Bintang memandang bulan sabit yang memancarkan cahaya temaram. Tubuhnya yang hanya sedikit terlihat, menyembul tanpa senyuman. Tidak seperti biasanya bulan tampak murung seperti itu. Hal ini membuat Langit, Bintang dan planet-planet bertanya-tanya. Ada apa dengan rembulan malam ini.
“Bulan, kamu kenapa? kok tampak tidak bersemangat begitu?” Bintang bertanya kepada Bulan tentang keadaannya.
“Oh, tidak apa-apa Bintang. Aku baik-baik saja,” jawab Bulan sambil berlalu.
Bintang tidak puas dengan jawaban Bulan. Ia mengikuti kemana Bulan pergi karena penasaran tentang apa yang sedang dipikirkan temannya itu.
“Ayolah Bulan, adakah yang mengganggumu? Kamu tidak seperti biasanya. Kamu tidak tampak baik-baik saja.”
“Sebenarnya aku iri padamu Bintang. Kamu cantik. Putih berkelip di malam hari. Walau kecil kau disukai dan dinantikan oleh manusia. Berbeda denganku. Orang menyukaiku hanya di saat purnama. Aku tampak terang padahal aku hanya meminjam cahaya matahari. Kadang cahaya matahari hanya sedikit mengenaiku sehingga aku muncul dalam wujud separuh. Kadang aku tidak tampak sama sekali. Aku tersembunyi di balik langit yang gelap. Sedangkan kau Bintang. Memiliki cahaya sendiri dan bebas bersinar menerangi gelapnya malam.”
“Hahaha, ya ampun sahabatku. Kenapa kamu sampai memikirkan itu. Walau aku bersinar, aku sangat kecil. Berbeda denganmu yang besar dan indah memesona. Orang-orang menantikan kehadiranmu selalu. Jangan berfikir yang tidak-tidak.”
“Iya Bintang, aku tahu. Kadang aku ingin menjadi matahari yang gagah bersinar dan menerangi seisi bumi. Aku bisa menghangatkan bumi yang dingin. Mengeringkan pakaian basah manusia di atas jemuran. Membantu tumbuh-tumbuhan memasak makanannya sendiri. Serta mengeringkan padi manusia untuk menjadikannya beras yang enak. Tidakkah kamu pernah merasa begitu?”
“Hmm, iya juga ya Bulan. Kadang aku ingin menjadi bumi tempat manusia hidup. Kadang ingin menjadi pelangi yang berwarna indah dan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Atau menjadi langit tempat kita bergelantungan sekarang.” Jawab Bintang.
Langit yang sejak tadi menyimak percakapan Bulan dan Bintang ikut berbicara setelah namanya disebut.
“Wah wah wah, kamu ingin menjadi aku yang Bintang?
“Hahaha, iya nih Ngit. Bulan sedang sensitif. Aku pun jadi terbawa suasana,” jawab Bintang sambil tertawa.
“Bulan merasa rendah diri, karena itukah kamu bermuram durja Bulan?” tanya Langit. Bulan mengangguk pertanda mengiyakan perkataan Langit.
“Dulu aku juga sepertimu. Aku bosan menjadi langit yang hanya memandang lautan yang bergemuruh. Sawah yang hijau dan terhampar luas. Pepohonan yang menghasilkan berbagai macam buah dan bebungaan. Kulihat angin berkejar-kejaran. Layang-layang yang diterbangkan orang-orang sambil tertawa. Sementara aku di sini hanya bisa menyaksikan. Padahal aku ingin ikut merasakannya. Namun itu dulu,” ujar Langit.
“Dulu? Sekarang tidak lagi Ngit?” ucap Bulan dan Bintang serentak.
“Iya. Dulu. Sekarang tidak lagi karena aku senang dan bersyukur menjadi diriku sendiri. Bayangkan jika aku tidak ada. Dimana kalian akan tinggal? Apa jadinya bumi dan planet-planet tanpa langit? Akan seperti apa kehidupan manusia jika aku berubah menjadi benda lainnya.” Ujar Langit.
“Begitupun dengan kamu Bulan. Siapa bilang kamu hanya disukai saat purnama. Siapa bilang kamu menjadi tidak indah hanya karena tidak memiliki cahaya sendiri. Semua mencintaimu bukan karena apa yang kamu miliki namun karena kamu adalah bulan. Itu saja cukup. Syukurilah apa dan bagaimana kita sekarang. Jangan berandai-andai menjadi yang lain karena itu akan merusak kebahagian kita. Cukup jadi diri sendiri dan bermanfaat untuk semesta dengan apa yang kita bisa. Oke?” Langit menyemangati teman-temannya.
Mendengar itu, Bulan tampak berseri kembali.
“Maafkan aku ya teman. Aku jadi malu nih. Tak seharusnya aku bermuram durja dan membuat kalian resah. Hanya karena separuh tubuhku tidak terkena sinar matahari aku jadi sedih dan gundah. Aku lupa bahwa aku adalah satelit bumi yang tarikan gravitasi dariku dapat menjaga rotasi bumi. Tanpa aku, bumi akan berputar lebih cepat sehingga waktu satu hari akan kurang dari 24 jam. Aku juga digunakan sebagai panduan dalam penanggalan sehingga memudahkan kehidupan manusia di bumi. Bayangkan kalau tidak ada aku? Apa jadinya bumi tempat milyaran manusia itu hidup?”
“Iya juga ya Ngit. Aku jadi malu karena terbawa suasana. Padahal walau kecil aku menjadi petunjuk arah bagi manusia lo?” Bintang berkelap-kelip lebih cepat karena hatinya senang kembali.
“Hehe, iya teman-teman. Dulu aku juga seperti kalian. Setelah lama barulah aku sadar bahwa setiap benda itu istimewa. Kita diciptakan berbeda-beda dengan peran dan kebermanfaatan masing-masing. Kita semua bekerja sama menciptakan keteraturan yang indah tak terperi. Oleh karena itu ayo kita syukuri!”
Kini Bulan tidak lagi murung. Dia selalu tersenyum dan tidak lagi iri dengan makhluk lain yang dia lihat. Begitupun dengan benda langit lainnya. Mereka semua sadar bahwa mereka istimewa dengan keunikan dan manfaat mereka masing-masing.







