Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom
Sekitar pukul 07.00 WIT pesawat Citilink dari Jakarta mendarat di bandara Sultan Babullah Ternate. Teman-teman dari Dinas PMD Provinsi sudah menunggu di bandara.
Ketika menuju ke hotel Grand Majang, kami diajak mampir untuk sarapan. Menu khas yang ditawarkan kali ini nasi Lapola namanya. Ada juga Kohu-Kohu.
Nasi lapola yang dihidangkan masih hangat. Nasi yang dimasak dan dicampur dengan kacang tolo ini memang makanan khas Ternate yang rasanya gurih. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat nasi lapola berupa buah kelapa muda yang diparut, kacang tolo, dan beras.
Kohu-kohu sendiri mirip urapan. Hanya saja isiannya yang sedikit berbeda. Sayuran yang digunakan ada kacang panjang, daun kemangi, daun singkong dan tauge. Semua sayuran mentah diberi bumbu khusus. Dicampur kelapa parut, ikan cakalang asap yang disuwir-suwir, bawang merah dan perasan lemon cui.
Sungguh sarapan yang nikmat dan penuh bergizi. Betapa tidak, asupan energi diperoleh dari nasi. Asupan protein hewani dan nabati disediakan ikan dan kacang-kacangan. Vitamin dan mineral bersumber dari sayuran.
Jika saja menu makanan bergizi seimbang seperti ini dikonsumsi banyak orang secara teratur, pastilah kesehatan masyarakat akan terjaga. Dari segi hargapun nampaknya cukup terjangkau.
Meskipun memang soal selerapun harus diperhitungkan. Pasalnya suatu pola makan tidak mudah untuk dirubah, tidak semudah membalikkan telapak tangan tentunya.
Jepang memiliki pengalaman merubah pola makan masyarakatnya. Coba saja masuk ke rumah makan Jepang, secara tradisional menu yang dihidangkan dimulai dengan makanan pembuka seperti acar, lalu disediakan masakan sayuran dan lauk beragam. Ada juga buah potong, sedangkan nasi yang dihidangkan dalam mangkuk kecil. Pola makan seperti ini mengutamakan banyak mengkonsumsi sayuran, buah dan lauk pauk serta membatasi asupan karbohidrat.
Mengkonsumsi karbohidrat berlebihan dampaknya kurang baik terhadap kesehatan badan. Kelebihan karbohidrat ini akan disimpan dalam bentuk lemak sebagai energi cadangan. Jika tidak diimbangi dengan aktivitas yang dapat membakar lemak dalam tubuh, tentu menyebabkan bertambahnya berat badan yang berlebihan. Bahayanya dapat mengundang datangnya penyakit tidak menular seperti jantung koroner, hipertensi dan diabetes.
Jepang dengan merubah pola makan seperti ini terlihat pertumbuhan dan perkembangan generasi mudanya berkembang pesat dari sisi kesehatan. Bahkan Jepangpun di era tahun 80an memperkenalkan konsep makanan fungsional (Functional Foods).
Mungkin berbeda dengan pola makan orang Asia umumnya, seperti halnya Indonesia. Sumber karbohidrat yang dikonsumsi cukup besar porsinya. Lauk pauk, sayuran dan buah sangat terbatas.
Ibarat kata pepatah Cina kuno lebih mudah merubah suatu dinasti dari pada merubah pola makan suatu bangsa. Namun bukan suatu hal yang mustahil untuk dilakukan. Jika untuk hal yang lebih baik mengapa tidak?






