DUA PULUH TAHUN BERSAHABAT DENGAN DIABETES

Terbaru710 Dilihat

Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom

Tahun 2000 ketika usia tepat memasuki kepala 5 saya mendapat hadiah tak terduga. Usai menghantar rombongan tamu dari Papua study banding tentang Posyandu di daerah Subang, ketika tiba di hotel tempat menginap mendadak suhu tubuh meningkat. Meski sudah menelan obat pemberian seorang kawan dokter, temperatur tubuh ogah lungsur.

 

Kondisi seperti itu terus bertahan sampai tiga hari. Terpaksa tanda SOS dikibarkan meminta bantuan pasukan dari rumah di Jakarta untuk datang ke Bandung tempat saya bertugas memboyong pulang. Niatnya mau pulang ke rumah biar bisa beristirahat, tapi atas perintah Komandan di rumah langsung dirujuk ke hospital. Alhasil berbaringlah istirahat selama 2 Minggu. Hasil pemeriksaan suspek thipus ulah si bakteri salmonela tiphy. Tapi bukan cuma itu, hasil pemeriksaan darah juga memberi bonus badan jadi pabrik gula alias gula darah di atas normal.

Pantas saja diawal-awal masih tugas di lapangan sudah lama ada gejala tidak biasa tapi tidak dirasa. Mungkin karena terlalu semangat bekerja, abai pada ilmu yang pernah dipelajari meski sebagai seorang Ahli Gizi padahal tanda-tanda itu khas sekali. Rupanya ibu segala penyakit datang bertandang. Tanpa sadar pola hidup terutama pola makan diam-diam dan dengan perlahan mengundang ini datang. Sekali penyakit ini datang bertandang, selamanya ia enggan untuk hengkang.

Jadi jika tiba-tiba muncul gejala cepat lapar, rasa haus yang tidak biasanya dan sering buang air kecil, sering merasa lemas, penglihatan kabur jangan abai. Itu perlu diwaspadai mungkin kadar gula dalam darah meningkat. Gejala khas penyakit ini dikenal juga dengan istilah tri-poli, poli phagi, poli dipsi dan poli uri. Tidak jarang disertai berat badan yang turun drastis dan luka yang sukar sembuh atau badan terasa sering lemas atau lesu. Apa pasalnya? Bisa jadi ini karena hormon insulin tidak mampu diproduksi oleh kelenjar pankreas atau karena tugas hormon insulin yang dihasilkan tidak lagi bekerja dengan efektif atau produksinya tidak cukup.

Kadar gula darah yang tinggi melebihi batas normal dikenal sebagai Diabetes Melitus yang sering disingkat dengan Diabet, Diabetes, DM atau kencing manis bahasa rakyatnya. Jika kadar gula darah ini tidak terkontrol atau terkendali, dia bisa melahirkan berbagai penyakit sebagai komplikasinya yang merambah ke seantero organ tubuh seperti ke mata, ginjal, syaraf, jantung, pembuluh darah dan banyak lagi sasarannya organ-organ tubuh yang dapat diserang. Tidak heran kalau Diabet ini mendapat nama julukan ibu segala penyakit.

Memang untuk penyakit ini sampai sekarang tidak ada istilah sembuh, yang ada gula darah harus terkontrol tidak boleh melonjak tinggi atau melorot rendah. Keduanya sama-sama mengandung resiko, jika terjadi jatuh pingsan itu sudah pasti. Bayangkan jika kita sedang mengendarai mobil atau motor bisa berakibat fatal.

Kasus Diabet di Indonesia terus merangkak naik. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menemukan prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 10,9 persen yang diprediksi juga akan terus meningkat. Di tahun 2020 tercatat ada 10.8 juta orang menderita Diabet.

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), memprediksi bahwa angka ini diperkirakan meningkat menjadi 16,7 juta orang orang tahun 2045.

Memperhatikan hal-hal tersebut, tak ayal International Diabetes Federation (IDF)pun menyatakan Indonesia berstatus waspada diabetes karena menempati urutan ke-7 dari 10 negara dengan jumlah pasien diabetes tertinggi.

