami ga duduk terus, ngikuti apa perintahnya suaranya keras, bentak-bentak, suara kita harus keras, kepalkan tangan. Ada hafalan amalan diulang-ulang

“ngomong apa?”

“yaa kayak bersumpah gituuu ….. supaya selamat dunia akhirat.

“Untuk apa?”

“Untuk masuk Islam!

“Owh… Ya Allah. Sekarang amalannya gimana?”

Yaa harus terus ga boleh lalai”

“Kalau lalai?”

“iyaa ga boleeh, sudah bersumpah kok, gimana sih bu ini?”.

Katanya sambil membelalakkan matanya padaku. Kemudian kulihat dia mulai melamun, bengong lagi. Kalau sudah begitu sikapnya, aku tidak terus bertanya lagi karena pernah dia tercetus kata-kata ketus yang sangat mengagetkan dan menyakitkanku:

“Ibu ga ngerti, karena masih kafir, belum hijrah!!

“Kahfi ga boleh ngomong kayak gitu sama ibu, nak….”

“Iya, orang kafir kan boleh dilawan!”.

Ya Allah….astagfirullah…..!”

Sementara itu akupun terus mencari info tentang aliran sesat itu. Akhirnya mulai terkuak ada suatu aliran Islam bawah tanah yang merekrut orang-orang untuk dimanfaatkan termasuk anak-anak. Ya Allah…

Kubeli dan kubaca beberapa buku terkait ajaran itu. Persis. Cara-cara mereka membaiat dan mengkafir-kafirkan orang seperti yang diceritakan Kahfi. Sementara itu di siaran-siaran tv pun mulai membahas masalah itu. Beberapa orang melakukan testimoni baik sebagai korban, maupun yang diangkat sebagai petugas atau pejabat dalam organisasi itu, seperti ustadz Darma. Suamiku juga bersedia diwawancarai di TV menceritakan tentang peristiwa Kahfi diculik yang sampai sekarang masih berpengaruh pada kejiwaannya. Negara mulai ramai mempertimbangkan untuk kemudian akhirnya melarang ajaran itu. Kudengar beberapa pentolannya di Indramayu ditangkap. Alhamdulillah…

Tapi anakku Kahfi, nampaknya betul-betul terserap ajaran itu ke dalam jiwanya yang masih sangat polos. Aku sangat bingung apa yang harus kulakukan?

Tinggalkan Balasan