Wabah malaria merebak di tahun 50an akibat gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Ribuan nyawa terenggut setiap tahun.
Hal ini memicu pemerintah meluncurkan program pemberantasan malaria secara besar-besaran.
Untuk mengatasi wabah ini, pemerintan membentuk Dinas Pembasmian Malaria.
DDT pun disemprotkan secara massal. Di mulai oleh Presiden Soekarno di Desa Kalasan, Yogyakarta pada 12 November 1959. Lima tahun kemudian, tahun 1964 Wabah itu dapat dikendalikan dan diberantas.
Tanggal 12 November kemudian ditetapkan menjadi Hari Kesehatan Nasional.
Sebagai momentum untuk mengingat betapa pentingnya kesehatan bagi kehidupan bangsa.
Tahun 2025 ini, tema yang diangkat “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat”. Sederhana namun mengandung pesan mendalam.
Sejatinya kesehatan bukan hanya urusan rumah sakit dan tenaga medis, tetapi tanggung jawab semua komponen masyarakat dan pemerintah dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangan kesehatan semakin beragam. Olah gerak semakin terhambat. Gaya hidup serba cepat, pola makan tidak seimbang, kesehatan mental pun sering terabaikan.
Di sisi lain, perkembangan layanan kesehatan dan teknologi medis terus meningkat meski berdampak biaya yang cukup membengkak.
Hari Kesehatan Nasional bukan sekadar dilakukan secara seremonial. Ini adalah ajakan untuk memperbaiki kebiasaan.
Karena kesehatan bukan hadiah, tetapi hasil dari kebiasaan yang dirawat dari hari ke hari secara berkesinambungan. ” Mens sana in corpore sano” itu ungkapan Latin ” jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat“. Ungkapan yang menekankan pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental.
Tubuh yang sehat mendukung jiwa yang kuat dan pikiran yang jernih guna membangun masa depan yang lebih kuat. Karena bangsa yang besar dimulai dari rakyat dengan tubuh kuat dan jiwa yang sehat.
(Abraham Raubun. B Sc, S.Ikom)








