Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan munculnya “roh-roh” bergentayangan di pusat-pusat perbelanjaan. Tetapi ini bukan mahluk halus, melainkan akronim atau singkatan di era gaul. Istilah-istilah yang sontak muncul dalam dunia digital.
Beragam perilaku orang dalam konteks sosial digambarkan lewat singkatan-singkatan kata. Ada “Rohantu” itu rombongan yang hanya futu-futu”, atau “foto-foto” yang datang ke suatu tempat, terutama tempat yang estetik seperti kafe atau taman, hanya untuk “selfi-selfi” alias ber-,”swa-foto” tanpa benar-benar menikmati tempat tersebut atau membeli apapun.
Ada juga rombongan yang hanya nanya alias”Rohana”, “Rojali” yang jarang beli, “Rohingya” rombongan “healing banyak gaya” atau “Romusa” Rombongan Muncul Pas Sale Aja.
Kesemuanya viral di dunia digital, dipakai guna menggambarkan berbagai macam perilaku orang dalam konteks sosial.
Ada juga yang menerapkan “Aji Mumpung”, mumpung hidup hanya sekali. Istilah kerennya “YOLO” kependekan dari “You Only Live Once”. Ini jadi mantra gaya hidup banyak orang
untuk menikmati hidup sepenuhnya. Karena meyakini hidup ini hanya sekali, harus benar-benar dinikmati tak peduli risiko yang dihadapi. Tidak terlalu khawatir tentang konsekuensi yang akan dialami.
Di satu sisi bisa dibilang seorang “risk taker” seorang yang berani mengambil risiko. Namun, bisa juga diartikan sebagai pembenaran untuk perilaku impulsif dan konsumtif, boros, dan tidak bertanggung jawab. Bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang dinginkannya.
Kebalikannya dengan “YONO” aliran yang meyakini “You Only Need One” YONO tren gaya hidup yang muncul sebagai reaksi terhadap tren YOLO. “Kamu Hanya Butuh Satu”. Suatu konsep minimalis. Di dalamnya menekankan efisiensi, mengurangi konsumsi berlebihan, dan fokus pada kebutuhan esensial. Suatu ke “ugaharian” bertumpu pada kehidupan yang sederhana.
YOLO memacu orang untuk menikmati hidup sepenuhnya tanpa batas. Sedangkan YONO mengajak untuk lebih bijaksana dan berkelanjutan dalam menjalani hidup. Dapat disetarakan dengan gaya hidup minimalis, yang mendorong pengurangan barang fisik dan fokus pada hal-hal yang penting. Berhemat, tidak boros secara berkelanjutan dengan
mempertimbangkan dampak lingkungan dari pilihan konsumsi.
Suatu gaya hidup yang yang dikenal dengan “Frugal Living” yang menekankan pengelolaan keuangan secara bijaksana dan hemat. Bukan hanya berhemat, frugal living melibatkan perencanaan anggaran, teliti dalam membeli dan memanfaatkan sumber daya secara maksimal untuk mencapai mendapatkan nilai terbaik dari setiap rupiah yang dikeluarkan dan menghindari pemborosan.
Dengan demikian YONO bukan hanya bermanfaat bagi keuangan, untuk kesehatan mental dan lingkungan pun baik. Bisa mengurangi stres yang disebabkan oleh terlalu banyak pilihan. Hidup terasa lebih ringan dan bermakna.
Gaya hidup minimalis jadi panutan yaitu mengurangi kepemilikan barang-barang yang tidak perlu, mengurangi pengeluaran, dan fokus pada pengalaman serta nilai-nilai yang lebih dalam. kamu hanya butuh satu, karena “Kesederhanaan bukanlah kekurangan, tetapi keindahan yang tersembunyi” dan “Kebahagiaan tak perlu mewah, cukup hati yang penuh indah”.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)










