JANGAN BIARKAN SEDIH JADI DEPRESI

Terbaru474 Dilihat

Di era tahun 70an ada lagu yang cukup populer di belantik musik Indonesia. Dilantunkan kelompok pemusik Panbers (Panjaitan Bersaudara). Lagu itu berjudul “Pilu”. Lagu yang menggambarkan kesedihan seseorang yang ditinggalkan oleh kekasih hatinya.

Setiap undividu tentu pernah mengalami sedih. Sedih itu memang emosi yang umum dialami manusia. Ada perasaan tidak senang, kecewa, atau kehilangan muncul sebagai tanda.

Pemicu rasa sedih bisa oleh berbagai peristiwa atau pengalaman menyakitkan yang membawa kekecewaan. Namun rasa sedih ini biasanya sementara dan dapat menghilang seiring waktu.

Ketika merasa sedih seringkali ada perasaan tidak bahagia, murung, atau lesu. Ada perasaan tidak berdaya, tidak mampu menghadapi suatu situasi. Terungkap lewat tanda-tanda fisik seperti menangis, mata berkaca-kaca, berlinang airmata atau bibir yang bergetar.

Kesedihan itu normal sebagai bagian dari kehidupan manusia dan merupakan respons alami terhadap peristiwa atau situasi yang menyakitkan. Tetapi hati-hati jangan sampai berlarut-larut dan berkepanjangan. Ini akan mengganggu aktivitas sehari-hari, harus segera dicari solusi untuk mengatasi.

Pasalnya sedih jika berlebihan dan tidak segera diatasi dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik. Perasaan sedih yang berlarut-larut itu seketika akan berubah menjadi depresi, stres, dan bahkan menyebabkan timbulnya gangguan kesehatan fisik lain. Gangguan tidur, sakit kepala, gangguan pencernaan bisa merajalela. Tidak jarang juga menyebabkan seseorang menjadi kurang motivasi, lebih suka menyendiri, dan berisiko bunuh diri.

Perasaan sedih muncul sebagai reaksi normal ketika seseorang mengalami stres. Biasanya bersifat sementara dan akan sirna ketika peristiwa sulit telah terlewati.

Ketika sudah jatuh kedalam depresi yaitu kondisi yang lebih dari sekadar perasaan sedih biasa, pikiran, perasaan, perilaku, dan kesehatan fisik seseorang pasti terganggu. Merasa cemas dan hampa sepanjang waktu tidak dapat dihindari. Rasa diri bersalah dan tidak berharga menghantui membawa penyesalan yang dalam. Minat terhadap segala hal menghilang, mudah marah dan tersinggung, sulit tidur atau justru terlalu banyak tidur. Selera makan menurun atau sebaliknya, nafsu makan terus meningkat sebagai kompensasi makan berlebihan.

Dalam kondisi yang lebih parah
timbul niat untuk menyakiti diri sendiri atau percobaan bunuh diri. Itu sederet masalah yang akan dihadapi bagi orang yang mengalami depresi.

Lalu bagaimana menghindarkan situasi saat hidup terasa sulit dan perasaan sedih datang melanda? Walaupun berbeda-beda pada setiap orang, namun ada beberapa cara yang dianjurkan untuk dilakukan guna membantu meringankan perasaan tersebut.

Bisa dengan rutin berolahraga dan istirahat yang cukup. Melakukan meditasi atau mandi air hangat sebelum tidur, jika sulit tidur. Menceritakan kesedihan (curhat) pada seseorang yang dipercaya atau konseling pada psikiater atau psikolog. Psikiater itu dokter spesialis kejiwaan yang dapat meresepkan obat jika diperlukan, sementara psikolog fokus pada terapi dan konseling. Mendekatkan  diri pada Sang Pencipta hidup ini merupakan hal penting yang mutlak dilakukan.

Diperkirakan ada sekitar 9,16 juta (1,4%) dari penduduk Indonesia mengalami kasus depresi.  Kelompok usia yang paling rentan mengalami depresi adalah anak muda berusia 15-24 tahun, dengan prevalensi 2%. Tercatat pula data dari survei kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan daerah Jawa Barat memiliki prevalensi depresi 3,3% dan ini merupakan angka tertinggi di antara provinsi lain.

Sekedar mengingatkan mungkin kata-kata bijak yang disampaikan Charles Bukowski ini dapat menjadi bekal dalam menghadapi hidup di era yang semakin menekan jiwa. “Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu selain dirimu sendiri, dan kamu layak diselamatkan. Ini perang yang tidak mudah dimenangkan, tetapi jika ada sesuatu yang layak dimenangkan maka inilah saatnya.” –

Kata bijak lain juga mengatakan: “Terkadang, hidup akan membuatmu terpuruk. Namun cepat atau lambat, kamu akan sadar bahwa kamu tidak hanya akan mampu bertahan, tetapi kamu juga seorang pejuang, dan lebih kuat dari yang kamu bayangkan.” Karena itu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, yang dibutuhkan hanyalah semangat, percaya diri dan pantang menyerah pada apa yang dicita-citakan”
(Abraham Raubun, B Sc, S.Ikom).

Tinggalkan Balasan