Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom
Melakukan perjalanan ke wilayah Indonesia bagian Timur memang cukup memakan waktu dan tenaga. Kadang penerbangan tidak langsung, harus berganti pesawat untuk mencapai lokasi tujuan. Belum lagi jika “connecting flight” terlambat perlu ekstra sabar menunggunya. Seperti halnya ke Gorontalo, berganti pesawat di Makassar, penerbangan dilanjutkan dengan pesawat yang lebih kecil.
Kali ini kegiatan untuk melakukan sertifikasi kompetensi bagi tenaga-tenaga fasilitator Pemberdayaan Masyarakat di provinsi Gorontalo dilaksanakan di Universitas Gorontalo.
Universitas Gorontalo yang berlokasi di Jl. Sudirman kabupaten Gorontalo, merupakan Tempat Uji Kompetensi (TUK) dari Lembaga Sertifikasi Profesi Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat (LSP-FPM).
Kami rombongan asesor tiba di bandar udara Tolotio menjelang magrib dan langsung menuju Grand Q hotel di Jl. Hj. Nani Wartabone. Bandara Tolotio di tahun 2016 berganti nama dengan nama bandar Udara Internasional Jalaluddin. Jalaluddin Tantu, adalah Kolonel Penerbang dari Gorontalo, yang gugur dalam “Operasi Dwikora” pada tahun 1964 di Malaysia karena pesawatnya hilang.
Hal yang ingin saya kisahkan bukan tentang kegiatan sertifikasi, tetapi tentang kuliner tradisional daerah Gorontalo. Setiap daerah memang memiliki panganan yang spesifik. Di Gorontalo salah satunya kue yang memiliki nama unik Tili Aya.
Ketika rehat kopi, mata saya tertumpu pada satu bentuk kue. Tampilannya menarik, berwarna coklat dengan wadah nampaknya sejenis daun pandan. Aromanya menggelitik selera.
Tili Aya memang olahan campuran telur, santan, dan gula merah. Pembuatannya pun harus hati-hati, karena konon jika salah-salah mengolah aroma dan rasanya dapat berubah tidak muncul harum yang khas.
Konon dahulu hanya disajikan dalam bulan puasa, saat sahur pertama. Menilik bahan dasarnya, kue ini memang sumber asupan energi yang tinggi. Ada sumber protein dari telur dan kalori dari gula merah dan santan. Memang cocok untuk dijadikan “snack” saat rehat kopi.
Saya nikmati si manis dari Gorontalo ini dengan sepenuh hati. Rupanya teman-teman panitia cukup tanggap melihat saya menikmati kue ini. Buktinya ketika usai acara, sudah tersedia sekantong plastik berisi Tili Aya untuk bekal minum teh di hotel.








