Rempah-rempah atau bisa disebut rempah saja, dikenal sebagai tanaman atau bagian tanaman yang yang bersifat aromatik. Lazim digunakan dalam makanan, fungsi utamanya pemberi cita rasa.
Badan dunia Food and Agriculture Organization (FAO) mendefinisikannya sebagai bagian tumbuhan yang digunakan sebagai bumbu, penguat cita rasa, pengharum, dan pengawet makanan yang digunakan secara terbatas.
Sejak dulu rempah memang dikenal memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi di pasar Eropa. Di abad ke 17 komoditi perdagangan ini pada saat itu memang sangat mendatangkan banyak “cuan”.
Karena itu VOC tergila-gila berusaha menguasai perdagangan rempah. Produksi, distribusi dan penjualan dimonopoli. Karena ini tidak heran jika Belanda dengan VOCnya itu ngotot melakukan monopoli dagang di Maluku.
Beberapa kebijakan diterapkan.
Salah satunya yang disebut ekstirpasi yaitu hak menebang tanaman rempah-rempah milik siapa pun. Hal ini dilakukan jika hasil produksi melimpah dan berlebihan.Tujuan utamanya untuk mengendalikan pasokan dan menjaga agar harga rempah-rempah tetap tinggi di pasaran.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara produsen rempah terbesar di dunia, dengan sekitar 275 jenis rempah. Tetapi penghasil dan pengekspor rempah terbesar di dunia adalah India. Di tahun 2020 saja menghasilkan sekitar 1.49 juta ton rempah-rempah.
Rempah sangat beragam jenis. Ada yang berupa biji, buah, akar, batang, atau kulit kayu, memiliki aroma dan rasa yang tajam dan kuat. Selain memberikan rasa dan aroma masakan ada juga untuk pengawet.
Ada yang disebut rimpang seperti Jahe, kunyit, lengkuas, temulawak, kencur. Dalam bentuk biji dikenal Pala, lada (merica), ketumbar, jintan, adas, bunga lawang.
Juga berupa kulit kayu yang disebut kayu manis. Bahkan bunga dan daun seperti cengkeh, daun salam, daun jeruk, daun kemangi, daun pandan dan Vanili yang berbentuk buah.
Dari sisi manfaat kesehatan jurnal Untan mencatat rempah mengandung antioksidan, anti-inflamasi, dan membantu pencernaan.
Olahan rempah dalam bentuk minuman tradisional cukup banyak. Ambil contoh wedang uwuh khas dari Imogiri Yogya. Terbuat dari campuran berbagai rempah seperti jahe, kayu secang, daun pala, daun cengkeh. Kemudian diseduh dengan air panas. Unik juga namanya karena arti “uwuh” sendiri dalam bahasa Jawa adalah sampah.
Minuman ini dinamakan demikian karena tampilannya memang terlihat “semrawut” bagaikan sampah. Namun meski buruk rupa, kaya manfaat kesehatan dan memiliki rasa yang unik. Ada sedikit rasa manis dan pedas, dengan aroma yang segar.
Ada rempah yang paling dicari di dunia, yaitu kapulaga. Rempah ini dijuluki “Queen of Spice”. Ratunya Rempah-rempah, dan termasuk rempah termahal ketiga di dunia setelah safron dan vanili.
Begitu pentingnya peran rempah dalam kehidupan ini sehingga digunakan dalam kata bijak yang berbunyi:” Hidup tanpa bumbu bagaikan makanan tanpa rasa”
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)













