Pagi itu jam tangan pintar (smart watch) mencatat jarak yang ditempuh lebih dari 3.5 Km. Ketika melewati jalan masu kompleks menuju rumah, Gerobak Martabat Mini menarik perhatian. Uang cash tak ada di saku, tapi tak masalah, QRIS jadi sarana bayar. Penjual di pinggir jalan kini memanfaatkan ya dengan menempelkan barcode di Gerobaknya.
Dua martabat mini seharga 15 ribu pun ditenteng pulang. Baru saja kaki terayun beberapa langkah terdengar suara dari belakang, kutengok seorang wanuta setengah baya. Pakaian sedikit kusuh, pancaran wajah Lesung ada kesan berkebutuhan khusus.
Dengan suara memelas is berkata: “Pak De bagi 2 ribu mau beli minum!” Hati sedikit tercekat tapi karena kaki sudah melangkah cepat, jarak pun semakin jauh. Namun sepanjang perjalanan menuju rumah kata-kata itu terus terbgiang di telinga. Ada rasa sesal terselip dalam perasaan.
Terlintas di benak: “aku gagal berbagi berkat Tuhan!,” Lima belas ribu dengan mudah di keluarkan. Dua ribu diacuhkan, seakan tersumbat jalan untuk dikeluarkan. Mungkin dia benar-benar haus atau bahkan lapar. Dalam hening perenungan mendalam terlintas akan makna “Kepekaan Sosial”.
Dalam hidup sehari-hari seseorang harus memiliki kemampuan untuk menyadari, memahami, dan merespons keadaan, kebutuhan, perasaan, serta persoalan yang dialami orang lain dan lingkungan sosialnya. Inilah Kepekaan Sosial.
Kepekaan sosial bukan sekadar “tahu bahwa orang lain sedang mengalami masalah”, tetapi juga memiliki kepedulian untuk bertanya: Apa yang dapat saya lakukan?
Dari mana harus memulai?Tidak semua orang yang melihat benar-benar memperhatikan. Kepekaan sosial membutuhkan kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Seseorang dapat melihat orang lain duduk sendirian, tetapi belum tentu menyadari bahwa ia sedang membutuhkan teman. Kita dapat mengetahui ada tetangga yang kesulitan, tetapi belum tentu tergerak untuk membantu.
Tetapi ini bukan rasa iba melihat penderitaan orang lain semata, lebih jauh dari itu. Ini lebih berusaha memahami mengapa persoalan itu terjadi dan bagaimana memberikan respons yang tepat.
Kaitannya erat dengan empati: mencoba memahami keadaan orang lain dari sudut pandang diri sendiri. kita lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertindak. Menjadikan dia tidak mudah menghakimi seseorang sebelum memahami situasinya.
Dari sinilah lahir tindakan. Karena kepekaan tanpa tindakan dapat berhenti hanya menjadi perasaan. Kepekaan sosial adalah satu rangkaian: melihat-menyadari-memahami-peduli-bertindak.
Di era media sosial, kepekaan sosial justru semakin penting. Kita berhadapan dengan begitu banyak informasi tentang kehidupan orang lain, tetapi kedekatan digital tidak selalu menghasilkan kepedulian sosial.
Jangan sampai kita cepat memberikan komentar tetapi lambat memberikan pengertian; cepat membagikan berita tetapi lambat memeriksa kebenarannya; atau cepat menertawakan kesulitan orang lain karena menganggapnya sebagai hiburan.
Kepekaan sosial di ruang digital berarti berpikir sebelum mengetik, memeriksa sebelum membagikan, dan mempertimbangkan perasaan orang lain sebelum berkomentar. Ia jembatan antara pengetahuan dan kepedulian. Di sinilah wujud seni menjadi manusia: melihat penderitaan tanpa berpaling, mendengar tanpa menghakimi, memahami tanpa merendahkan, dan bertindak tanpa harus menunggu diminta.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)







