BERKUNJUNG KE NEGERI ASMAT
Abraham Raubun
Tanggal 23 Oktober 2017, pukul 10.00 WIT (Waktu Indonesia Timur), KRI Banjarmasin bernomor lambung 592 mengangkat jangkar. Kapal perang ini bergerak dengan anggun di atas riak air laut biru Arafuru meninggalkan dermaga pelabuhan Dobo di kepulauan Aru menuju Papua bagian Selatan. Anggota Rombongan Ekspedisi NKRI berjajar rapih di sisi lambung kapal, membalas penghormatan anggota TNI angkatan laut dan Rombongan pemerintah daerah yang memberikan hormat selamat jalan melepas Rombongan Ekspedisi dari dermaga pelabuhan. Ini sudah menjadi SOP atau prosedur tetap setiap kali Rombongan Ekspedisi arung samudra ini meninggalkan setiap titik pelabuhan yang disinggahi.
Setelah bergiat di wilayah Kota Dobo selama 2 hari, lokasi sasaran yang dituju berikutnya adalah kabupaten Asmat di bagian Selatan provinsi Papua.
Berlayar semalaman, pagi hari KRI Banjarmasin 592 melego jangkar di tengah laut karena kapal besar tidak bisa masuk untuk merapat ke dermaga Agats.
Pasalnya lokasi yang akan dicapai harus malalui sungai yang tidak begitu dalam dan sewaktu-waktu air bisa surut.
Tim kami menjadi robongan pertama yang diberangkatkan dari kapal. Diangkut dengan 2 landing Craft Tank (LCT) sejenis kapal kecil khusus untuk pendaratan pasukan. Sedangkan komandan kapal dan beberapa staf Kementerian yang mendampingi Rombongan selama Ekspedisi berlangsung menyusul Rombongan kami dengan menggunakan helikopter.
Kami harus menempuh perjalanan selama lebih kurang 2 jam. Setengah jam menempuh laut lepas, dan satu setengah jam menyusur sungai untuk mencapai dermaga pelabuhan Agats.
Ibukota kabupaten Asmat terletak di Agats. Nama Asmat juga menjadi salah satu suku yang ada di kabupaten ini, yakni Suku Asmat, yang merupakan penduduk asli kabupaten Asmat. Jumlah penduduk kabupaten Asmat berkisar 144.764 jiwa.
Suku Asmat ada yang tinggal pedalaman di hi daerah gunung atau berbukit-bukit. Ada juga yang tinggal di pesisir di dataran rendah sepanjang pantai yang tertutup hutan.
Suku Asmat dikenal juga dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Bahasanya beragam, berbeda satu sama lain dalam hal dialek, juga cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang berada di antara Sungai Sinesty dan Sungai Nin serta Suku Simai.
Kami tiba di dermaga Agats sekitar pukul 10.00 WIT. Hati mulai was-was melihat kondisi wilayah. Begitu kering dan gersang, tidak terlihat ada satupun kendaraan, hanya motor-motor elektrik yang banyak terlihat lalu lalang dan diparkir di pelataran dermaga.
Ketika kami bertanya kepada petugas yang ada di dermaga mengapa tidak ada satupun mobil yang terlihat kami baru tahu kalau memang dikabupaten itu tidak ada kendaraan roda empat atau roda dua berbahan bakar bensin. Tidak heran kalau yang kami lihat hanya motor-motor elektrik yang digunakan untuk alat transportasi di wilayah itu.
Akhirnya kami harus mengangkut barang bantuan dan Peralatan untuk melaksanakan kegiatan dengan menggunakan gerobak kayu dan ditolong penduduk setempat. LCT kembali ke KRI Banjarmasin untuk mengangkut Rombongan kedua.
Sekitar pukul 11.00 WIT kami berkumpul di lapangan dekat pelabuhan. Disana Rombongan Bupati Dan masyarakat kecamatan Asmat sudah berkumpul. Berpakaian tradisional lengkap dengan asesorisnya, sebagian dari kaum lelaki bersenjata lengkap panah dan tombak. Teriakan-teriakan dalam bahasa daerah nyaring berkumandang memenuhi angkasa sebagai sambutan para tetamu yang datang.
Suasana semakin meriah ketika suara helikopter membelah angkasa yang membawa rombongan Komandan KRI Banjarmasin datang mendekat siap untuk mendarat. Upacara adatpun digelar, beberapa pejabat yang datang mendapat kalungan noken, tas khas suku Papua dan hiasan kepala.
Setelah itu semua Tim mulai bergiat menuju lokasi yang sudah ditunjuk. Masyarakat sudah banyak menunggu untuk menerima bantuan.
Kami Tim Kesehatan membuka Pos pengobatan dan memasang beberapa tangki penampung air hujan. Memang air sulit didapat, tidak ada sumber air. Untuk minum penduduk harus membeli air dalam kemasan dan untuk keperluan mencuci dan memasak mereka menggunakan air hujan yang ditampung dalam tangki-tangki penampung air hujan atau pergi kesungai untuk mandi.
Untuk makan umumnya mereka menanam umbi-umbian, mencari hewan yang hidup di hutan, sungai atau di rawa-rawa, ada Ikan, biawak dan sebagainya. Namun dari beberapa penduduk kami mendengar keluhan hutan-hutan mulai banyak berkurang, sudah beralih jadi lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Mereka tidak dapat lagi berburu atau mencari umbi-umbian yang dulu banyak di hutan.
Peran gereja katholik sangat besar. Kegiatan-kegiatan di bidang Kesehatan, ekonomi, pendidikan dan keagamaan bagi masyarakat banyak dilakukan.
