Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom
Ketika kuliah di Akademi Gizi dulu, ada kisah yang kalau diingat terasa menggelikan dan sedikit memalukan. Pasalnya karena tidak mematuhi pakem atau cara dan aturan yang sudah ditetapkan.
Awal kisahnya dalam praktik menyiapkan dan mengolah makanan dalam mata kuliah penyelenggaraan makanan umum. Mata kuliah ini sebenarnya menjadi favorit Mahasiswa, terutama kami yang tinggal di asrama pada waktu itu. Sebagai penghuni asrama tentu saja harus pandai-pandai mengatur arus pengeluaran keuangan. Utamanya dalam menahan selera untuk jajan atau membeli makanan di luar. Maklum kiriman orang tua dari rumah pas-pasan.
Praktik memasak ini jadi tumpuan untuk menghemat uang makan siang. Setiap selesai praktik, ketika menu makanan telah diperiksa dan dinilai oleh dosen, kami boleh menyantapnya. Lumayan menghemat pengeluaran untuk makan siang, bahkan ada lauk yang dapat disimpan dan dibawa pulang ke asrama untuk makan malam.
Sekali waktu dalam praktik menyiapkan menu makanan keluarga, salah satu menunya adalah kue Onde-Onde. Kue ini merupakan kegemaran saya selain pisang goreng.
Onde-Onde memang unik, berbentuk bulat bertabur biji Wijen. Isinya kacang hijau yang direbus, dihaluskan, diberi gula kemudian digoreng. Rasa manis gula, berbaur dengan gurihnya kacang hijau dan biji Wijen memang tak dapat ditolak lidah.
Satu resep standarnya dapat menghasilkan 8 Onde-Onde. Ketika menyiapkan adonan dan membuat bola-bola yang diisi kacang hijau, saya melihat ukurannya terlalu kecil, pikir saya. Nanti kalau makan bola-bola kegemaran saya ini rasanya tidak puas. Lalu saya mengambil inisiatif untuk menggabungkan dua bola menjadi satu. Ukurannya menjadi sedikit lebih besar dari bola pimpong.
Ketika digoreng terjadilah “malapetaka” itu, adonan Onde menggelembung, bertambah besar hampir seukuran bola tenis, tanpa bisa dicegah lagi. Kontan saja ketika diperiksa dan dinilai dosen, 4 pula nilai yang diberikan. Itu bearti satu Onde-Onde diberi nilai 1.
Itu kisah tentang Onde-Onde yang kalau dilihat dari sisi nilai gizinya, dapat dijadikan tumpuan asupan energi dan protein yang baik. Menarik jika menyimak tentang biji Wijen yang ditaburkan di seluruh permukaan bola Onde-Onde itu.
Tanaman Wijen yang nama asingnya dikenal dengan sesamum indicum, (sesamum orientalis) ini, merupakan tanaman semak semusim yang masuk dalam famili Pedaliaceae. Diduga berasal dari Afrika tropika dan kemudian menyebar ke timur hingga India dan Tiongkok. Banyak dibudidayakan sebagai sumber minyak nabati atau minyak wijen. Diperoleh dari ekstraksi bijinya. Saat ini, wijen ditanam terutama di India, Tiongkok, Mesir, Turki, Sudan, serta Meksiko dan Venezuela.
Minyak ini kandungan zat gizinya pun beragam utamanya lemak tak jenuh yang menyehatkan.
Negara-negara yang banyak memproduksi biji Wijen antara lain Myanmar, Tiongkok, India, Ethiopia, dan Sudan.
Daerah dengan curah hujan antara 400-600 mm sangat cocok untuk budidaya tanaman ini. Masa panennyapun relatif singkat. Setelah ditanam umur 2.5-5 bulan sudah dapat dipanen.
Minyak Wijen dipercaya mengandung berbagai manfaat, seperti membantu mengontrol gula darah, melindungi kulit dari dampak sinar matahari, mengurangi risiko penyakit jantung, mempercepat penyembuhan luka, menyehatkan rambut dan sebagainya.






