Work From Home

Terbaru808 Dilihat

Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom

Ketika virus Covid-19 melanda sendi-sendi kehidupanpun limbung. Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan dan sosial dilibasnya. Kegiatan di kantor, rumah ibadah, sekolah, tempat rekreasi bahkan pusat-pusat perbelanjaan ditutup. Sebagian perusahan terpaksa memutuskan hubungan kerja dengan banyak karyawannya. Sebagian pekerja lain, diharuskan bekerja dari rumah (Work From Home). Akupun termasuk salah satu yang harus WFH dan tidak masalah bagiku untuk bekerja dari rumah. Kupikir lebih banyak waktu luang untuk berkumpul dengan keluarga.

Di awal-awal nyaman rasanya, tidak ada beban pekerjaan mendesak. Kalaupun ada, tinggal menyelesaikan dan dikirimkan lewat email, beres. Semua bisa dilakukan dengan santai, bercelana pendek, T.shirt, atau sarung, sambil ngopi atau ngemil, tidak ada masalah.

Lewat seminggu, di akhir bulan mulai terasa ada rongrongan. Ada tagihan listrik, iuran RT, sampah, tagihan tilpon rumah disamping tagihan hp. Belum lagi anak-anak minta diisikan pulsa. Tak lama minta dibelikan kuota buat daring, pening juga rasanya menghadapi hal-hal itu yang datangnya bertubi-tubi. Sebelum WFH, aku tak pernah tahu atau jujur tidak terlalu peduli. Serahkan gaji, semua  beres jadi urusan istri. Apa masalah yang dihadapi istri mengurus itu semua, aku tak pernah tahu, bahasa kerennya “taken for granted” pasti beres dikerjakan istri. “Gojek…permisi…” terdengar suara seseorang di gerbang pagar, aku segera keluar. Paket kiriman berupa makanan, dalam tiga kantong plastik besar kuterima. Kutanya orang-orang dirumah siapa yang pesan semua itu, mereka hanya tertawa geli, sambil berkata “bapak yang pesan” aku terbengong, sambil memeriksa saldo Gopayku yang berkurang.

Tinggalkan Balasan