PECEL MENEMBUS KULINER DUNIA

Terbaru55 Dilihat

Ada rasa bangga yang sulit disembunyikan ketika membaca kabar bahwa pecel—hidangan tradisional Jawa yang akrab di lidah masyarakat Indonesia—berhasil menembus panggung kuliner dunia.

Dalam pemeringkatan “Top 100 Salads in the World” yang dirilis oleh platform panduan kuliner global TasteAtlas, pecel menempati peringkat ke-7 dunia, mengungguli berbagai sajian salad populer dari negara lain, termasuk “Som Tam” asal Thailand.

TasteAtlas dikenal sebagai platform yang mendokumentasikan dan memeringkat makanan tradisional dari berbagai belahan dunia berdasarkan popularitas, ulasan, serta nilai historis dan budaya. Dalam daftar tersebut, tercatat enam hidangan salad asal Indonesia, dan pecel menjadi salah satu yang paling menonjol.

Pengakuan ini bukan sekadar prestasi kuliner, melainkan juga pengakuan atas kekayaan tradisi pangan Nusantara.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, pecel bukanlah makanan asing. Hidangan ini terdiri atas aneka sayuran rebus—seperti kangkung, bayam, kacang panjang, tauge, dan daun kenikir. Bahkan ada yang menggunakan kembang turi.
Sayuran ini disiram bumbu kacang khas. Sederhana, merakyat, namun kaya cita rasa dan gizi.

Pecel adalah perwujudan kearifan lokal dalam mengolah bahan pangan nabati yang mudah diperoleh. Menariknya, pecel bukanlah kuliner baru. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa hidangan ini telah dikenal sejak abad ke-9, pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Jejak pecel dapat ditemukan dalam berbagai sumber seperti “Kakawin Ramayana, Babad Tanah Jawa, serta Prasasti Siman dari era Kediri”. Dalam konteks awalnya, pecel merujuk pada sayuran rebus yang airnya diperas—dipecel atau dipecek—sebagai salah satu teknik pengolahan sayuran.

Pada masa lalu, pecel bahkan disajikan sebagai hidangan jamuan di lingkungan kerajaan. Seiring waktu, hidangan ini mengalami transformasi sosial: dari sajian bangsawan menjadi makanan sehari-hari masyarakat luas.

Babad Tanah Jawi menuturkan kisah Ki Ageng Pamanahan yang menjamu Sunan Kalijaga dengan pecel di Yogyakarta pada abad ke-17. Sementara itu, Serat Centhini mencatat keberadaan Pecel Wijen dari Solo serta Pecel Pitik, yang menunjukkan ragam bentuk dan adaptasi hidangan ini.

Awalnya, pecel disajikan dengan kuah berbumbu cair, belum berupa saus kacang kental seperti yang dikenal sekarang. Penyebarannya ke berbagai wilayah di Jawa diyakini dibawa oleh para perantau, termasuk Warok Ponorogo.

Dari proses panjang inilah lahir aneka varian pecel daerah yang kita kenal hari ini. Pecel Madiun, misalnya, terkenal dengan cita rasa manis-pedasnya. Pecel Blitar sering dilengkapi lauk empal atau sate usus. Pecel Semarang menunjukkan pengaruh budaya pesisir dengan tambahan petis, sementara Pecel Kediri dikenal dengan sambal kacang yang lebih kasar dan pedas. Setiap daerah memberi sentuhan rasa yang mencerminkan identitas lokalnya.

Di balik kesederhanaannya, pecel mengandung makna simbolis yang dalam. Hidangan ini melambangkan kebersamaan, kesederhanaan, dan keharmonisan dengan alam. Aneka sayuran yang disatukan dalam satu piring mencerminkan nilai gotong royong dan keberagaman yang saling melengkapi.

Dari sisi gizi, pecel juga mencerminkan pola makan berbasis nabati Bahan pangan lokal yang kaya serat, vitamin, mineral, serta protein nabati dari kacang-kacangan—satu konsep pangan sehat yang relevan hingga kini.

Kini, pecel terus berevolusi. Dari hidangan tradisional yang disajikan di dapur rumah dan warung sederhana, pecel hadir dalam berbagai inovasi, termasuk produk kemasan yang menjangkau pasar modern. Namun, esensinya tetap sama: makanan rakyat yang berakar kuat pada tradisi.

Pengakuan internasional melalui TasteAtlas menjadi penegasan bahwa kearifan lokal tidak pernah usang. Pecel, sang sayuran kuno, membuktikan bahwa kesederhanaan yang jujur dan berakar pada budaya mampu menembus batas geografis dan zaman, serta menemukan tempat terhormat di jagat kuliner dunia masa kini.
(Abraham Raubun. B Sc, S.I.kom)

Tinggalkan Balasan