TERSEKAT DI DUNIA DIGITAL

Terbaru321 Dilihat

Bagi generaasi melinial bergelut di dunia digital dengan menggunakan beragam perangkat di dalamnya bukanlah suatu hal yang asing lagi. Mereka dapat menggunakan berbagai alat cangging berbasis teknologi dengan terampil untuk menyelesaikan semua kebutuhan dengan cepat dan mudah.

Lain halnya dengan generasi “kolonial” alias generasi dari masa lalu yang masih tertinggal di era digitalisasi ini. Kemajuan dan perkembangan teknologi yang begitu cepat nampaknya menimbulkan hambatan yang penuh dengan pergumulan untuk menyesuaikan diri beradaptasi dalam tuntutan  kehidupan sehari-hari. Memang dunia digital sudah menjadi realitas kehidupan manusia dari hari-kehari. Lewat dunia digital semua kegiatan menjadi hemat waktu, hemat tenaga dan biaya. Boleh dikata dunia digital merupakan gambaran umum yang terkait dengan modernisasi beserta peralatan yang ada di dalamnya.

Mau tidak mau, suka tidak suka kita dipaksa untuk menerima, mengikuti dan menerapkannya dalam menjalankan berbagai keperluan yang dibutuhkan dalam kehidupan masa kini. Saya pribadi sebagai generasi dari masa lalu,mengalami hal itu. Ini bermula dari Hasrat menulis yang sudah ada sejak lama. Memang pengalaman menulis masih sangat minim meski ada beberapa tulisan yang sudah pernah dibuat. Namun menuliskannya hanya berdasarkan naluri tanpa mendapat bimbingan dan arahan yang tepat.

Peluang untuk mewujudkan Hasrat menulis akhirnya datang juga lewat komunitas literasi. Melihat dan membaca berbagai tulisan buah pikiran karya pegiat literasi ini, sayapun memberanikan diri untuk mencoba menuangkan pemikiran dalam bentuk tulisan. Sarana berbasis digital untuk memuat dan membagi tulisan yang dihasilkan bagi khalayak sudah tersedia. Namun ternyata sebagai generasi “kolonial” yang masih ingin mengarungi era komunikasi digital ini terasa tidak mudah. Semisal untuk masuk ke dalam web-site yang tersedia dengan mengikuti prosedur yang ada juga harus ditempuh secara berkali-kali, tidak bisa sekali jadi dan hampir-hampir kehilangan asa dan patah arang.

Meski dengan terseok-seok akhirnya berhasil juga. Ini berkat dukungan dan dorongan semangat yang diberikan oleh para pegiat literasi yang luar biasa. Rasa peduli terhadap pegiat pemula sangat dirasakan. Hal ini patut mendapat acungan jempol. Ibarat mobil tua denga nisi bahan bakar super saya mulai merintis untuk menghasilkan beberapa tulisan pendek yang lazim disebut artikel. Semangat semakin dipacu karena nasihat-nasihat terus mengalir menyulut dan mencuatkan hasrat yang lama terpendam.(Abraham Raubun)

Tinggalkan Balasan