31.LIKA LIKU JEJAK PERJALANAN 3
Bismillah.. hidup ini dinamis, bahkan bisa sangat dinamis, selalu saja berubah dan kadang seolah disetting mulai dari awal. Kuterima saja kondisi Kahfi yang sudah bercerai, meski istrinya masih tinggal dalam satu lingkungan dengan kami karena masih menyusui anaknya (cucuku). Yang penting bagiku agar mereka semua sehat terutama cucuku Muhammad Rafanda atau Rafa, dan akupun yang sudah lansia bisa terus sehat walafiat dapat mengurus serba serbi kehidupan mereka. Badai kehidupan masih terus berlangsung, sekali lagi kuyakinkan diri bahwa semua atas izin Allah, meski apa yang kuinginkan belum terwujud, mungkin ada maksud lain dari Allah pasti yang terbaik.
Kondisi kejiwaan Kahfi setelah bercerai semakin fluktuatif, bertingkah aneh-aneh dan makin sering emosional, memukul-mukul dinding, menendang pintu, tidak tertib minum obat, tidak bisa tidur, subuh baru tidur. Siang jadi malam, malam jadi siang, duduk merenung berjam-jam, cuek, susah diajak bicara, merokok dan ngopi banyak. Hal ini membuatku sedih dan selalu khawatir. Namun aku tetap berusaha menjaga agar obatnya tetap diminum secara tertib, meski kadang-kadang sulit karena Kahfinya yang kadang malas dan merasa tidak butuh obat. Aku sudah berjaga-jaga jika sampai relapse/kambuh nomor telpon ambulans sudah disiapkan untuk minta dijemput.
Bayi Rafa juga sering sakit, air susu ibunya tidak keluar lagi sedangkan minum susu botol kurang mau, badannya kurus masuk di border line ke arah gizi buruk. Berapa kali dikonsulkan ke klinik tumbuh kembang anak, ke dokter ahli gizi, susu diganti, daftar menu lainnya dicoba. Selain itu kondisi kejiwaan Rafa yang usia 2 tahunan sering melotot dan menjerit marah pada ibu dan pada ayahnya. Akhirnya dalam beberapa bulan ada dua kali Rafa dirawat di rumah sakit di infus karena panas dan dehydrasi. Yang lebih memperihatinkan lagi sikap Yenny nampak tidak begitu serius dalam mengurus Rafa dan makin cuek dengan Kahfi yang juga nampak tidak suka dengan Yenny. Mereka nampak saling membenci. Bahkan Yenny mengatakan Rafa kemungkinan terkena masalah kejiwaan seperti ayahnya.Astagfirullah….
“Yenny.. Rafa jangan terus dikasih pegang HP main game, belum waktunya, dia perlu ditemani mainan anak-anaksecara fisik, lari-lari di lapangan, main sepeda, manjat-manjat di jaring tali outbond yang sudah dibuat khusus untuk Rafa.”
“Rafa suka gak mau kalau diajak main di lapangan, kata ayahnya biar aja Rafa main Hp.”
“Ayo Rafa main sama nenek, nih bolanya ooi banyakbanget, coba main sepeda yuk…huuuii inii tangkap, tendang…”
Aku selalu berusaha mengajak Rafa main lari-lari dan sepedaan di lapangan depan rumah, kulihat badannya lumayan sehat kuat dan mau makan minum.
Suatu ketika Kahfi mendatangiku dan berkata.
“Bu.. Kahfi ingin kawin lagi, sudah lebih 2 tahun bercerai resmi dengan Yenny.”
“Kahfi dan Yenny apakah tidak ada keinginan untuk rujuk? Kasian sama si Rafa.” kataku
“Gak ada keinginan, Yennypun bilang gak mau lagi kembali, dan bilang silakan aja kalau Kahfi mau kawin lagi.” jawab Kahfi.
“Ooo gitu…. Terus… calonnya sudah ada?”
“Belum… tolong ibu yang cariin yang kira-kira cocok. Mungkin kalau Kahfi kawin dengan orang yang cocok bisa tenang.”
“Yang penting Kahfi sehat dulu ya, minum vitaminnya gak boleh dikelang-kelang. Cari istri gampang.. Tapi yang cocok itu gampang gampang susah, kecuali kalau Kahfi sudah stabil, mandiri.”
“Iya stabilnya itu mungkin kalau sudah ada pasangan yang cocok.”
Kemudian pembicaraan dengan Kahfi itu kudiskusikan dengan kakaknya Hanafi dan sepupunya Gina seperti berikut.
“Mungkin juga betul Kahfi bisa pulih jika ketemu pasangan yang cocok.” Kata Gina.
“Iya… tapi dimana dan bagaimana cara mencari pasangan untuk Kahfi?”
“…….. apakah mungkin kalau kita cari di kampung kita?. Ada sekolah SMK perawat disana, guru-gurunya banyak kita kenal. Mungkin saja ada yang cocok.”
Lalu kami mulailah pencarian itu. Ada 2 orang guru yang masih gadis. Yang satu sudah ada pacarnya, yang satu masih kosong sudah putus pacar. Kami minta tolong seorang keluarga (Lily) untuk minta fotonya yang lumayan cantik dan diperlihatkan ke Kahfi. Kahfi setuju asalkan gadis yang bernama Rita itu mau dan bisa ketemu dulu dengan Kahfi untuk berkenalan dan penyesuaian (taaruf). Lalu diaturlah…, sekitar 10 hari kemudian Rita ditemani Lily datang ke Jakarta. Selama 3 hari mereka di Jakarta, jalan-jalan ke Taman Mini dan ke Mall, lalu mereka menyimpulkan bahwa mereka cocok satu sama lain dan berkeinginan menikah.
Karena masih ada ganjalan dihatiku maka kuajak Rita diskusi bersama Hanafi, Gina dan Lily. Kuceritakan kondisi Kahfi secara singkat mulai dari awal sampai dengan saat itu.
“Kami mengharapkan Kahfi bisa pulih, baik punya istri ataupun tidak. Jika punya istri kami harapkan istrinya berperan dalam membantu kesembuhan Kahfi. Mudah-mudahan jika memang Rita setulusnya mencintai Kahfi, itu akan terlaksana karena Rita sebagai guru perawat sedikit banyaknya tahu tentang masalah ini.” Kataku
“Namun jika Rita ragu, masih ada waktu Rita untuk berpikir dan bisa dibatalkan. Sebuah perkawinan kami harapkan bisa selamanya, suka dan duka dijalani bersama. Ibu tetap berusaha membantu jika kalian ada kesulitan.” Sambungku
“……… Baik bu, saya sudah mengerti maksud ibu. Sejauh ini dalam pergaulan kami beberapa hari di sini saya tidak melihat hal-hal yang aneh pada Kahfi. Kami sudah saling menyukai, dan saya tetap mau maju. Saya akan terima Kahfi apa adanya dan berusaha semampunya untuk membuatnya pulih dan bahagia.” Jawabnya
“Alhamdulillah… kalau begitu. Tentunya kalau Kahfi bahagia, Rita juga bahagia. Kami juga akan senang melihat kalian bahagia.”
Perencanaan pernikahanpun mulai dimatangkan…..










