KETELADANAN GURU DI ERA DIGITAL

Terbaru55 Dilihat

Hari Guru Nasional diperingati pada 25 November 2025. Peringatan penghormatan bagi para “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” predikat yang disematkan.

Di kalangan masyarakat Jawa ada ungkapan guru itu “Di gugu lan ditiru”. Ini menggambarkan peran seorang guru. Digugu itu dipercaya. Ditiru artinya diteladani.

Suatu hal yang tidak mudah. Seorang Guru dituntut harus memiliki ucapan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sikap pantas diperlihatkan agar menjadi contoh bagi murid-muridnya untuk menerapkan dalam kehidupan.

Di era ini terpaan arus informasi mutlak bijak disikapi. “Digital literasi” menjadi bekal penting bagi generasi masa kini. Ini bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi. Tetapi satu kecakapan memahami, menilai, dan memanfaatkan informasi secara kritis dan bertanggungjawab. Diterapkan sepanjang kehidupan menapaki masa depan.

Di sinilah peran guru menjadi sangat berarti. Guru tidak hanya mengajarkan cara bekerja dengan teknologi, tetapi juga menanamkan nilai: berpikir jernih di tengah banjir informasi, memilah yang benar dari yang menyesatkan, serta menggunakan media digital untuk belajar, berkarya, dan membangun kebajikan.

Keteladanan, guru untuk digugu dan ditiru, mengarahkan peserta didik tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi juga pemilik kendali atas teknologi yang mereka gunakan meningkatkan prestasi namun tetap menjaga martabat diri.

Peringatan Hari Guru Nasional menjadi momen untuk menghargai para pendidik yang terus beradaptasi, belajar hal baru, dan membimbing generasi muda memasuki ruang digital dengan bijak dalam nurani dan mental.

Melalui literasi digital yang kuat, guru membantu mencetak generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga cakap digital, bertanggung jawab, dan berdaya dalam menghadapi masa depan penuh tantangan.

Terbersit setitik harapan anak negeri yang berprestasi tinggi, Generasi emas yang cerdas, santun dan beradab menjadi guru untuk digugu dan ditiru, dihormsti Dan dihargai.

Jangan ranah pendidikan guru hanya menjadi “Padang Pelarian” karena tercampak di bidang lain, lalu dijadikan pilihan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan