PILIH CERDIK ATAU PANDAI

Terbaru68 Dilihat

Cerdik  dan pandai dua kata yang tidak asing ditelinga. Sejatinya ada makna yang berbeda antara keduanya.

Seseorang dikatakan cerdik maknanya ia punya kecerdasan praktis, cepat tanggap, terampil mencari akal. Biasanya untuk menghadapi situasi tertentu.

Dengan kata lain terampil menggunakan akal secara praktis. Biasanya untuk mencari jalan keluar, mengatasi masalah, atau menemukan cara cepat dan tepat. Namun terkadang dikaitkan dengan kelicikan atau kepintaran dalam menyiasati keadaan.

Sedangkan pandai itu menekankan kepintaran atau kemampuan dalam berpikir, belajar, atau menguasai sesuatu.

Jadi ringkasnya seseorang disebut cerdik karena ia pintar menggunakan akal dalam menyelesaikan masalah. Jika dikatakan pandai itu karena ia menguasai ilmu yang luas dan keterampilan yang tinggi.

Ada juga ungkapan kaum cerdik pandai”. Itu dimaksudkan sebagai kelompok orang berpendidikan, berilmu, dan berpengetahuan luas. Mereka dianggap punya peran penting dalam memberi nasihat, gagasan, atau solusi bagi masyarakat. Boleh dikatakan sebagai  golongan intelektual atau orang-orang pintar di tengah masyarakat.

Seseorang yang cerdik belum tentu pandai. Meski pengetahuannya terbatas tetapi dapat mencari akal mengatasi suatu masalah atau menyelesaikan suatu hal.

Sebaliknya bisa jadi seseorang itu pandai, punya ilmu, tapi kurang cerdik dalam menghadapi masalah nyata. Semisal seorang yang memiliki pengetahuan ekonomi, tetapi kalah bersaing dengan pedagang yang cerdik. Jadi punya ilmu, tapi kurang cerdik dalam menghadapi masalah nyata.

Lalu idealnya bagaimana?
Tentu diharapkan cerdik sekaligus pandai. Namun kecerdikan dan kepandaian tanpa dibarengi moral akan kehilangan arah dan kebaikannya. Kombinasi cerdik pandai yang serasi menciptakan kecerdasan moral.

Seseorang dengan kecerdasan moral mampu memahami, menerapkan, dan menggunakan pengetahuan serta potensi berpikirnya untuk kebaikan diri dan orang lain.

Orang yang cerdik pandai dan bermoral memiliki integritas, empati, keadilan, dan kemampuan mengendalikan diri. Ini cerminan penerapan pengetahuan secara etis.

Orang cerdik pandai tanpa moral tidak memiliki pedoman etika dalam menggunakan pengetahuannya.

Ketika dalam diri seseorang ada integritas tinggi, seseorang itu cerdik pandai dan bermoral. Ia cerdas memahami dan menerapkan nilai-nilai moral dalam tindakan sehari-hari.

Seseorang yang cerdik pandai dan bermoral tentu punya keadilan dan empati. Ada tanggungjawab dan pengendalian diri. Hal-hal ini penting, tujuannya mulia untuk kepentingan dunia.

Cerdik pandai bermoral itu merupakan pedoman  pengambilan keputusan dalam berbagai aspek kehidupan serta membentuk pribadi yang lebih baik untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Itulah kebaikan sosial.

Tapi kecerdasan tanpa moralitas bisa membawa mala petaka. Ada istilah “pandai bersilat lidah”. Ini lebih berkonotasi negatif. Seseorang yang pandai menggunakan kemampuan bicaranya untuk memutarbalikkan perkataan atau mencari alasan.  Menggambarkan seseorang yang menggunakan kemampuan bicaranya secara licik  membuat masalah menjadi tidak jelas, atau mengaburkan kebenaran untuk membela diri.

Ibarat kata bijak: “Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.”  Artinya
seseorang harus bisa mengendalikan ucapannya, tidak asal bicara. Itu dikatakan ia punya kecerdasan moral.

Menyadari kekurangan diri adalah tanda kecerdasan. Karena orang yang menyadari dirinya bodoh itu adalah orang cerdas. Cerdas Itu suatu kebijaksanaan.

Menjadi cerdik pandai bermoral adalah bagian dari investasi diri. Mau jadi orang cerdik atau mau jadi orang pandai ataukah jadi cerdik pandai bermoral pilihan ada pada diri sendiri.

Lennick dan Kiel menuliskan orang-orang yang sadar akan keselarasan nilai-nilai, tujuan, dan tindakan mereka dengan prinsip-prinsip universal integritas, tanggung jawab, kasih sayang, dan pengampunan, itulah orang-orang yang memiliki kecerdasan moral.

“Kita bisa tahu apakah seseorang pintar dari jawabannya. Kita bisa tahu apakah seseorang bijak dari pertanyaannya.”  Demikian tulis Naguib Mahfouz.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan