Di laman YPTD berbagai macam rentak juga ragam dan cerita dari literasi menulis. Semua ini untuk memberikan peluang kepada setiap generasi,untuk ikut menjalinkan silaturahmi lewat ajang literasi menulis di laman YPTD. “ Yang lisan akan sirna yang akan abadi benar adanya menulis ” . Ini kata bijak dari Bapak Said Surung Hutapea. Tujan dari bahasa bijaknya,bahwa ucapan lisan jika kita bicara atau kita utarakan pada hari ini akan hilang dan tiada tanda juga jejak yang menjadi sebuah kenangan keabadian dalam kehidupan. Akan tetapi sebuah tulisan yang kita tulis akan senantiasa terus diingat dan melekat sampai akhir hayat dari generasi ke generasi berikutnya. Setiap yang ditulis adalah sebuah liputan yang nyata dalam kehidupan sehari hari disetiap lingkungan. Maka menulis suatu kebahgiaan yang tida habis habisnya.
Bahasa bijak dari Bu Nani Kusmiyati ” Berjuang untuk mengangkat para penulis mewujudkan impian mempunyai buku “. Sosok inilah yang telah mendarah daging disetiap perjalanan hidup Ayahnda. Beliau akan terus membantu semua teman-teman untuk menerbitkan buku bersekala ISBN. Wai merasa ini bukan perkara yang mudah. Dimata Ayahnda yang tepenting bagai mana kebahagian agan dirasakan oleh orang lain dari bantuan kita.
Inspirasi bahasa bijak dari Sukma Gultom ” Tak melulu berupa materi,tetapi dengan kita diberi kesehatan, dipertemukan dengan orang orang hebat, orang orang baik, teman teman yang begitu peduli dan saling memahami,itupun adalah berkat (berkah) “. Dari bijak bahasanya,bahwa Ayahnda adalah orang yang telah memiliki semua itu. Semua ada pada dirinya dalam koredor tetap rendah hati juga rendah diri. Ini membuktikan betapa pentingnya keperibadian kita untuk orang disekeliling kita,agar mereka merasa senang juga terbantu,segala sesuatu yang berkaitan dengan menulis bisa dicapai,yaitu dengan diterbitnya sebuah buku.
” Memajemukan dan memakmurkan masjid “. Ustazd Sudarko lisan bahasa bijaknya yang ditulis untuk Ayahnda. Terlihat nyata pergerakan Ayahnda tidak saja pada literasi menulis,namun kemakmuran untuk umat juga tetap dilakukan dan dilaksanakan,karena semua itu adalah ilmu kebaikan. Wai sangat bangga sekali bisa berceloteh bersama sama orang bijak yang akan melahirkan generasi penurus yang hebat beriman,bertaqwa juga berakhlak mulia. Wai salut pada ayahnda Thamrin Dahlan.
Untaian bahasa bijak jiga di kemas sebaik mungkin oleh Bu Yuni Hidayati ” Belajar bagaimana kita bisa diterima orang lain. Belajar bagaimana memahami perasaan dan keinginan orang lain. Usia bukan halangan untuk tersus berkarya “. Baha bijak ini menyapa Wai atau kita semua,bahwa menulis adalah suatu pekara yang mudah. Kemudian bagai mana kita dapat mengimplementasikan dalam kehidupan sehari hari melalui menulis. Tidak hanya sekedar diterima akan tetapi kita juga harus bisa masuk kedalam lingkungan tidak nyatanya mereka untuk kita jadikan sebuah kenyataan. Semua ini telah berhampiran dan tertanam dengan nyata pada Ayahnda Thamrin Dahlan. Tetap melayani,memberikan berbagai macam kontribusi untuk semua kalangan penulis penggiat literasi Negeri ini.
” Tidak akan ada habisnya jika berbalas pantun,ibarat makan sambal meskipun terasa pedas di lidah, akan dicoba dan terus dicoba ” Ayahnda Thamrin Dahalan tidak hanya menggiatkan literasi menulis,namun ayahnda juga sosok pemerhati di dunia pantun. Ingin rasanya Wai belajar pantun bersama ayahnda. Malu rasanya jika wai tak bisa berpantun,karena latar belakang Wai orang Melayu. Pantun juga adalah kearifan lokal orang Melayu dari sejak dahulu. Bahasa bijak tentang pantun yang dikemukakan oleh Miftahul Hadi. Sudah sangat jelas,apapun literasi yang menjadi khazanah supa semua kearifan lokal yang ada di Negeri ini tidak akan lekang dan hilang di bumi. Kita lah bersama sama yang harus terus menjaga titipan dari nenek moyang kita. Jangan sampai zaman yang berubah semua kearifan lokal kita hilang dan generasi penerus tidak mempelajarinya juga melestarikannya.
