Ketika duduk di sekolah rakyat (SR) saya menyenangi mata pelajaran Bahasa Indonesia. Rasanya bersemangat sekali ketika guru menyuruh membuka buku pelajaran “Bahasaku” meminta untuk membuat karangan. Bahannya diambil dari serangkaian gambar sekitar 4 gambar kadang-kadang 6 gambar tentang berbagai hal. Ada tentang wisata alam, cerita binatang , peristiwa sehari-hari dan sebagainya.
Berdasarkan gambar itu murid-murid diminta untuk menulis cerita tentang apa yang terjadi dalam setiap gambar. Jika telah selesai guru meminta beberapa anak secara bergiliran untuk maju ke depan kelas membacakan hasil karyanya. Ada yang dapat menyusun cerita dengan Panjang dan ada yang hanya singkat saja. Ada yang membacakan apa yang mereka tulis dengan menarik, ada yang hanya sekedarnya terkesan tergesa-gesa karena malu dan tidak ingin berdiri lama di depan kelas dan ada pula yang lucu mengundang tawa serentak dari semua teman-teman di kelas. Setelah selesai setiap anak membacakan cerita yang ditulisnya tak lupa guru memberi pujian, kadang-kadang menyediakan hadiah sederhana, bahkan terkesan lucu karenanya hadiahnya berupa kerupuk atau jajanan lain serta meminta murid-murid lain bertepuk tangan dengan meriah memberi semangat teman-temannya yang tampil ke depan kelas. Pokoknya suasana kelas menjadi dinamis penuh keceriaan.
Sekarang ketika membaca tentang pembelajaran yang efektif, teringat kembali pengalaman masa kecil ketika duduk di sekolah rakyat itu yang sekarang berganti nama dengan sekolah dasar (SD). Terbayang sosok guru yang memberi pelajaran dengan penampilannya yang menarik, dan pandai membuat suasana belajar di kelas menyenangkan dan penuh kegembiraan yang kadang-kadang berubah menjadi gaduh karena berbagai tingkah laku murid-murid mengekspresiakan perasaan masing-masing dengan penuh kebebasan. Sosok guru bernama pak Sukmara ini memang menarik. Orangnya ramah, wajahnya selalu tersenyum dan selalu menyapa murid-murid dengan akrab. Dengan menampilannya seperti itu ia banyak disenangi murid-murid dan kehadirannya di kelas selalu ditunggu-tunggu.
Pak Sukmara ternyata dalam proses pembelajaran menerapkan cara pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan belajar murid-murid sebagaimana yang diharapkan. Murid-murid diajar bagai mana menata jalan pikiran secara tertatata dan mengekspresikan pendapatnya melalui bahasan tulis dan Bahasa verbal dengan baik.
Dalam Model pembelajaran efektif ini memperhatikan kualitas pembelajaran, tingkat pembelajaran dan ganjaran serta waktu. Kualitas pembelajarannya merujuk pada aktivitas-aktivitas yang dirancang dan tindakan-tindakan yang dilakukan pembelajar dan peserta didik, termasuk di dalamnya bahan-bahan atau pengalaman belajar (kurikulum) serta media yang digunakan. Efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), manjur atau mujarab, dapat membawa hasil.
Jadi dalam pembelajaran efektif ada kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju. Efektif berkaitan dengan terlaksananya semua tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan waktu, dan adanya partisipasi aktif dari warga belajarnya. pembelajaran yang efektif memudahkan siswa untuk mempelajari sesuatu yang bermanfaat seperti fakta, keterampilan, nilai, konsep, dan bagaimana hidup serasi dengan sesama, atau suatu hasil belajar yang diinginkan.
Ketika pak Sukmara melaksanakan proses pembelajaran, media yang digunakan adalah gambar. Ternyata melalui gambar yang dilihat murid-murid diajak untuk berpikir kritis, mengembangkan imajinasi serta menata jalan pikirannya serta melatih berkomunikasi dengan baik. Salah satu teori yang terkait dengan hal pembelajaran yang efektif adalah Teori belajar Herbart yang disebut juga dengan teori apersepsi. Teori ini merupakan satu teori belajar yang berpusat pada tanggapan atau ide. Didalamnya menjelaska aspek alpha zon kondisi menyenangkan yang harus ada disetiap tata muka dalam peroses belajar. Ada Warmer yang dilakukan untuk mengaitkan isi pembelajaran sebelumnya dengan yang akan diberikan, Pre-teach sebagai informasi awal pengantar memasuki isitopik pembelajaran baru yang akan diberikan dan Scene Setting yaitu cara yang dapat dipakai guru untuk menarik perhatian siswa pada awal pembelajaran. Juga merupakan aktivitas yang dilakukan guru dan siswa untuk membangun konsep awal pembelajaran sebelum menuju materi inti pembelajaran. Selain itu, dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran. Siswa diajak untuk memahami materi yang dipelajarinya atas kamauannya sendiri.
Dewasa ini sarana untuk menerapkan pembelajaran yang efektif semakin lengkap. Para pengajar dapat memanfaatka berbagai media sebagai alat mempermudah penyampaian isi pembelajaran melalui cara-cara yang lebih kreatif dan inovatif. Namun penggunaan teknologi untuk berkomunikasi digitalpun memerlukan penyiapan sumber daya manusia sebagai pengajar yang berfokus pada tidak hanya mengajar melainkan juga menghayatkan apa yang diajarkan. Semoga sistem untuk menyiapkan tenaga-tenaga pengajar ini mendapat perhatian yang lebih besar. Karena ada atau tidaknya perhatian yang diberikan oleh siapapun, guru tetap menjadi “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang rela berkorban untuk mencerdaskan anak bangsa. (Abraham Raubun)