Data WHO juga menunjukkan di Asia Indonesia menduduki peringkat ke dua setelah India yang memiliki penderita Diabet tertinggi. Di Indonesia pada tahun 2000 saja tercatat sekitar 8.426.000 jiwa penderita. Angka ini diprediksi akan semakin meningkat pada tahun 2030, mencapai 21.257.000 jiwa itu kata WHO juga.

Milihat prediksi angka-angka penderita diabet yang dikemukakan oleh berbagai sumber tersebut yang cenderung naik berlipat-lipat ini berarti lampu kuning bagi kualitas Kesehatan bangsa Indonesia yang harus disikapi dengan hati-hati.

Tipe Diabetes sendiri ada dua. Tipe 1 dan tipe 2. Tipe 1 yaitu Diabetes yang terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi hormon insulin yang bertugas membantu penyerapan gula dalam darah menjadi energi. Sementara pada kondisi diabetes tipe 2, kadar gula darah yang naik diakibatkan kurang optimalnya produksi atau penyerapan insulin oleh tubuh.

Yang paling banyak di Indonesia adalah kasus diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat.

Pada kasus diabetes tipe 1,
Sel-sel pankreas yang dinamakan sel beta yang tugasnya menghasilkan hormon insulin rusak akibat sistem imun. Akibatnya, produksi hormon insulin dalam pankreas menurun atau bahkan berhenti total. Padahal, insulin merupakan hormon yang berperan penting dalam proses metabolisme perubahan glukosa menjadi energi. Insulin membantu sel-sel tubuh untuk menyerap glukosa dan mengubahnya menjadi energi.

Mengapa sistem imun ini menyerang sel beta pankreas, walahualam belum diketahui.
Faktor-faktor seperti genetik, riwayat penyakit keluarga, dan infeksi virus tertentu diduga memengaruhi kondisi ini.

Berbeda dengan tipe 1, diabetes tipe 2 disebabkan oleh hilangnya kemampuan tubuh dalam merespons insulin. Kondisi penyebab diabetes ini dikenal sebagai resistensi insulin.

Pankreas masih tetap memproduksi insulin, hanya saja sel tubuh tidak lagi sensitif alias tak mampu mengolah hormon insulin yang hadir. Lama kelamaan pankreas menjadi lemah Karena kerja terus menerus memprediksi insulin tapi tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh merubah glukosa menjadi energi. Akibatnya, terjadilah penumpukan gula dalam darah. Apa sebab terjadi resistensi? Setali tiga uang sama juga penyebabnya belum jelas, tapi kondisi ini sering berkaitan erat dengan faktor kelebihan berat badan (obesitas), jarang bergerak atau berolahraga, dan pertambahan usia. Hal-hal ini merupakan faktor-faktor resiko Diabetes.

Kapan kasus diabetes ditemukenali? Tipe 2 sebagian besar sudah terdeteksi pada masa anak-anak hingga remaja. Itu sebabnya kondisi ini disebut juga diabetes pada anak (juvenile). Sedangkan diabetes tipe 2 umumnya muncul pada orang berusia dewasa sekitaran usia 40 tahun. Akan tetapi, usia memang tidak bisa menjadi acuan pasti untuk mengenali perbedaan diabetes tipe 1 dan 2. Pasalnya, diabetes tipe 1 juga bisa dialami oleh orang dewasa. Begitu pun dengan anak-anak yang mengalami kelebihan berat badan berisiko tinggi untuk mengalami diabetes tipe 2.

Soal gejala pada kedua tipe ini, secara garis besar, tidak berbeda. Keduanya relatif menunjukkan gejala yang sama. Hanya saja perbedaan gejala yang terlihat adalah waktu awal kemunculan serta seberapa cepat gejala berkembang.

