“Jangan pernah mengharap memetik bunga yang wangi Kalau bunga yang ditanam adalah bunga bangkai”. Itu hukum tabur tuai.
Hukum tabur tuai Itu nyata. Ini hukum sebab akibat. Berlaku secara universal. Satu prinsip setiap tindakan yang dilakukan akan memberikan hasil yang setimpal.
Tindakan atau perbuatan disebut juga karma dalam konsep filosofis agama-agama Timur seperti Hindu dan Buddha.
Terlepas dari apakah itu kebaikan atau keburukan. Ketika menabur hal yang baik akan menuai hasil yang baik. Demikian pula sebaliknya buruk yang ditabur buruk pula yang dituai.
Jika menabur tindakan keputusan ataupun perkataan hendaknya berhati-hati. Terkadang situasi membuat seseorang lupa diri.
Saat hidup tak pernah susah harta dunia melimpah kesombongan dalam hati jauhkan dari kesadaran diri. Akibatnya bisa hidup merana sepanjang masa.
Siapakah manusia yang seolah akan hidup sepanjang masa. Sehingga berperilaku sesukanya dan abai akan adanya hukum karma.
Menjadi kaya sah-sah saja. Meski tak ada salahnya, namun hendaknya disertai rasa peka terhadap mereka yang papa. Menimbun harta tak kira- kira itu jadi petaka.
Seandainya, ya seandainya mereka yang kaya raya, mau berbagai harta sedikit saja. Mungkin derajat si papa takkan terpuruk dalam lumpur derita.
Dan padi kapas di dada Garuda Pancasila takkan hanya jadi lambang belaka.
Karena kekayaan sejati bukan diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan diukur dari hati yang senantiasa merasa memadai.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)











