Tiga orang gadis yang sekarang tumbuh menjadi remaja. Remaja yang sulit diajak bergaul, remaja yang suka dengan dunianya sendiri, remaja yang harus di sentuh dulu baru berbicara, remaja yang suka hal-hal yang berbau Korea. Dan diantara ketiga remaja itu salah satunya adalah anak ku, Thalita.
Anak yang cenderung pendiam meski dirumahnya sendiri, dia hanya berbicara jika memang dianggapnya penting dan harus bertukar pikiran atau sekedar minta pendapat dengan saya. jika sudah nonton TV pasti fokus dengan dunianya, tapi dia tidak terlalu terarik dengan gadgetnya. Hanya beberapa kali saja memainkannya itu pun hanya untuk menghubungi dua orang temannya tadi. Meski dia anak yang pendiam akan tetapi dia anak yang paling rajin dirumah, sering banget membantu dirumah, apalagi saat aku pulang telat dari sekolah. Dia seringkali mengambil alih pekerjaan rumah tanpa disuruh.
Sekarang dia sudah masuk Pondok Pesantren di Cilegon, bersama kakaknya. Aku selalu khawatir dengan pergaulanya dikarenakan aku sangat tau sifat dan karakternya seperti apa, apalagi jika di lingkungan baru. Sedikit sukar untuk bergaul dan mendapatkan teman (tidak seperti kakaknya) dan cenderung memilih dalam berteman. Memilih dalam arti harus se-frekuensi dengan dirinya.
Beberapa minggu lalu saat mengantarnya masuk ke dalam pondok pesantren, aku bilang padanya aku sedih berpisah dengannya, dan dengan entengnya dia bilang “mamah ih lebay”..
Kemarin.. saat aku menjenguknya, aku bilang bahwa aku akan ke Ponpes sebulan sekali, untuk menjenguk mereka, dan tak pernah aku duga, dia menangis meraung-raung. Kaget, senang, terharu itu yang aku rasakan, aku tak menyangka dia akan menangis dan berkata, “mamah harus datang tiap hari Jum’at” (karena mereka libur di tiap hari Jumat, dan aturannya sebulan ada 2x penjengukan dengan orang tua). Dan dia bilang, “aku nya selalu kangen sama mamah”.. Allahuakbar, terharu tentunya, baru kali pertama aku melihat dia menangis. Anak yang cenderung pendiam, anak yang selalu merahasiakan isi hatinya, anak yang cenderung cuek, ternyata bisa peka juga… Dan ku peluk dia seerat-eratnya, seraya mendo’akannya Robbihabli minassholihin…








