BENAR ATAU BETUL?

Terbaru126 Dilihat

Sering kita mendengar seseorang berkata :”Ah.. yang benar…” atau “Ah..yang betul..” Apa bedanya?

Sejatinya itu dua kata yang bermakna berbeda. Perbedaan
utama benar dan betul terletak pada konteks penggunaannya.

Benar berarti sesuai sebagaimana adanya (seharusnya). Lebih sering dikaitkan dengan kesesuaian fakta atau kebenaran moral. Tidak bohong.

Betul bermakna tidak salah. Namun, dalam suatu percakapan sebagai kata dasar, keduanya  sering kali dipertukarkan .

Mengapa? karena keduanya memiliki makna yang sama, yaitu tidak salah atau sesuai fakta. Keduanya dapat digunakan untuk menyatakan bahwa suatu informasi atau fakta itu akurat.

Setelah keduanya diberi imbuhan bisa  terlihat perbedaannya dalam satu konteks tertentu. Semisal “membenarkan” maknanya menyetujui, mengizinkan, atau mendukung suatu hal. Demikian juga dengan membetulkan. Bisa sama maknanya dengan membenarkan, tetapi juga bisa berfokus  pada tindakan  memperbaiki sesuatu yang keliru atau salah, terutama secara faktual.

Contoh lain  “kebetulan” atau ” kebeneran” dalam percakapan sehari-hari menunjukkan suatu peristiwa yang terjadi secara  tidak disengaja atau tidak direncanakan.

Kedua kata benar dan betul itu erat kaitannya dengan perilaku. Perilaku yang benar adalah perilaku yang sesuai dengan kebenaran, sedangkan perilaku yang  betul adalah perilaku yang sudah diperbaiki dan sesuai dengan standar yang ada.

Tinggal kini tersirat pertanyaan yang menyelinap ke dalam benak “Seberapa banyakkah kita temui kedua kata itu dalam penerapan berperilaku sehari-hari di masa kini”.

Apa yang terjadi di dunia nyata hari-hari ini : yang benar jadi bohong, yang bohong jadi benar. Yang betul jadi salah,   yang salah jadi betul. Apakah ini yang disebut orang Inggris “Inside-out”. Ditambah dengan kecanggihan teknikogi, fenomena ini kian menjadi-jadi.

Memang benar dan betul adalah kata. Itulah “kata” unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan. Merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan simbol bahasa.

Ibarat kata bijak “Benar tetap benar meskipun tidak ada seorang pun yang melakukannya; salah tetap salah meskipun semua orang melakukannya”.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan