TIDAK CUKUP SEBATAS PAHAM STUNTING

Terbaru891 Dilihat

Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom

Pemerintah giat melancarkan berbagai upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Kebijakan menyongsong generasi emas masa depan salah satunya bertumpu pada penurunan angka kejadian gagalnya tumbuh kembang anak. Gagal bertumbuh Dan berkembang yang disebabkan oleh kekurangan asupan zat gizi dalam waktu yang lama. Bahkan terjadi dalam kurun 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK).

1000 HPK ini dihitung dari 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pada dua tahun pertama kehidupan anak yang dilahirkan. Jika terjadi gangguan, akan membawa masalah bukan hanya pada pertumbuhan fisik tetapi terutama pada perkembangan intelektual generasi di masa depan.

Istilah yang sedang gencar dicuatkan kini adalah “stunting” yaitu kondisi anak kekurangan asupan zat gizi secara menahun. Tanda-tandanya tinggi badan anak di bawah rata-rata. Anak sangat pendek tidak sesuai umurnya (kontet). Untuk menangani masalah ini pemerintah telah mematok target sebesar 14% pada tahun 2024. Upayanya tentu tidak mudah. Perlu dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh semua pemangku kepentingan.

Untuk menggapai kualitas sumberdaya manusia masa depan tentunya pemahaman masyarakat tidak hanya terbatas pada apa itu “stunting”. Penting juga memahami dan menerapkan pola makan yang berpedoman Gizi Seimbang dan gaya hidup sehat secara lebih komprehensif.

Tentang pola makan memang masyarakat Indonesia seperti juga halnya bangsa-bangsa di Asia diwarnai dengan tinggi nya mengonsumsi makanan sumber karbohidrat.

Terlebih di era modern yang didukung teknologi canggih, rekayasa pengolahan bahan makanan pun berkembang pesat. Disadari atau tidak jenis makanan yang memasok gula, garam dan lemak (GGL) sangat tinggi. Lihat saja di toko-toko serba ada atau mini-mini market makanan ringan dan minuman yang mengandung tinggi gula, garam, lemak dan tentu dilengkapi zat pengawet sangat berlimpah.

Jika pola makan dan gaya hidup sehat yang memang disadari untuk merubahnya tidak semudah membalikkan telapak tangan itu tidak giat digalakkan, maka besar kemungkinan generasi emas yang diharapkan bisa hanya jadi angan-angan.

Tentang pola makan dan gaya hidup sehat bisa belajar dari masyarakat Jepang. Informasi menunjukkan Angka Harapan hidup penduduknya rata-rata 84 tahun. Ada sekitar 2 juta orang dengan usia 90 tahun. Wanita lebih tinggi usianya, rata-rata 87 tahun lebih, sementara kaum lelaki  81 tahun. Sekitar 69% penduduk berusia 100 tahun atau lebih.

Apa gerangan yang menyebabkannya? Itu bukan semata-mata disebabkan oleh faktor genetik atau keturunan. Tapi pertama pola makan. Porsinya seimbang. Konsumsi Ikan lebih banyak dibanding daging merah. Jepang termasuk dalam negara yang tingkat konsumsi ikannya tinggi setelah China, Myanmar dan Vietnam.

Saat ini Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara penghasil produk perikanan terbesar. Jumlah produksinya 24 juta ton per tahun (Data 2019). Tetapi Konsumsi nasional pada tahun 2020 tercatat sebesar 56,39 kg/kapita. Relatif rendah dibanding potensi yang dimiliki. Di Jepang 140 kilogram per kapita per tahun.

Manfaat konsumsi Ikan yang banyak mengandung asam lemak tak jenuh tidak diragukan dalam menjegah penyakit jantung. Makanan laut lainnya seperti rumput laut yang kaya akan zat gizi mikro seperti Iodium, jadi kegemaran masyarakat Jepang. Tidak kurang dari 100 ribu ton rumput laut dikonsumsi dalam setahun. Ini bisa mencegah penyakit kekurangan Iodium yang berkontribusi signifikan terhadap rendahnya kualitas SDM.

Selain Ikan juga konsumsi sayuran dan buah-buahan segar yang kaya akan kandungan vitamin dan mineral masyarakat Jepang juga tinggi. Penggunaan GGL dibatasi, konsumsi produk olahan makanan pabrik rendah. Penduduk Jepang juga banyak minum teh kaya antioksidan yang dapat mencegah Kanker dan meningkatnya kadar kolesterol yang tinggi dalam darah.

