Tanah Sunda atau tatar Pasundan itu daerah yang didiami suku dan berkembangnya budaya Sunda. Cita rasa makanan tradisionalnya pun beragam. Ada tutug oncom, nasi timbel, karedok, ulukutek leunca dan banyak lagi.
Ada satu kombinasi bahan makanan yang sering jadi camilan. Entah ini hanya ada di seputar daerah Kota Bandung atau juga dikenal jadi kebiasaan di daerah Parahyangan lainnya.
Pasalnya makan mentinum atau ketimun, orang Sunda menyebutnya bonteng dengan kombinasi kerupuk. Sering ditemukan jika panen buah mentimun, di kebun mentimun itu sang pemilik kebun menyediakan kerupuk dalam kalengnya. Banyak rombongan anak-anak dan orang dewasa datang membeli buah ketimun yang lalu dimakan dengan kerupuk.
Ternyata banyak juga oenggemar camilan ini. Memang terasa asyik suasana di kebun mentimun itu ditambah kombinasi rasa kedua bahan makanan ini yang unik. Ada rasa segar, gurih, asin.
Mentimun, timun, atau ketimun dalam bahasa asingnya disebut “Cucumis sativus” merupakan tumbuhan yang menghasilkan buah yang sering digunakan sebagai sayur atau lalapan dan juga campuran buah rujak.
Mentimun mengandung banyak air serta beberapa zat gizi penting seperti vitamin C, vitamin K, magnesium, kalium, dan antioksidan serta tinggi serat. Dipercaya banyak manfaatnya antara lain menjaga kadar air dalam tubuh sehingga tidak terjadi dehidrasi atau kekurangan cairan dan meningkatkan kesehatan jantung, kulit serta menurunkan tekanan darah. Juga melembabkan, meredakan iritasi, dan mencegah jerawat. Zat Astringent dalam timun dapat membantu membersihkan pori-pori, mengurangi minyak berlebih, dan mencegah jerawat.
Buah Mentimun meski kerap dijadikan sayur, dikategorikan sebagai buah karena fungsi biologis tanamannya. Catatan referensi menunjukkan sejak 3.000 tahun lalu, tanaman ini telah dibudidayakan di India, khususnya di lereng gunung Himalaya. Kini mentimun ditanam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dan merupakan tanaman semusim yang menjalar atau merambat.
Derah penghasil timun terbesar di Indonesia adalah Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2021 saja Jawa Barat menghasilkan 148.272 ton timun. Tidak heran kalau kebiasaan makan ketimun dikombinasikan dengan kerupuk aci jadi kegemaran sebagian masyarakatnya. (Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom).