Gejala Diabetes tipe 1 biasanya muncul lebih kentara dan cepat dalam waktu beberapa minggu.
Sebaliknya, kemunculan gejala diabetes tipe 2 terjadi secara perlahan-lahan. Bahkan di awal kenaikan gula darah, gejala tidak tampak jelas. Sebagian besar pasien diabetes tipe 2 baru mengetahui penyakitnya ketika tidak sengaja melakukan pemeriksaan diabetes.

Lalu bagaimana menghindari kunjungan ibu segala penyakit ini. Penderita Diabet harus dapat hidup normal bersama Diabet. Artinya seumur hidup harus menjaga dan mengendalikan kadar gula dalam darah dengan mengatur jenis, jumlah makanan dan waktu makan. Selain itu berolah raga secara teratur dan dibantu juga dengan obat-obatan yang dianjurkan dokter.

Pengalaman menunjukkan dapat terkendali dengan mengurangi asupan gula, menjadikan air putih minuman utama, taiso kata orang Jepang atau gerak badan. Batasi asupan karbohidrat (hidrat arang). Memang ini agak sulit karena pola makan orang Asia termasuk Indonesia berbasis karbo. Olok kejo kata orang Sunda alias boros nasi. Nasi sepiring penuh lauknya hanya sepotong yang penting kenyang, jauh dari yang namanya Gizi Seimbang. .

Sedapat mungkin jauhi makanan cepat saji, meski dimaklumi zaman kini hampir tidak mungkin dihindari. Berat badan jangan sampai berlebih. Hindari stres, kalau falsafah orang Jawa harus semeleh, berserah pada yang Maha Kuasa, bukan menyerah karena terpaksa. Ada juga anjuran meneguk secangkir teh atau kopi secara teratur.Kesemuanya merupakan upaya pengendalian diabetes yang cukup efeftif.

Disamping itu semua terpaan media juga gencar datang menggempur menawarkan kiat mengusir Diabet. Tidak salah dan itu sah-sah saja untuk mencobanya sesuai keyakinan masing-masing. Tetapi sebaiknya tetap melakukan konsultasi dengan tenaga Kesehatan atau ahli Gizi.

Jika memang sudah menjadi penyandang diabetes entah itu tipe 1 atau tipe 2, perlakuannya sama-sama harus menjaga kadar gula normal dalam darah. Namun rencana pengendaliannya berbeda. Untuk tipe satu butuh masukan insulin yang lazimnya lewat suntikan. Mengapa, karena sel-sel penghasil insulin rusak jadi perlu insulin pengganti yang tidak tersedia.

Pengendalian diabetes tipe 1 akan sangat bergantung dengan insulin, tidak bisa mengandalkan obat atau perubahan gaya hidup saja.
Sementara itu, penderita diabetes tipe 2 yang tidak memiliki gangguan produksi hormon insulin tidak selalu membutuhkan pengobatan insulin.

Pengobatan diabetes untuk tipe 2 lebih mengarah kepada perubahan pola hidup yang lebih sehat. Caranya dengan memperhatikan asupan makanan untuk diabetes dan menajalani olahraga secara rutin.

Jika diet dan pola hidup sehat berhasil menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 baik, maka konsumsi obat diabetes bahkan mungkin tidak diperlukan.

Namun, seseorang dengan diabetes tipe 2 bisa saja perlu injeksi insulin, apabila terjadi kegagalan fungsi sel beta pada pankreas.

Kondisi resisten insulin pada penderita diabetes tipe 2 bisa berbahaya bagi kesehatan pankreas. Semakin banyak produksi insulin berarti pankreas semakin banyak bekerja keras. Seiring waktu, sel beta di pankreas bisa mogok sampai akhirnya berhenti memproduksi insulin secara bersamaan.

Ketika saya keluar dari rumah sakit ada 4 hal yang dipesankan oleh dokter
untuk dilakukan agar tetap sehat. Pertama, penyakit ini jangan dimusuhi karena bisa bikin stress berkepanjangan membuat kita berputus asa dan menyesali diri. Kalau ini terjadi sistem metabolisme dalam tubuhpun menjadi kacau dan bisa memunculkan gangguan pada organ tubuh yang lain. Hal ini saya alami di awal-awal divonis Diabetes. Ada gangguan di ginjal, ritme jantung terganggu, tekanan darah meningkat. Karena itu kenalilah lebih dalam jati diri Diabetes ini agar kita terampil menanganinya secara mandiri. Pelajari seluk beluknya supaya paham gerak geriknya dengan memantau kadar gula darah secara teratur.

Meskipun sebagai seorang Ahli Gizi, saya disarankan mengikuti penyuluhan tentang diabetes. Pengetahuan dan keterampilan mengelola diabetes bisa diperoleh dari tenaga Kesehatan di rumah sakit atau di pusat-pusat pelayan Kesehatan lain. Meski ada sedikit rasa geli ketika disarankan berkonsultasi dengan Ahli Gizi, yah karena itu nasihat dokter saya ikuti saja. Saya berkonsultasi dengan istri yang memang juga seorang Ahli Gizi.

Kedua, ini menyangkut selera yaitu tentang makan. Disini mulai ada pembatasan bahkan bisa jadi pelarangan. Bahwa pola makan sehat merupakan komponen esensial dalam penanganan diabetes itu dinyatakan oleh International Diabetes Federation (IDF). Karena itu, penting bagi penderita diabetes untuk memilih makanan yang seimbang dan bervariasi, guna menjaga keseimbangan kadar gula darah dan menjaga kondisi kesehatan mereka secara umum.

Sejak keluar dari rumah sakit saya mulai merubah beberapa kebiasaan makan. Saya upayakan makan tepat waktu jangan sampai waktu makan terlewatkan, sehingga menjadi sangat lapar atau selera makan hilang akibatnya terjadi hypoglikemi gula darah sangat rendah.

Sumber karbo pun mulai saya pilih, lebih variatif tidak bergatung hanya pada nasi. Kadang Ubi, singkong, kentang, rotipun sedapat mungkin yang gandum yang lebih kaya serat. Makan makanan yang mengandung gula murni saya jauhi, boleh dikatakan tidak bersahabat lagi sama sekali. Buah dan sayuran lebih diutamakan.

Sesekali menggunakan pemanis buatan kalau lagi ingin minuman agar terasa manis. Biasanya minum teh tawar atau black coffee alias kopi pahit. Tapi lebih banyak minum air putih.

Kebiasaan makan sambil nonton TV atau ngemil sudah tidak lagi. Memang Karena terasa lapar ngemil ini kadang sulit dihindari. Berkaraoke merekam suara ketika bernyanyi jadi hiburan tersendiri, sebagai kiat menjauhi stress.

Pesan ke tiga rajinlah berolah raga secara teratur. Olah raga jalan pagi rutin saya lakukan paling tidak 4 kali dalam seminggu, setengah jam menempuh 2.5 km. Bergerak secara aktif. Jika memarkirkan kendaraan disuatu gedung atau tempat perbelanjaan misalnya, biasanya mencari jarak terdekat dengan pintu masuk. Sekarang mencari tempat yang agak jauh agar dapat bergerak cukup melangkahkan kaki. Dengan bergerak dapat membantu pembakaran glukosa dalam darah.

Pesan ke empat yaitu kalau pengaturan makan dan olah raga tidak terlalu menolong, mungkin perlu dibantu obat. Tentu saja ini perlu atas anjuran dan nasihat dokter

Dua puluh tahun sudah waktu dijalani hidup bersama diabetes tipe 2. Sedapat mungkin saya mematuhi keempat saran itu. Tidak mudah memang, terutama mengendalikan lidah dengan berbagai selera terutama untuk tidak menyantap makanan yang penuh ranjau membahayakan itu.

Namun, jika bukan karena berkat Tuhan semuanya ini tidak mungkin jadi kenyataan bisa mengendalikan ibu segala penyakit ini jangan sampai mengundang teman-temannya mengancam kesehatan selama 20 tahun lebih.

 

Tinggalkan Balasan