“Kemerdekaan itu hak segala bangsa” Gamblang tertera dalam pernyataan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Republik Indonesia.
Frasa yang dengan tegas menyatakan bahwa setiap bangsa memiliki hak untuk merdeka. Menggelitik juga kata merdeka ini. Merdeka itu seperti apa dan bagaimana penerapan dalam kehidupan nyata.
“Merdeka” dalam bahasa Indonesia bermakna bebas dari penjajahan, penindasan, atau belenggu lainnya. Juga diartikan berdiri sendiri; tidak bergantung pada pihak lain yang dinamakan mandiri, berdiri di atas kaki sendiri. Termasuk di dalamnya kebebasan untuk memilih, berpendapat, dan bertanggung jawab atas tindakan sendiri.
Ini menjadi dasar untuk penolakan terhadap segala bentuk penjajahan, karena memang senyatanya tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Para tokoh bangsa berhasil mematahkan kekuasaan penjajah bangsa lain dan menghantar bangsa Indonesia sampai pada gerbang kemerdekaan. Tugas anak bangsa generasi berikut mengisi kemerdekaan itu.
Namun diiringi pesan sang proklamator ketika diangkat menjadi presiden memimpin republik merdeka ini. “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Sejatinya itu suatu peringatan agar waspada menapaki masa depan yang akan datang.
Jika disimak kata-kata itu nampaknya tak dapat disangkal dewasa ini. Tetapi masalahnya bangsa sendiri itu siapa dan yang mana. Nampaknya memang ada berbagai strata dari bangsa yang sudah dinyatakan merdeka di bumi Nusantara.
Penguasa, pengusaha dan ada pula rakyat jelata. Hidup mereka di alam merdeka sungguh amat sangat berbeda. Ada yang penuh kebebasan menjajah, menindas, memilih apa yang dikehendaki untuk diri sendiri tanpa tanggungjawab atau rasa peduli atas tindakan sendiri. Ada yang menderita tanpa daya menerima perlakuan semena-mena.
Delapan dekade sudah negeri ini merdeka. Rangkaian peristiwa pertikaian anak bangsa berderet rapih seakan tertata. Mengisi kemerdekaan dengan cacat cela menerabas falsafah bangsa di bumi pancasila.
Benar apa kata bapak bangsa perjuangan rakyat jelata untuk sekedar merdeka semakin sulit dirasa. Bahkan terlontar kata seakan tak kuasa menahan rasa yang menggerus asa: “kapan sejahtera akan mengisi alam merdeka bagi rakyat jelata”. Tinggalah itu jadi secercah renungan di alam merdeka.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)








