Minyak goreng yang sudah digunakan berulang kali dikenal sebagai jelantah. Ini sudah menjadi limbah. Lebih sering dibuang karena dianggap sudah tak berguna.
Tapi hati-hati membuangnya. Jangan sembarangan. Pasalnya dapat merugikan lingkungan. Semisal dibuang ke saluran pembuangan air bisa menimbulkan sumbatan.
Langsung ditumpahkan ke tanah pun mencemari lingkungan sekitar.
Pemakaian minyak jelantah yang berulang dapat merusak kesehatan. Jelantah yang digunakan berulang kali banyak mengandung senyawa karsinogenik seperti peroksida dan epioksida, yang terbentuk selama proses penggorengan. zat-zat ini berbahaya karena pencetus kanker.
Kalau jelantah ini mau dibuang caranya yang baik adalah biarkan dingin dahulu lalu simpan dalam wadah tertutup rapat buang ke tempat sampah
Tapi ada juga akal-akalan manusia. Tingkahnya menghimpun jelantah dari berbagai tempat, ada dari rumah tangga, hotel dan sebagainya. Lalu diolah kembali jadi minyak goreng untuk dijual sebagai minyak goreng curah.
Lebih bijak kalau jelantah ini didaur ulang. Ternyata jelantah dapat dijadikan lilin, sabun, pembersih lantai, pelumas, pupuk atau bahkan bahan bakar alternatif (biodiesel) dan produk lain.
Ambil contoh membuat pembersih lantai. Saring minyak jelantah, campurkan dengan larutan soda api (NaOH) yang telah dilarutkan dalam air, aduk rata, dan diamkan hingga terbentuk dua lapisan.
Lapisan bawah yang berbentuk sabun diencerkan dengan air. Tambahkan bahan pengental (HEC) dan bahan pembersih (Texapon) bisa ditambahkan pewangi dan pewarna sesuai selera. Jadilah produk pembersih lantai produksi sendiri.
Untuk membuat lilin, saring jelantah untuk menghilangkan kotoran dan bau yang tidak sedap. panaskan dengan api kecil atau sedang. Tambahkan parafin secara perlahan dan aduk hingga larut sempurna. Masukkan dalam cetakan sebagai lilin dekoratif atau lilin aromaterapi.
Tentu saja daur ulang jelantah atau pun bahan lainnya penting dilakukan karena jangan sampai menjadi sampah yang bertumpuk.
Negara yang dikenal sebagai penghasil sampah terbesar di dunia adalah China, disusul oleh Amerika Serikat dan India. Untuk mengatasi sampah ini China menerapkan teknologi modern dan juga meningkatkan sistem daur ulang.
Karena itu daur ulang bukan hanya benar untuk dilakukan bagi kepentingan lingkungan dan umat manusia di masa depan, tetapi juga dapat menghasilkan uang.
Potensi pemanfaatan daur ulang jelantah di Indonesia cukup besar. Setahun menghasilkan sekitar 200.000 hingga 300.000 ton minyak jelantah, bahkan mencapai 715 kiloton. Menurut “The International Council on Clean Transportation” ini sangat mungkin diolah menjadi biodiesel. Namun memang masalahnya bukan terletak pada bisa atau tidak, tetapi mau atau tidak.
(Abraham Raubun.B.Sc, S.Ikom)







