
Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom
Lepas bergiat sosial di kabupaten Muna-Sulawesi Tenggara, KRI Banjarmasin bernomor lambung 592 mengangkat sauh. Dengan anggun kapal perang salah satu hasil karya anak bangsa ini bergerak meninggalkan pelabuhan Raha.
Rombongan Ekspedisi Nusantara Arung Samudera Papua bagian Selatan mengarah ke titik singgah ke dua, Kota Ambon Manise. Perasaanku sedikit bergetar, betapa tidak aku akan menapakkan kaki di negeri leluhur.
KRI Banjarmasin 592 akan singgah semalam di Ambon untuk mengisi bahan bakar. Komandan kapal letnan kolonel (L) Stenley Leikahena yang memang berasal dari Kota Ambon sudah berjanji untuk mengawal kami berwisata kuliner.
Ketika kapal perlahan menelusur teluk Ambon yang merupakan pertemuan Teluk Tanjung Alang dan Teluk Nusaniwe merapat untuk melego jangkar, kapal terasa sangat lambat untuk sampai ke dermaga.
Akhirnya kapal merapat juga, jangkarpun di lego. Setelah selesai sarapan kami bersiap menuruni tangga menuju dermaga untuk apel siaga sebelum beraktivitas hari itu.
Target serangan pertama menuju Pantai Pintu Kota. Letaknya sekitar 45 km dari Kota Ambon. Tepatnya berlokasi di Dusun Airlouw, Nusaniwe, Kota Ambon. Apa yang unik dari pantai ini? ternyata ada batu karang berlubang yang berbentuk mirip sebuah gerbang atau pintu. Dari sini terlihat pemandangan laut Banda yang memesona.
Puas berfoto-foto kami bergeser menuju pantai Natsepa. Setiba di Natsepa sasarannya rujak buah khas Natsepa. Sebenarnya tampilan rujak disini tidak jauh berbeda dengan rujak pada umumnya. Sedikit saja perbedaan tampilannya pada bumbu gula merah kental bercampur taburan kacang tanah yang menyelimuti aneka buah potong. Kaya energi, vitamin dan mineral. Terasa nikmat karena disantap di tepi pantai dengan pemandangan laut yang biru mempesona.
Siang hari kami kembali menuju Kota Ambon untuk mengisi “kampung tengah”. Mungkin sudah kodrati bangsa dewek biar perut sudah diisi bermacam panganan, kalau belum ketemu nasi belum makan katanya.
Kami singgah di rumah makan Dedes yang letaknya tidak jauh dari mesjid Al-Fatah. Banyak ragam menu yang disajikan. Kali ini nasi aku kesampingkan. Pasalnya “pamali” katanya kalau berada di negeri leluhur tidak menyantap papeda dan kuah ikan, ini wajib hukumnya. Daging Ikan yang baru mati sekali istilahnya, terasa gurih manis berenang dalam kuah yang asam dan pedas menebar membawa nikmat segar bermanja-manja di lidah.
Papeda yang diolah dari sagu memang menyerupai kanji. Sumber asupan karbohidrat yang kaya energi, meski juga mengandung sedikit protein, kalsium, fosfor, zat besi, dan lain-lain.
Selain itu indeks glikemiknya rendah, aman dikonsumsi oleh penderita diabetes. Serat dalam sagu berperan sebagai pro-biotik, menjaga mikroflora usus. Manfaat lain baik untuk menjaga kesetimbangan berat badan serta memperlancar buang air besar.
Malam harinya kami diajak Letkol Stanley untuk mencicipi nasi kuning bagadang di kawasan AM Sangaji. Orang tua Letkol Stenley memang tinggal di kawasan ini. Tempat ini memang terkenal sebagai Sentra penjual nasi kuning. Buka mulai malam hari sampai menjelang subuh.
Sepiring nasi kuning dilengkapi dengan lauk inti, yakni ikan cakalang, serundeng, bihun goreng, serta sayur kacang panjang. Namun ada juga lauk lain yang bisa dipilih sesuai selera.
Keesokan harinya rombongan ekspedisi Nusantara Arung Samudera Papua bagian Selatan melanjutkan pelayaran menuju titik singgah berikut Kota Tual di kepulauan Kei untuk melakukan giat sosial.







