Hidup adalah buku yang terus ditulis waktu.Setiap hari satu baris baru tergores—kadang tawa, kadang duka yang meninggalkan luka.
Ada halaman basah oleh air mata, namun tetap kita balik perlahan.
Sebab selalu ada halaman putih di depan sana,
menunggu kisah yang lebih indah dituliskan.
Dalam buku kehidupan,
ada bab cinta yang ditulis dengan tinta harapan, dan ada bab luka yang mengajarkan arti bertahan.
Tak semua kata sempurna, namun setiap goresan menyimpan makna.
Dari halaman yang retak,
lahir kekuatan untuk bangkit dan mencinta kembali.
Biarlah waktu menjadi penulisnya, dan kita pembaca yang tak pernah berhenti percaya: bahwa bahagia pun punya bagiannya sendiri.
Maka jangan habiskan halaman hidup dengan kebencian dan merasa paling benar. Waktu terbatas, usia terus semakin singkat.
Lebih baik sibukkan diri menjadi lebih baik, sebab itulah kisah yang layak dikenang
di akhir buku kehidupan.
(Abraham Raubun. B Sc, S.Ikom)