Kedua, dari segi gaya hidup, orang Jepang sangat aktif. Tidak heran obesitas (berat badan berlebih) hanya 3.6%, nampaknya terendah di dunia. Dari sisi budaya para lansia sangat diperhatikan dan dihargai. Hal ini membuat perasaan para lansia penuh bahagia dalam hidup mereka.

Jaminan sosial bagi penduduk miskin cukup besar, demikian juga sistem Pelayanan Kesehatannya baik. Pemerintah mensubsidi sekitar 70% biaya Kesehatan bagi Masyarakat.

Intinya kualitas sumberdaya manusia sangat dipengaruhi oleh cara pemilihan jenis makanan, pengendalian makan serta gaya hidup sehat.

Menilik potensi, dan kemampuan Indonesia sebenarnya cukup tersedia dan tidak kalah dengan negara-negara lain. Pasalnya pernah ada masa-masa Indonesia menjadi sumber belajar tentang Kesehatan dan gizi bagi negara lain. Berbagai penemuan di bidang gizi banyak bermula dari Indonesia. Buktinya ada Lembaga Makanan Rakyat yang kiprahnya diakui dunia international. Namun kini kondisinya tertinggal dari banyak negara di ASEAN semisal Vietnam.

Indonesia juga memiliki beragam makanan tradisional yang memang dari sisi Kesehatan dan gizi cukup baik. Ini perlu digalakkan menjadi bagian dari pola makan yang menyehatkan. Selain itu pendidikan Gizi dalam keluarga menjadi sarana penting menerapkan pola makan yang baik dan sehat.

Pesan-pesan Gizi perlu lebih banyak disampaikan dengan lebih praktis dan sederhana. Sarananya banyak tersedia. Lewat budaya sastra misalnya, bisa dalam bentuk puisi atau juga pantun. Berikut beberapa contoh pantun berisi pesan-pesan terkait Gizi:

Kain dilepit di atas papan
Rapi diatur batik berkembang
Kalau berdiet bukan memantang makanan
Tapi mengatur asupan gizi seimbang

Batik dihiasi pandan bergurat
Dibuat paman di pekalongan
Baik mengonsumsi makanan berserat
Membuat sehat pencernaan

Nyamuk bukan sembarang nyamuk
Nyamuk penyebar demam berdarah
Gemuk jangan dianggap sembarang gemuk
Gemuk bisa membawa penyakit parah

Bunga mawar merah warnanya
Bunga melati harum baunya
Badan bugar apa sebabnya
Karena asupan zat gizi yang membuatnya

Anak bangsawan pergi ke pekan
Membeli belanak hendak digulai
Hendaknya jangan makan kebanyakan
Akibatnya Kesehatan terbengkalai

Teluk Bayur besar anginnya
Tempat biduk biasa ditambat
Buah dan sayur banyak vitaminnya
Membuat tubuh segar dan sehat

Bapak dan paman membuat jerat
Berharap punai akan terjerat
Banyak memakan makanan berserat
Akan membuat pencernaan sehat

Peluru dan senapan alat berperang
Bentuk perangkat penjaga diri
Perlu memakan sumber hidrat arang
Untuk memenuhi kebutuhan energi

Panas terik enaknya minum es kopyor
Nikmat sejuk serasa segar
Alangkah baik konsumsi daun kelor
Membuat tubuh sehat dan bugar

Kalau sanak ingin pergi ke Bekasi
Baiklah sanak memesan taksi
Kalau sanak ingin memahami Gizi
Baiklah tanyakan pada Ahli Gizi

Kakak dan emak pergi kepekan
Membeli pepaya dan tomat segar
Bijak-bijak memilih makanan
Pasti badan kan sehat dan bugar

Kuah pindang sedap di kecap
Dimasak gunakan kayu berarang
Buah pisang amatlah bermanfaat
Menjaga tubuh bugar Dan sehat

Merekah berseri bunga mewangi
Tumbuh lekat di atas karang
Berkah membagikan ilmu Gizi
Menambah pengetahuan wawasan pun berkembang

Kalau ada sumur di ladang
Baiklah sanak menumpang mandi
Kalau hendak berumur panjang
Baiklah memakan makanan bergizi

Mengarungi lautan berombak kuat
Berlayar arah menuju Bali
Mengurangi makanan berkarbohidrat
Kadar gula darah tentu terkendali

Kain tenun kain berikat
Dikenakan sebagai seragam
Kalau ingin berbadan sehat
Kendalikan asupan lemak, gula dan garam.

Tinggalkan Balasan