Dewi Leyly Fibrianti mengatakan dalam bahasa bijaknya ” Terima kasih untuk mimpi saya yang tak hanya berhanti di angin “. Bahasa bijak ini menggambarkan bahwa impian yang ingin kita gapai haruslah berdampingan dengan keyakinan juga kesungguhan. Kemudahan dari Ayahnda Thamrin Dahlan sudah ada didepan mata,tetapi kita malu untuk bertanya. Kitalah yang harus memberikan penguatan pada diri kita sendiri,dan orang lain akan membantu memberikan motivasi yang menambah untuk memperkuatkan keinginan dan kesungguhan kita dalam melakukan suatu karya. Jika kita sering bersama sama pasti keinginan yang baik,yang kita idamkan akan muncul didepan mata kita. ” Siapa sungguh sungguh ia dapat,siapa yang tidak sungguh sungguh ia akan terlamabat dan telat “.(Raja zainol afandi). Kepuasan bagi seorang penulis dimana tulisannya akan menjadi sebuah saksi nyata dalam berinteraksi melalui literasi menulis.
” Buku adalah mahkota “. (KBBI: sesuatu yang dihargai atau yang dijunjung tinggi). Sepintas tentu saja pikiran menerawang karena mahkota lazim dikaitkan dengan ratu “. Sahabat penulis Syaiful W. Harahap bijak dalam bahasanya dibuku Thamrin Dahlan 70 tahun Rekam Jejak Literasi YPTD ,Artinya semua penulis akan merasakan sesuatu yang teramat berharga dari pikiran pikirannya untuk ditulis sehingga dijadikan sebuah buku. Buku juga merupakan makanan mata,hati,pikiran bahkan semua jiwa raga,karena siapa yang rajin membaca buku maka ilmunya akan bertambah. Dalam arti kata suatu perbuatan atau tindakan yang baik. Mencerminkan pemikiran penulis penuh dengan insfirasi untuk menumbuh kembangkan suatu karya.
Dari kata kata bahasa bijak teman literasi YPTD baik kaula tua juga muda akan selalu terikat pada penekanan bahwa menulis itu suatu harga yang dinilai seperti mahkota yang ada pada kepala raja,mahkota tersebut amat berharga nilainya. Agar mahkota ini tetap terjaga,maka harus ada generasi generasi yang peduli untuk meraih mahkota tersebut. Semua itu telah ayahnda wujudkan dengan hati yang ikhlas. Bahasa bijak lainnya “ jika tangan kanan memberi maka tangan kiri harus diam “. Sikap yang bijak ini terus menerus dilakukan ayahnda pada semua kalangan.
Sahabat penulis yang bijak,Wai menulis kata kata bijak dari bahasa orang hebat YPTD,untuk membuka mata pada semua kalangan,bahwa menulis itu sangat asyik. Adakala pikiran zahir dan batin kita lapang,longar tiada beban. Wai adalah penulis pemula,akan tetapi rasa mider,ketakutan,ketidak percayaan,ketidak puasan,ketidak yakinan sama sekali tidak melekat pada karakter Wai. Karena apa ? Karena Wai bertegur sapa bersama orang hebat YPTD lewat tulisan. Semua tulisan di laman YPTD mengandung makna untuk dibaca juga dihargai. Inilah kelebihan dari Penggiat Literasi Menulis Ayahnda Thamrin Dahlan.
Di buku ke-50 Ayahnda Thamrin Dahlan.Bahasa indah nan bijak dari orang bijak telah dimuat di buku tersebut dari bahasa Nurwendo dengan bahasa bijaknya “ candu “. Menulis menurut bahasa Wai anak pesisir pulau ibarat seperti minum kopi,jika satu hari kita tidak minum kopi kepala kita akan terasa pusing,mulut juga terasa tiada bertenaga. Ketika kopi sudah kita rasakan atau kita minum maka akan terasa mudah pikiran itu untuk berpikir apa yang harus dilakukannya. Jika Wai tak menulis akan terasa hampa pada diri pribadi Wai. Wai merasa ada yang kurang. Jika wai menulis semua sarap anggota tubuh Wai bekerja untuk memberikan makan melalaui menulis. Itulah pepatah jika kita sudah kecanduan untuk terus menggiatkan literasi menulis.
Pada kesempatan menulis 40 hari tanpa jeda dengan julukan Karena Menulis Aku Bahagia juga memberikan sebuah kesan dan pesan yang teramat berarti dari semua kalangan penulis bijak,penulis hebat YPTD. Berbagai macam bahasa bahasa bijak yang dikemukakan dilaman YPTD sebagai daya tarik,motivasi,inspiratif untuk semua kalangan. Semua yang ditulis memberikan kesan dalam kehidupan sehari hari agar tetap memberikan sebuah manfaat yang berguna. Tulisan dari Bapak Al Johan berkumandang bahasa bijaknya dari kata Nabi kita Nabi Muhammad SAW, “ barang siapa menunjukkan sebuah kebaikan,maka ia akan mendapat pahala seperti pelaku itu sendiri “. Harapan ini juga keinginan ini telah dimiliki sosok ayah sebagai pemerhati dunia penulis juga keagamaan. Ayahnda Thamrin Dahlan sudah memikirkan apa yang harus dilakukannya ketika masa purna bakti. Akhirnya masa bakti tersebut diberikan untuk membahagiakan khalayak orang dari berbagai daerah. Sungguh luar ayahnda.












