Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom
Bertugas selama 5 tahun di kantor perwakilan UNICEF Jawa Barat-Banten jauh dari keluarga, terpaksa harus mandiri mengurus diri sendiri.
Untuk menginap tidak masalah karena tinggal di hotel. Tetapi untuk makan, ibarat burung harus terbang berkeliling. Untung saja hotel tempat menginap dekat dengan pasar Cihapit yang disekitarnya tersebar tempat makan dengan beragam menu tradisional.
Salah satu makanan favorite saya nasi Tutug Oncom. Nasi bercampur oncom goreng atau bakar dan ditemani ikan asin ini, sederhana tampilannya, gurih dan lezat rasanya. Apalagi disantap hangat-hangat. Harganyapun murah, jadi patutlah jadi pilihan dalam rangka penghematan.
Konon nasi Tutug Oncom ini menurut “sasakala”nya atau riwayatnya asli milik karuhun daerah Tasikmalaya, sang Mutiara Priangan, begitu daerah ini “katelah” atau dijulukinya.
Oncom memang produk fermentasi ulah beberapa jenis kapang, seperti halnya Tempe. Bedanya oncom hasil olahan siap diperdagangkan setelah kapang menghasilkan spora sementara tempe hasil olahan diperdagangkan sebelum kapang menghasilkan spora.
Jenis oncom ada dua, merah dan hitam. Oncom merah hasil kerja kapang Neurospora sitophila. Oncom hitam kiprahnya kapang Rhizopus Oligosporus.
Oncom merupakan sumber asupan karbohidrat dan protein nabati yang cukup baik. Laik jadi pilihan dalam menu Gizi Seimbang yang dikonsumsi sehari-hari.








