Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom
Tawa riang, senda gurau sanak keluarga dan celoteh anak-anak riuh terdengar. Semua bergembira dalam ruang rumah besar itu. Keluarga bu Armin memang keluarga besar. Dari empat orang anaknya, kini sudah menjadi belasan anggota keluarga. Hari itu ulang tahun bu Armin, yubileum ke 75. Semua anak, cucu dan menantunya kumpul. Tidak heran jika sudah berkumpul suasana menjadi ramai.
Makanan dan minumanpun beraneka ragam, memenuhi meja makan. Setiap orang dapat memilih apa yang disukai dan makan sepuasnya. Semuanya itu dibawa oleh masing-masing kuarga anak-anak dan sanak saudaranya.
Acara yang paling meriah dan ditunggu-tunggu adalah memotong kue ulang tahun. Serempak semua orang menyanyikan lagu panjang umurnya. Bu Armin berdiri di kelilingi semua anggota keluarganya yang hadir itu. “Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga” suara anak cucunya semakin riuh. Bu Armin segera meniup lilin yang berbentuk angka tujuh lima yang menghias kue ulang tahun itu. Semua bertepuk tangan riuh dan satu persatu anak cucunya bergiliran memberikan ciuman selamat ulang tahun. Bu Armin diminta memotong kue dan memberikan pada orang yang paling dicintainya. Kue diatas piring kertas kecil itu akan diberikannya kepada seseorang. Bu Armin berjalan menuju kursi goyang disudut ruang keluarga, lalu meletakkan kue itu diatasnya, kue itu dipersembahkan bagi mendiang suaminya yang selalu duduk di situ.












