Menarik menyimak keunikan karya Sang Pencipta. Banyak hal diciptakan secara berpasangan: laki-laki dan perempuan, siang dan malam, gelap dan terang, baik dan buruk, kaya dan miskin, serta banyak lagi. Seakan semesta mengajarkan bahwa keseimbangan lahir dari keberadaan dua sisi.
Perhatikan hal sederhana ini: cinta terdiri dari lima huruf, demikian pula benci. Dusta dan benar sama-sama lima huruf. Sedih dan riang pun demikian. Ambil dan kasih, jumpa dan pisah, semuanya berjumlah lima huruf. Seolah hidup selalu menyediakan dua kemungkinan yang setara—tinggal manusia memilih sisi mana yang akan dijalani.
Makna yang dapat dipetik dari berpasangan bukan sekadar tentang cinta, melainkan tentang komitmen untuk saling melengkapi, menghargai perbedaan, dan bertahan dalam badai bersama. Berpasangan adalah ruang aman, tempat komunikasi, kesabaran, dan kepercayaan menjadi fondasi untuk bertumbuh—bukan untuk saling mengubah secara paksa, melainkan untuk menerima kekurangan dengan lapang dada.
Nilai ini meluas dalam kehidupan sosial melalui toleransi. Toleransi adalah sikap saling menghormati dan menerima perbedaan—baik dalam pandangan, agama, budaya, maupun pendapat. Ia bukan berarti menyetujui semua hal, melainkan mengakui hak orang lain untuk berbeda tanpa merendahkan atau memaksakan kehendak.
Dari sikap inilah lahir keharmonisan sosial, terjaganya persatuan dan kesatuan bangsa, serta tercegahnya konflik. Sebab pada akhirnya, kekuatan berpasangan bukan hanya tentang dua insan, tetapi tentang kemampuan hidup berdampingan dalam keberagaman.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)









