Bening suka membaca buku. Dia memiliki beberapa koleksi buku mulai dari komik, novel anak, buku cerita bergambar dan lain sebagainya. Bening ingin memiliki perpustakaan sendiri tempat dia menyimpan dan membaca buku-bukunya. Namun, bukunya belum terlalu banyak untuk sebuah perpustakaan impiannya. Selain itu, ia juga suka menulis cerita. Dengan bantuan ibu, Bening sudah banyak mengirimkan karyanya baik cerpen maupun puisi ke majalah-majalah. Namun sampai sekarang belum ada yang diterima.
Selain membaca dan menulis dia juga suka memasak. Bening suka membuat kue sendiri dari resep yang dia dapatkan dari koran atau majalah. Ketika ibu berbelanja di pasar, Bening biasanya akan menitip bahan-bahan yang dia butuhkan untuk kue yang mau dia buat. Kadang kala dia juga ikut dengan ibu memilih-milih bahan sesuai resep tersebut. Bening ingin menjual kue buatannya di kantin sekolah. Namun kue buatan Bening tidak terlalu enak. Jadilah ia hanya memakannya bersama ayah dan ibu saja. Belum bisa dijual kepada banyak orang.
Bening memiliki banyak impian. Namun belum ada satupun yang terwujud. Ketika dia bercerita pada Loli temannya, Loli berkata kalau Bening terlalu banyak impian. Harusnya satu saja agar lebih fokus. Bening pun menanyakannya kepada ibu.
“Bu, apa benar kalau kita punya impian hanya boleh satu saja?” tanya Bening kepada ibu yang sedang menyiram bunga di taman. Mendengar itu, ibu langsung menghentikan pekerjaannya. Ia mengajak Bening duduk bersamanya di bangku taman belakang rumah.
“Kenapa tiba-tiba Bening bertanya begitu?” ucap ibu.
“Iya Bu, apa yang Bening impikan tidak ada satupun yang terwujud. Karyaku semuanya ditolak. Kueku pun tidak layak jual. Apa mungkin memiliki impian itu tidak boleh banyak-banyak ya? Kata Loli aku harusnya fokus kepada satu impian saja,” kata Bening sedih.
“Hahaha, Bening, Bening. Bening tahu pelangi?” tanya ibu.
“Pelangi. Tahu lah Bu. Masak Bening gak tahu pelangi!”
“Nah, kalau kamu tahu pelangi, pasti tahu berapa warna pelangi.”
“Tahu Bu. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu.”
“Yap, benar. Bayangkan kalau pelangi itu tidak ada warnanya. Atau hanya satu warna saja.”
“Lebih cantik warna warni Bu, bukan pelangi namanya kalau hanya satu warna.”
“Betul sekali. Seperti itulah hidup kita Sayang. Kita boleh memiliki banyak impian agar hidup kita lebih berwarna. Walaupun tidak selalu apa yang kita impikan, terwujud dalam waktu singkat. Kendati impian itu belum terwujud, kita harus tetap berusaha dan menikmati kegagalan itu sebagai pelajaran agar kita bisa menjadi lebih baik. Seperti pelangi. Apa Bening bisa melihatnya setiap hari?”
“Tidak Bu, Bening tidak sering melihat pelangi.”
“Nah, pelangi tidak bersedih walau hadir tidak setiap hari. Ia pun tidak marah walau muncul hanya sebentar. Ia tahu kalau proses membentuk pelangi tidak hanya sekali jadi. Walau ada yang bilang ada pelangi setelah hujan, tidak selalu seperti itu.”
“Kenapa kita tidak melihat pelangi sesering bertemu matahari atau hujan Bu?”
“Bening, pelangi itu sebenarnya adalah fenomena alam yang merupakan proses optik.”
“Optik? Maksudnya Bu?
“Optik itu adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan cahaya, penglihatan dan sejenisnya.”
“Bagaimana bisa terbentuk pelangi Bu?”
“Mungkin Bening tidak melihat atau memperhatikan bahwa di udara terdapat butiran-butiran air yang bisa berfungsi sebagai cermin kecil,”
“Cermin? aku biasa bercermin kalau ingin melihat diriku sendiri,”
“Benar, cermin dapat memantulkan cahaya dan merefleksikan bayangan suatu benda. Ketika cahaya matahari menyinari butiran air tadi, sebagian besar cahayanya akan dipantulkan kembali. Ketika terjadi hujan, udara tentu akan mengandung banyak butiran air yang membentuk seperti tirai dan masing-masing butiran air itu memantulkan cahaya yang datang.”
“Tapi Bu, cahaya matahari kan berwarna putih, kenapa pelangi punya banyak warna?”
“Nah, itu karena cahaya matahari akan terdispersi atau terurai dan melebar. Cahaya matahari yang menembus butiran air akan dipantulkan ke arah yang berbeda-beda. Perbedaan arah cahaya ini dipengaruhi masing-masing panjang gelombang tiap cahaya. Makanya cahaya pelangi tampak berwarna warni dan menyebar atau melebar seperti kipas.
“Oo..begitu Bu, tapi kenapa setelah hujan aku tidak selalu melihat pelangi?”
“Nah itu dia yang ingin ibu katakan. Ada syarat agar kita bisa melihat pelangi walau banyak butiran air di udara. Seperti matahari harus berada di atas garis horizon. Horizon itu langit bagian bawah yang berbatasan dengan permukaan bumi atau laut. Selain itu, cahaya matahari juga tidak boleh terhalang oleh awan, pegunungan atau halangan lainnya. Matahari juga harus berada sedikit lebih rendah. Pelangi selalu muncul pada sisi langit yang berlawanan dengan matahari. Jadi kalau kamu melihat pelangi, posisi matahari akan berada di belakangmu.”
“Kalau tidak begitu, pelanginya tidak muncul Bu?”
“Yap begitulah. Seperti impian kita Bening. Tidak selalu harus terwujud seketika. Ada syarat yang harus kita penuhi agar impian kita terwujud. Seperti tekun, pantang menyerah, rajin berlatih dan jangan mendengar kata-kata negatif orang lain. Kalau itu semua kita penuhi, impian kita akan tercapai. Dan percayalah, impian-impian itu akan membentuk warna warni yang indah dan mewarnai hari kita.”
“Wahh..begitu ya Bu, mulai sekarang aku tidak akan bersedih lagi kalau aku gagal. Aku akan terus berusaha agar semua impianku terwujud.”
“Ya gitu donk. Anak Ibu. Semangat!”
“Semangat!” Teriak Bening sambil meloncat.








Cerita yang bagus Bu, pertanyaan yang sama muncul selalu di benak anak-anak
terima kasih ibu. iya bu…semoga anak-anak termotivasi untuk mewujudkan semua impiannya