Sungguh penduduk asli hidup dalam keterbatasan ekonomi, hanya pendatang dari provinsi lain seperti Jawa, Sulawesi yang kondisi ekonominya lebih baik karena mereka membuka usaha atau bekerja sebagai Pegawai pemerintah daerah.
Kami bergiat sampai sekitar pukul 20.00 WIT. Setelah itu kembali ke dermaga untuk menunggu LCT yang mengangkut rombongan kedua dari KRI Banjarmasin.
Namun setelah lama kami menunggu di dermaga pelabuhan, rombongan ke dua tidak kunjung datang. Menjelang pukul 22.00 WIT rombonganb tiba. Ternyata LST mengalami musibah, kandas di tengah sungai ketika menuju ke dermaga akibat air sungai yang surut. Akhirnya harus menunggu air pasang untuk dapat bergerak melaju ke arah dermaga.
Rombongan kedua harus menginap untuk bergiat di pagi hari keesokan harinya. Kami tetap kembali ke kapal dan tiba sekitar pukul 24.00 WIT tengah malam.
Di Hari kedua, pukul 06.00 kami berangkat kembali menuju Agats. Dua LCT melaju mengangkut rombongan. Kegiatan dihari ke dua jauh lebih padat karena kami harus bergerak ke beberapa lokasi untuk melayani penduduk yang sakit.
Dihari kedua ini kami sempat menikmati suasana pameran kerajinan Asmat. Pemeran ini digelar setiap tahun. Awalnya atas prakarsa gereja Khatolik di sana, kemudian didukung oleh pemerintah daerah. Beragam kerajinan mulai dari noken tas khas Papua ada yang terbuat dari benang, Ada dari kulit kayu. Harganya berkisar antara Rp.25.000-Rp. 250.000- yang cukup mahal terbuat dari kulit kayu gaharu yang harum baunya. Selain itu ada pernak pernik asesoris dari kerang laut dan sebagainya. Ukir-ukiran kayu yang unik beraneka ragam. Harganya cukup mahal ada yang mencapai harga puluhan juta. Untuk yang harganya mahal biasanya uang hasil penjualan diatur oleh pihak gereja, karena kalau diserahkan sepenuhnya kepada pemilik ukiran sering digunakan secara tidak karuan dan keluarga tidak kebagian. Kami bertemu dengan penduduk yang menumpang KRI Banjarmasin ketika kami tanya tujuannya hanya mau jalan-jalan ke Kota Merauke sehabis mendapat uang hasil ukirannya yang laku terjual dengan harga 15 juta rupiah. Tapi mereka hanya membawa sebagian setelah dibagi dengan keluarga, sisanya masih dipegang pihak gereja.
Sore hari semua Tim kembali ke kapal. Tim kami berangkat pertama karena sudah selesai bergiat. Satu LCT masih menunggu Tim yang belum selesai bergiat.
Kami tiba di kapal sektar pukul 20.00 WIT kemudian beristirahat. Tengah malam kami terbangun karena mendengar suara ribut-ribut di bawah. Setelah keluar dan turun kebawah kami melihat ada kapal tangker Pertamina sedang menurunkan rombongan kedua. Dibelakangnya ada LCT yang ditarik. Rupanya waktu meninggalkan dermaga selepas dari muara sungai mesin mengalami gangguan dan mati. Radio komunikasipun tidak berfungsi sehingga tidak dapat menghubungi KRI Banjarmasin untuk meminta pertolongan. Akhirnya LCT terombang ambing mengapung terbawa arus di laut lepas. Baru sekitar pukul 21.00 WIT ditemukan oleh kapal tangker Pertamina yang kebetulan melintas Dan melihat LCT yang sedang terombang-ambing. Lalu rombongan yang berada di LCT dipindahkan ke kapal dan LCT ditarik menuju KRI Banjarmasin. Ternyata kapten kapal Tangker rupanya kawan sekolah Komandan KRI Banjarmasin Letkol (L) Stanley Leikehena di SMA kota Ambon. Kami bersyukur meski Ada beberapa anggota wanita yang shock dan pingsan tapi semua selamat. Itulah salah satu pengalaman dalam mengikuti Ekspedisi NKRI 2017 Arung Samudera Papua bagian Selatan, sebelum menuju kabupaten Merauke mengakhiri perjalanan untuk bergabung dengan tim KOPPASUS yang lebih dulu tiba untuk mengikuti upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda yang dihadiri Menteri PMK. Puan Maharani disamping Menkes Nila Moeloek dan menteri PPAP, Pemberdayaan Perlindungan Anak Dan Perempuan Yohana Susana Yembise didampingi, Gubernur, Panglima Kodam dan Kapolda Papua.
Usai upacara rombongan bersama menteri-menteri menuju titik nol di perbatasan Papua dan Papua Nugini untuk bergiat bakti sosial bagi masyarakat di daerah perbatasan.
Keesokan harinya rombongan Ekspedisi berlayar meninggalkan Merauke, membelah laut biru menuju Jakarta dengan singgah sehari di Makassar. Tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan anggota Ekspedisi untuk berbelanja cinderamata dan menikmati coto Makassar, palu basa, palu butung, sop Saudara, dan sop konro yang menjadi unggulan dunia kuliner kerajaan si Ayam Jago dari Timur, Sultan Hasanuddin. Rombongan tiba di dermaga Kolinlamil Tanjung Priok pada tanggalotanggal 3 November 2017 disambut Komandan Kolinlamil dan jajarannya beserta pejabat Kemen PMK. Usai upacara semua anggota bubar jalan menuju pemukiman masing-masing.








