SIRIH PINANG SIMBOL HARAPAN JADI MANUSIA RENDAH HATI

Terbaru277 Dilihat

Pramudya Ananta Toer berujar  menulis adalah bekerja untuk keabadian. Lebih lanjut ia mengatakan “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”

Kata-kata itu membetik hasrat untuk menuliskan pengalaman perjalanan “blusukan” bersama almarhum mantan Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) dan Gubernur NTT, Piet Tallo. Sosok yang dikenal tegas dalam membenahi sikap malas dan mendorong semangat warga desanya untuk bekerja penuh tanggung jawab.

Sudah menjadi kegiatan rutin pak bupati ini untuk mengunjungi desa-desa di wilayahnya. Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang beribukota di Soe kini tercatat memiliki  266 desa dan 12 kelurahan yang tersebar di 32 kecamatan.

Ketika beberapa kali sebagai “Community Development and Capacity Building Officer” di Unicef,  saya sering mendampingi pak bupati Piet Tallo ini mengunjungi beberapa desa di kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Banyak pengalaman mengesankan tentang kiprah pak bupati terhadap masyarakat yang dijumpai di sepanjang perjalanan.

Beberapa peristiwa yang dialami berkesan dan melekat erat dalam ingatan, tak lekang ditelan waktu. Kadang terasa lucu tapi ada juga rasa iba yang diliputi kesadaran bahwa yang dilakukan itu demi kebaikan.

Semisal dalam satu perjalanan ke desa Oo, kecamatan Mollo Utara yang yang berjarak sekitar 30-40 kilometer dari Kota Soe membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Ditengah jalan ada beberapa peristiwa yang terjadi.

Pertama rombongan berjumpa dengan beberapa anak sekolah. Hari masih pagi, belum lagi pukul 10.00. Sontak mobil pak bupati berhenti. Anak-anak dipanggil dan ditanya mengapa sudah pulang. Anak-anak menjawab tidak ada guru. Segera kami maklum apa yang akan terjadi. Pasti sang guru akan dipanggil untuk lapor mengapa anak-anak disuruh pulang awal.

Tetapi anak-anak sekolah pun tidak luput dari tugas yang diberikan pak bupati. Mereka harus melafalkan Pancasila dengan tegas dan lancar. Bagi yang tidak hafal dan tersendat-sendat tamparan halus atau pelintiran  sudah tentu singgah di pipi dan telinga. Namun setelah itu ajudan dengan sigap membagikan buku dan alat tulis kepada anak-anak.

Peristiwa lain yang cukup kocak tapi juga mengundang rasa trenyuh terjadi ketika menuju desa. Seorang bapak duduk berjongkok di pinggir jalan sambil makan sirih pinang.

Tentu saja mobil  berhenti dan sang bupati turun. Terlihat dari kejauhan keduanya terlibat dalam percakapan. Tak lama kemudian terlihat sang bupati meraup tanah dan mengusapkannya di mulut si bapak. Kata-kata yang diucapkan jadi terkenal ” kau tidak mau kerja, kau makan ini tanah air”.

Sesampainya rombongan di desa Oo ada hal yang membuat hati nurani tersentuh trenyuh. Hari itu hari buka posyandu. Ketika pak bupati berbincang dengan salah satu kader, ternyata ibu itu mantan atlit pelari. Ia pernah memperkuat kontingen NTT mengikuti PON Ke VII di Surabaya. Dan meraih medali perak dari cabang maraton. Yang membuat hati trenyuh nasibnya setelah kembali ke desa kondisi ekonominya memang pas-pasan. Akhirnya medali pun dijual sekedar menambah uang belanja untuk makan.

Mendengar cerita sang kader, tampak jelas perubahan raut muka pak bupati. Hampir dipastikan ketika pulang nanti ada pihak yang kena semprot. Tapi yang pasti si ibu kader  mendapat kompensasi  santunan.

Semasa pemerintahan almarhum daerah TTS juga terbebas dari moke, minuman keras tradisional  terbuat dari nira pohon lontar atau enau yang sebelumnya merambah, merasuk ke tengah-tengah kehidupan dan menjadi kebiasaan buruk masyarakat bermabuk-mabuk. Tuntas habis dibanteras sang bupati.

Mengikuti perjalanan “blusukan” ke desa memang mengesankan. Tapi ada satu hal yang saya rasakan sebagai derita. Terutama bibir dan mulut ini. Apa pasal? setiap masuk desa disambut dengan ucapan selamat datang melalui suguhan sirih pinang.
Menghidangkan sirih pinang itu menggambarkan sikap membuka pintu hati untuk menyambut tamu.

Bisa dibayangkan jika tidak terbiasa masuk ke beberapa desa pasti mulut terasa panas. Mau tidak mau sirih pinang yang disodorkan harus dikunyah karena itu tanda penghormatan terhadap tamu. Itu beberapa kesan masuk desa bersama almarhum Piet Tallo.

Berbicara soal sirih pinang memang makan sirih pinang merupakan tradisi  beberapa daerah di Indonesia dan juga Asia Tenggara. Ini mengunyah satu paket yang bahan utamanya daun sirih, buah pinang, kapur sirih, dan terkadang juga ditambahkan gambir dan tembakau.

Tradisi ini memiliki nilai budaya dan sosial yang mendalam. Sering dikaitkan dengan keramahan, persahabatan, dan upacara adat.

Di banyak daerah, sirih pinang yang disuguhkan kepada tamu adalah bentuk keramahan dan simbol persahabatan juga
sering digunakan dalam berbagai upacara adat, seperti pernikahan, kelahiran, dan kematian.

Mengunyah sirih pinang dipercaya dapat menguatkan gigi dan mencegah penyakit gusi. Selain itu membantu membersihkan mulut dan mencegah bau mulut, dapat membantu menghentikan pendarahan pada gusi.

Daun sirih itu memberikan rasa khas bagi racikan ini. Sedangkan daging buah pinangnya menjadi bagian penting yang dikunyah bersama sirih. Tambahan kapur sirih berfungsi sebagai perekat dan pemberi sensasi hangat saat dikunyah.

Lalu gambir sering ditambahkan untuk memberikan rasa yang lebih kuat dan khas. Diakhiri dengan tembakau untuk dijadikakan “susur” jarene wong Jawa dan “sisig” saur urang Sunda yang memberikan sensasi rasa yang berbeda.

Sirih pinang itu senyatanya bukan hanya tentang bertemu, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalin hubungan kekerabatan dan persahabatan.

Ketika sirih pinang disuguhkan, hati pun ikut terikat dalam jalinan kebersamaan. Kekuatan sirih pinang terletak pada kemampuannya menyatukan berbagai perbedaan.

Konon dengan memakan sirih pinang dan kapur ini, itu simbol dari harapan untuk menjadi manusia yang selalu rendah hati. Juga meneduhkan ibarat sirih dan layaknya pohon pinang yang melambangkan hati yang lurus bersungguh-sungguh. Putih bersih  yang dimaknai dalam kapur sirih. Jika dilengkapi  gambir berarti sabar dan hati yang teguh bak kerasnya sang gambir.

Karena itu jangan remehkan sirih pinang, karena di dalamnya tersimpan nilai luhur persatuan. Bibir memerah tak mengapa karena merah itu memang lambang keberanian.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan