Judul tulisan ini disitir dari pesan moral suatu cerita. Cerita tentang seorang wanita penjual madu. Ia selalu ramah dan murah senyum, sehingga banyak orang suka membeli darinya.
Begitu laris jualannya, sehingga seorang pria ingin menirunya. Tapi hasilnya sangat jauh berbeda. Tidak ada yang mau membeli madunya, walau rasanya sama. Apa pasal? Ternyata wajahnya selalu cemberut dan sikapnya jutek.
Akhirnya tak ada yang mau membeli madunya dibarengi komentar: Rasa madunya sih sama manisnya. Tapi senyum dan sikap si penjual yang beda.
“Madu wanita itu terasa lebih manis karena ia ramah, sedangkan madu pria itu terasa pahit karena wajahnya selalu cemberut.”
Inti ceritanya itu memang tentang sopan santun judulnya “Pleasent Manner”. Suatu perwujudan nyata sikap, perilaku, atau perbuatan yang menunjukkan rasa hormat dan menghargai orang lain. Disertai tingkah laku sesuai dengan adat istiadat, kebiasaan, dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Mungkin kita pernah membaca karakter bangsa Indonesia adalah nilai-nilai luhur yang bersumber dari Pancasila dan kearifan lokal.
Di dalamnya ada unsur religius, jujur, toleransi, gotong royong, nasionalisme, mandiri, dan cinta damai. Nilai-nilai ini sungguh mencerminkan identitas bangsa yang majemuk dan harus ditanamkan melalui pendidikan karakter.
Bung Karno sangat menekankan “nation and character building”
(pembangunan bangsa dan karakter). Tujuannya melahirkan “manusia Indonesia baru” yang memiliki mental berdaulat, ekonomi berdikari, dan budaya berkepribadian.
Itu sebagai dasar untuk menciptakan manusia Indonesia baru. Manusia yang berdaulat, berdikari, berkepribadian, dan mampu mencapai kesejahteraan serta keadilan sosial.
Diharapkan individu yang terbentuk bertanggung jawab, santun, dan berbakti kepada masyarakat serta negara. Akankah hal ini terewujud? Jangan sampai menjadi “Upaya menjaring angin” hasilnya “jauh panggang dari api”.
Namun tentu rasa pesimis seperti ini harus dikikis habis, meski hanya sekedar bertanya, bukan mempertanyakan. Memang keramahan itu jangan hanya sekedar pemanis.
(Abraham Raubun.BSc, S.Ikom)












