Ibu Bahadurku

Cerpen, Fiksiana524 Dilihat

Hati seorang ibu adalah ruang kelas tempat anaknya belajar.

 

“Ayo Tiara….lompat….cepat lompat…. cepat….cepat….ayo…!” teriak Dodi menyemangati Tiara dalam permainan petak umpet di halaman belakang rumahnya.

“Tiara pun bingung. Awalnya ia ingin turun secara perlahan-lahan. Tapi kakaknya Dodi menyarankan untuk lompat takut keburu diketahui oleh Sinta.

“Ayo, Tiara….lompat cepat….cepat….ayo…! Keburu Sinta datang.” Saat itu Sinta sedang bertugas yang mencari teman-temannya yang sedang bersembunyi.

Tiara melompat dari ketinggian 1.1/2 meter. Untuk body mungil Tiara yang baru duduk di kelas 2 SD ketinggian tersebut membuatnya berpikir panjang, tapi semangat Dodi membuatnya kalap.

Huft….. “Aduuuuhh duuuh duuuh,…………” Tiara teriak kesakitan. Rupanya lompatannya tidak mulus tangan Tiara terlebih dahulu yang mendarat ke tanah.

Dodi kaget ia mengira awalnya adiknya cuma akting. Tapi tidak lama kemudian Tiara menunjukkan ekspresi sakit tak tertahankan rupanya tangannya terkilir.

Melihat Tiara terjatuh sang ibu panik dan memarahkan Dodi yang mengajak adiknya bermain. Padahal sebelumnya ibu sudah bolak-balik mengingatkan Tiara dan Dodi agar tidak berlari-lari.

“Jan main lari-lari Tir, jatuah beko.” (Jangan main lari-lari tir, jaruh nanti).

“Dod, usah dibao main lari-lari adiak, kapaleset jatuah pacah kapalo.” (Dod, jangan diajak main lari-lari adikmu, terpeleset nanti jatuh bisa pecah kepala).

Tapi pesan sang ibu tidak dihiraukan mereka berdua.

***

Dodi masih saja merasa tidak bersalah. Dia hanya menyarankan adiknya untuk melompat karena menurutnya ketinggiannya cukup wajar untuk Tiara.

Sesaat selepas jatuh memang tidak terlihat luka yang mengkhawatirkan. Tiara pun disuruh beristirahat. Beberapa saat kemudian Tangan kiri Tiara mulai terasa nyeri.  Tapi  tidak dihiraukannya  hingga ia terlelap tidur. Semua di luar dugaan ketika Tiara bangun sakit di tangan kirinya semakin menjadi-jadi dan membengkak.

Tiara kesakitan ibunya pun segera mengajak Tiara ke tukang urut. Ketika berada di tukang urut Tiara tak kuasa menahan sakit sehingga ia berteriak dan menangis.

Sang ibu tidak lelah untuk mengajak Tiara berobat. Setiap hari ibu Tiara dengan telaten mengganti perban di lengannya dan mengoleskan minyak sambil diurut perlahan-lahan.

Tiara tak kuasa menahan sakit tapi ibu selalu menenangkan Tiara.

“Tir, ayo kita berangkat berobat lagi biar lekas sembuh!” ucap ibu merayu Tiara. Sejak pertama kali mengunjungi  tukang urut Tiara tidak ingin diobati lagi di sana  karena tak kuasa menahan sakit.

“Tiara nggak mau Mak, sakit…nggak mau.” sambil memohon kepada ibunya agar tidak diobati di tukang urut.

“Jika tidak diobati nanti tangan Tiara nggak sembuh-sembuh. Kelamaan nanti Tiara nggak masuk sekolahnya.” Ibu terus merayu Tiara.

Tiara pun luluh dan mengikuti kata ibunya karena sudah hampir seminggu ia tidak masuk sekolah.  Tiara takut jika lama tidak masuk sekolah nanti ia tidak naik kelas.

Kali ini ketika diurut Tiara lebih kuat. Ia tahan sakitnya karena Ibu adalah bahadur sejati bagi Tiara yang selalu memotivasinya untuk sembuh.

Jembrana 18 Februari 2021

Naskah Hari ke-18

 

 

 

Tinggalkan Balasan