MENDULANG KENANGAN BERSAMA PINI SEPUH GIZI HEBAT

Terbaru186 Dilihat

Pagi itu di penghujung bulan Mei, tepatnya tanggal 31 Mei 2025 di rumah salah satu pini sepuh gizi di Jl. Kesehatan I nomor 19, nampak sudah berdekorasi ala negeri Sakura.

Tak lama terlihat satu persatu para tetamu berdatangan. Mereka adalah para Ahli Gizi yang usianya rata-rata sudah “seven up” alias 70 tahun ke atas.

Empat diantara para Ahli Gizi ini bahkan sudah mencapai kepala delapan. Ada 2 yang tertua berusia 89 tahun dan yang termuda 85 tahun. Namun masih tampak segar walau fisik sudah dalam keterbatasan.

Meski kata orang usia hanyalah angka namun sejatinya itu berkah Illahi yang patut disyukuri. Betapa tidak para Ahli Gizi yang sudah purna tugas mengabdikan diri di berbagai instansi pemerintah dan lembaga internasional memang berasal dari satu akar lembaga pendidikan gizi.

Kala itu memang lembaga pendidikan gizi hanya satu-satunya di Indonesia. Berlokasi di Jl. Hang Jebat 3 blok F III Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Kemudian dijadikan Politeknik Kesehatan Jakarta II yang punya jurusan gizi.

Kelompok alumninya sering menyebut diri “Gizi Hebat” alias Gizi Hang Jebat untuk membedakan dengan para Ahli Gizi yang dihasilkan Poltekkes Jurusan Gizi dari berbagai daerah.

Acara temu kangen ini yang juga dihadiri Sekjen Prof Trina Astuti dan sekretaris Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) ibu Zahrotia Akib, memang dirancang dengan acara salah satunya dalam rangka Peringatan Hari Lansia yang ditetapkan pemerintah jatuh pada setiap tanggal 29 Mei.

Disamping itu juga merayakan hari kelahiran dan hari ulang tahun pernikahan beberapa alumni yang mencapai perjalanan rumah tangga selama 48 tahun.

Kiprah para sesepuh gizi ini patut diapresiasi. Diantaranya ada Prof. (Em) Soekirman guru besar di IPB kini memasuki usia ke 89 tahun pada tanggal 2 Agustus tahun ini . Mantan deputi SDM di Bappenas ini sejatinya pantas menyandang julukan “Bapak Gizi Pembangunan”. Kegigihannya memperjuangkan eksistensi gizi diakui oleh kalangan birokrat dan cendekiawan di tingkat nasional dan internasional. Ia diakui para awak media sebagai sosok yang berjuang untuk gizi rakyat.

Ada ibu Asmira teman sekolah Prof Soekirman sejak SMP di Jawa Timur sampai menyelesaikan kuliah di Akademi Gizi di Bogor tahun 60an. Ibu yang satu ini juga menjelang usia ke 89 tahun di bulan November 2025. Dahulu mengelola program Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) dan pemberantasan Xeropthalmia akibat kekurangan vitamin A bersama lembaga internasional Helen Keller Indonesia (HKI). Bukan hanya itu, penggemar tokoh pewayangan Semar ini pun seorang pelukis handal. Beberapa ruangan di kediamannya dihiasi dengan lukisan hasil coretan kuas di atas kanvas dengan tangannya sendiri.

Ibu Susi Sutardjo dan ibu Murni Muhilal para tokoh yang berperan penting dalam mengembangkan pelayanan gizi rumah sakit di RS.Cipto Mangunkusumo dan RS. Kanker Dharmais. Rekam jejaknya dalam menanamkan pelayanan gizi yang profesional bagi para dietisien sungguh tak terlupakan.

Diantara para Ahli Gizi yang hadir terdapat dua pengusaha sukses. Mas Soegeng meski gagal di tatar akademi gizi tapi tetap berhasil menyunting sang istri mbak Wahyuni yang juga seorang Ahli Gizi mantan teman kuliah seangkatannya dulu. Bengkel dinamo jadi andalan usahanya di kenal di beberapa negara.

Mas Muljono Martoatmodjo yang didampingi sang “garwo” sigaraning nyowonya mbak Sri Tati akrab disapa ceu Etet, meski dianggap “mbalelo” ketika menjadi staf Akademi Gizi tapi akhirnya mencapai sukses di dunia usaha kuliner. Produk-produk bumbu yang dikembangkan merambah membus perusahaan kuliner bertaraf internasional.

Para lansia memang dianjurkan untuk banyak bertatap muka. Berkumpul bersilaturahmi dengan suasana yang ceria. Meski terkadang tak selalu mudah untuk melakukannya karena berbagai kendala fisik dialaminya.

Suasana ceria dipenuhi celoteh kawan lawas. Mencurahkan rasa rindu sambil sesekali mengungkap kenangan lama masa kuliah atau di tempat bekerja. Hidangan ala “Teppanyaki” siang itu cukup ramah lansia meski bernuansa menu negeri sakura namun terasa lezat di lidah.

Di penghujung acara cinderamata bagi para pini sepuh “Gizi Hebat, tak lupa dipersembahkan. Ini tanda kasih bagi jasa mereka yang telah mendidik dan membekali para mantan mahasiswa guna meniti karir di tempat bekerja.

Berfoto bersama agar jadi kenangan selamanya tentu tak lupa. Tulisan ini pun juga menuliskan keabadian yang jadi kenangan di masa datang. Sayonara. Bravo “Gizi Hebat”
(Abraham Raubun.B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan