MENGHAYATKAN APA YANG DIAJARKAN

Terbaru477 Dilihat

Belajar memiliki makna suatu perubahan. Perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan atau dalam bahasa ilmiahnya perubahan yang terjadi harus menyentuh aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Ketiga hal itu harus terjadi secara optimal dalam suatu proses belajar. Untuk mencapai hasil yang optimal maka orang yang mengajarkan harus dapat menghayatkan apa yang diajarkan dan orang belajar harus dapat menghayati makna dalam pesan yang disampaikan.

Kata menghayati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya mengalami dan merasakan sesuatu (dalam batin).
Kata dasar menghayati adalah hayat. Memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga ada suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya.

Sering kali atau tidak jarang kita jumpai perubahan ketiga aspek itu tidak berjalan secara sinkron. Ada kalanya orang menjadi tahu tetapi tidak mau. Sebagian tahu dan mau tetapi tidak mampu.

Mengapa bisa demikian? Mereka yang mendalami ilmu komunikasi pasti memahami hal ini. Karena apa yang dikatakan belum tentu didengar. Bisa saja orang yang menerima pesan tidak tertarik, tidak memperhatikan, dan mungkin juga tidak mengerti kata-kata yang asing bagi mereka, bahkan bisa jadi ada juga gangguan-gangguan teknis pada alat atau media yang digunakan dan gangguan psikologis lain. Selain itu apa yang didengar belum tentu dikerjakan karena mungkin tidak berminat karena dianggap tidak menguntungkan bagi dirinya. Sedangkan apa yang dikerjakan belum tentu juga hasilnya memuaskan. Bahkan bisa gagal yang membuat orang menjadi berputus asa, sehingga ada nasihat bijak yang mengatakan untuk menjadi sukses seseorang harus mampu berdiri satu kali lebih banyak dari dia jatuh.

Karena itu mengajar merupakan seni dan pengetahuan (science and art) yang harus dikuasai oleh seorang pengajar agar dapat menghayatkan dan membuat seseorang yang belajar dapat menghayati apa yang diajarkan.

Dalam proses belajar ada yang dinamakan daur pengalaman berstruktur belajar. Dimulai dari pengalaman atau penghayatan. Awalnya dimulai dengan pengalaman yang telah ada warga belajar. Bisa juga dibuat agar warga belajar mengalami atau menghayati sesuatu yang akan dipelajari. Tahapan kedua berupa pengungkapan yaitu warga belajar mengungkapkan atau menampilkan apa yang telah di alami atau dihayatinya. Tahapan ketiga pengolahan atau analisis. Pada tahap ini warga belajar mengolah atau menganalisis apa yang dialami atau diungkapkan tersebut. Kemudian warga belajar menyimpulkan apa yang telah diolah atau yang dianalisis baik tentang isi, topik belajarnya maupun nilai manfaat bagi dirinya.Ini dinamakan tahap penyimpulan. Pada akhirnya warga belajar sampai pada tahap penerapan atau penyerapan yaitu warga belajar menerapkan pengalaman belajar yang telah disimpulkan itu atau menyerapnya sebagai bekal bagi dirinya.

Proses kelima tahapan itu dibantu oleh pengajar yang dapat berperan sebagai fasilitator dan nara sumber dengan mendayagunakan atau memanfaatkan fasilitas belajar yang ada disekitarnya.

Banyak proses belajar yang bersifat andragogis bagi pembelajaran misalnya bagi orang dewasa yang memiliki hakikat dan karkteristik belajar tersendiri. Model proses belajar perlu dipilih dan digunakan dengan tepat agar partisipasi warga belajar tinggi. Karena belajar memang bukan semata-mata merubah pengetahuan, sikap dan keterampilan saja tetapi lebih luas dari itu.

Perubahan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan (kognitif, afektif, psikomotorik) dapat berkenaan dengan masalah kehidupan dan kebutuhan, pendayagunaan berbagai sumber daya atau fasilitas yang tersedia disekitar untuk kepentingan belajar, acara belajar yang patut dan tepat sesuai harapan atau tujuan belajar, isi kegiatan belajar yang dibutuhkan, hasil belajar yang dicapai serta tindak lanjut pemanfaatannya.

Proses belajar pada hakikatnya tidak lepas dari kerangka pikir (paradigma) input (masukan)-proses-output (keluaran). Artinya siapa yang belajar dan apa perangkat belajarnya, bagaimana cara pelaksanaan kegiatan belajarnya serta apa tujuan atau perubahan yang diharapkan terjadi bagi warga belajarnya.

Tentu saja dalam menghayatkan apa yang diajarkan sangat terkait dengan cara dan media yang digunakan serta karakteristik dan gaya belajar peserta ajar. Karena metode dan media yang tepat akan memudahkan apa yang diajarkan sehingga perubahan-perubahan baik pengetahuan, sikap dan keterampilan dapat dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan.

Karena itu dapat dikatakan mengajar itu bukan hanya menyampaikan materi namun lebih dalam dari itu menghayatkan apa yang diajarkan.

 

Tinggalkan Balasan

1 komentar