KUPU-KUPU SOSIAL DI TENGAH LINGKUNGAN KEHIDUPAN

Terbaru195 Dilihat

Pernahkah melihat di tengah keramaian sahabat atau kerabat bahkan masyarat yang berkerumun selalu ada sosok yang membuat suasana ceria?.

Sosok yang ramah dan mudah membaur. Itulah sosok social butterfly, kupu-kupu sosial. Ia mampu berbaur dari satu lingkaran sosial ke lingkaran sosial yang lain. Membawa energi positif, senyum hangat, dan sapaan ringan yang bisa mengubah suasana menebar ceria.

Mengapa kupu-kupu? Kupu-kupu digolongkan ke dalam ordo Lepidoptera. Berasal dari bahasa Yunani  “Lepis” artinya sisik dan “Pteron” sayap. Karena itu sayap bersisik jadi ciri khusus kupu-kupu.

Tetapi ketika kata kupu-kupu atau Inggrisnya buterfly digunakan dalam lingkup sosial, punya makna sendiri.

Social buterfly atau kupu-kupu sosial istilah untuk orang yang sangat aktif secara sosial, mudah bergaul, dan memiliki banyak teman.

Tuntutan lingkungan/pekerjaan, hasil pembelajaran sosial, peran sosial di komunitas dapat menjadikan seseorang sebagai kupu-jupu sosial.

Kupu-kupu sering dijadikan simbol perubahan karena bermetamorfosis. Ia memiliki siklus hidup yang unik dan menakjubkan. Dari telur, ulat, kepompong, hingga menjadi kupu-kupu dewasa yang indah.

Suatu perjalanan hidup yang mencerminkan transformasi atau perubahan yang terjadi melalui proses alami. Metamorfosis kupu-kupu menjadi lambang perubahan yang signifikan dalam kehidupan, baik secara fisik maupun spiritual.

Namun, menjadi kupu-kupu sosial bukan hanya soal ramainya atau disukai banyak orang. Itu adalah seni menciptakan hubungan antar manusia. Apakah ia seorang sangunis berat? Meski tidak selalu, tapi sering sifat sanguinisnya lebih kental, melekat erat dan terpancar dalam interaksi sosial. Sedangkan sanguinis merupakan tipe kepribadian yang selalu ceria tak menyimpan kelelahan batin.

Jadi memang seorang kupu-kupu sosial seringkali memiliki sifat sanguinis. Yapi bagi sanguinis tidak otomatis jadi kupu-kupu sosial.

Seorang kupu-kupu sosial itu sejatinya seseorang yang mudah bergaul. Sering berpindah-pindah lingkaran sosial dengan nyaman. Namun, juga dikatakan,  menjadi kupu-kupu sosial bukan hanya soal tampil ramai atau disukai banyak orang.

Tetapi Itu seni menciptakan hubungan, membagikan semangat hidup, dan hadir dengan tulus bagi orang lain, meski hanya sejenak.

Tak dapat disangkal kadang tersimpan rasa lesu di balik tebaran kecerian sang kupu-kupu sosial. Tersembunyi lelah di balik tawa, tersimpan kesepian di antara keramaian. Karena itu jika menjadi kupu-kupu sosial yang bermakna tentu harus tahu kapan harus terbang dan kapan harus kembali ke bunga tempat bisa mengisi kembali energi diri.

Jadi ini bukan hanya semata-mata tentang popularitas, tapi tentang kehadiran yang menguatkan. Bukan tentang banyaknya teman, tapi tentang ketulusan dalam menjalin hubungan.

Jadilah kupu-kupu sosial yang bermakna. Terbanglah dengan hati membawa cahaya dan menjaga nyalanya jangan sampai cahaya itu memudar bahkan padam.

Karena dunia tak hanya butuh orang yang ramai, tapi juga yang benar-benar hadir dengan jiwa yang utuh dan hati yang penuh kasih. Siklus hidup kupu-kupu bisa jadi pengingat kuat bahwa perubahan emosional maupun mental yang terjadi di dalam diri kita, pada akhirnya akan tercermin dalam penampilan luar kita.

(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan