Rabu, 3 Februari 2021
Penulis : Siti Marwanah

Pada bagian ini, saya akan menjabarkan alasan mendasar mengapa saya, anda dan teman yang lain mau dan bahkan harus belajar menulis.
- Walau Usia Pendek Berharap Berumur Panjang
Rata-rata umur manusia adalah 55-70 tahun. Setelah kita meninggal sehari, dua hari. Kolega masih sempat mengingat tentang kita. Seminggu, dua minggu, sahabat dekat masih mengenang kita. Sebulan, dua bulan mungkin kita hanya diingat oleh keluarga dekat, orang lain sudah melupakan kita. Enam bulan, setahun hanya pasangan hidup kita yang masih ingat, bahkan bisa jadi anak kita pun sudah lupa karena mereka kembali sibuk dengan rutinitas.
Saya, anda, kita semua, disaat kita semua sudah tiada, selalu berharap agar diingat
selamanya sepanjang masa. Tapi apakah itu mungkin dan bagaimana caranya?
Bagi saya pribadi, itu sangat bisa dilakukan. Tapi permasalahannya banyak orang yang tidak mau berusaha untuk itu. Mungkin anda bingung dengan penjelasan saya. Biar tidak membuat anda semakin bingung. Saya harap anda menjawab pertayaan di bawah ini dengan jujur.
Mengapa imam-imam besar seperti Imam Syafi’I, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Bukhari-Muslim masih diingat sampai sekarang. Padahal mereka sudah meninggal beberapa abad yang lalu, tapi Namanya masih dikenang hingga hari ini?
“Karena mereka MENULIS.” Itu JAWABANNYA.
Mereka mengikat ilmu yang mereka pelajari dengan cara menulis. Mereka menuangkan ilmu yang mereka miliki kedalam karya-karya yang masih bisa kita nikmati sampai saat dan masih menjadi rujukan bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Kita tidak pernah bertemu dengan mereka, namun kita mengenal mereka melalui kitab-kitab yang mereka tulis. Itulah sebabnya nama mereka harum sampai hari ini. Inilah yang dinamakan usia boleh pendek namun umur panjang.
BAGAIMANA DENGAN KITA?.
Bandingkan dengan diri kita sendiri.
Kita ingin dikenal sepanjang masa, tapi kita tidak pernah berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang membuat kita dikenal oleh generasi mendatang.
MENGAPA BISA BEGITU?
Karena kita tidak pernah mau berusaha. Kita terlalu banyak mengeluh. Kita terlalu banyak alasan, yang membuat kita tidak pernah bisa menulis satu kalimat pun.
COBA ANDA BAYANGKAN!
Kita sekolah mulai dari usia 6 tahun, SD kita tempuh selama 6 tahun, SMP/MTs selama 3 tahun, SMA selama 3 tahun, perguruan tinggi 3-5 tahun bahkan ada yang masuk paud umur 4 tahun. Artinya kita menuntut ilmu hampir 17 tahun. Tapi mengapa kita tidak masih mengaggap diri kita tidak bisa menulis. Memang selama 17 tahun kita mencari ilmu, kita tidak pernah diajarkan menulis?
Lalu apa yang terjadi selama 17 tahun?
Saat kita sekolah, kita sempat menulis ilmu itu di buku. Tapi seiring berjalannya waktu saat kita selesai ulangan dan diberikan buku rapot. Kita menganggap ilmu itu sudah tidak perlu lagi, kemudian ilmu itu akan kita jual kiloan kepada pengumpul rongsokan. Seolah-olah ilmu yang kita peroleh dengan susah payah hanya dihargakan 1 kg Rp 3000.
Boleh saja ilmu yang dulu diperoleh itu kita tulis dibuku, dan hak anda menjual kepada pengumpul rongsokan secara kiloan. tapi usahakan ilmu itu sudah disalin ke laptop atau ke ponsel anda dan usahan di posting di media sosial yang anda miliki.
Suatu saat nanti saat tulisan anda sudah banyak dimedia sosial, maka anda akan bisa terbitkan menjadi buku karya anda sendiri dan akan terpajang di rak perpustakaan, baik perpustakaan rumah, sekolah atau toko buku.
Dengan cara seperti itu, ilmu yang anda tuntut selama 17 tahun insyaallah menjadi ilmu yang bermanfaat dan akan menjadi warisan generasi mendatang. Mari mulai menata diri dan memotivasi diri untuk menghasilkan karya tulis agar kita bisa dikenang lewat tulisan.
Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan berikhtiar. Marilah kita mulai dari diri sendiri, mulai hari ini, mulai dari hal kecil untuk mengikat semua ilmu yang kita peroleh dengan cara menuliskannya dan bagikan kepada orang lain dengan memanfaatkan tehnologi yang ada. Zaman sekarang tehnologi sudah berkembang pesat, ilmu yang kita pelajari akan lebih mudah kita dapatkan dan kita bagikan lewat ponsel, internet.
SELAMAT MENCOBA…..
- Termotivasi dari beberapa Queto
- Queto pertama adalah “Menulis ibu kandung peradaban”
Kalimat ini keluar dari ibu Rahma, seorang penulis buku motivasi muslimah. Beliau mengatakan bahwa menulis itu ibaratnya ibu. Seorang ibu akan mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang hebat dan unggul baik dari segi agama maupun dari sisi dunia.
Menulis juga seperti itu, apa yang kita tulis hari ini akan membentuk peradaban bagi generasi-generasi yang akan datang. Usia kita terbatas. Kita tidak bisa mendidik mereka langsung seperti seorang ibu. Tapi kita bisa mendidik generasi mendatang lewat tulisan dan karya kita yang akan mereka baca nantinya.
Kita ambil contoh Kitab Al-Quran. Umat sekarang tidak akan pernah mengenal dan tahu kandungan Al-Qur’an, jika dulu kitab Al-Qur’an tidak di tulis pada masa Khalifah Usman Bin Affan.
- Queto yang kedua “Ilmu harus diikat”
Ilmu harus diikat, kalimat itu yang terpatri dalam ingatan saya. saat Ustad Sholihin memberikan materi di kelas menulis online. Beliau menyampaiakan bahwa, banyak ilmu sudah kita pelajari, namun karena sifat manusia yang sering lupa terkadang membuat Ilmu yang kita pelajari sering hilang. Agar ilmu itu tidak hilang maka harus diikat dengan cara menuliskannya kembali. Beliau sempat mengutip ucapak dari Abu hatif ar-rozi pernah mengatakan:
- Tulis yang terbaik dari apa yang Anda dengar.
- Hapalkan yang terbaik dari apa yang anda tulis.
- Sampaikan yang terbaik dari apa yang anda pelajari
- Queto ketiga “Sukses itu adalah sebuah usaha”
Kutipan motivasi dari pak Cahyadi Takariawan, pembina Kelas Menulis On line. Berapa usia anda sekarang? Bisa saya pastikan belum mencapai sembilan puluh tahun, saat membaca tulisan saya ini.
Apakah anda telah menjadi orang sukses pada usia anda sekarang? Jika anda merasa belum sukses, jangan khawatir dan jangan pernah berputus asa. Ternyata sukses bisa datang kapan saja, bisa saat usia muda atau usia tua.
Jangan mengira sukses itu adalah sebuah hasil, karena sesungguhnya sukses itu adalah tentang bagaimana kita berusaha dan terus berusaha menjadi orang bermanfaat.
Tanamkan buah pikiran maka anda akan menuai tindakan.
Tanamkan tindakan maka anda akan menuai kebiasaan.
Tanamkan kebiasaan maka anda akan menuai karakter.
Tanamkan karakter maka anda akan menuai keuntungan
Membaca masa lalu sebagai muhasabah
Melukis Mada depan sebagai harapan
Mengisi hari ini dengan akhlak terpuji
Manusia bisa belajar banyak hal dari tulisan-tulisan yang bertebaran di dunia ini, asal kita mau membaca dan merenungi kandungan dari tulisan tersebut.













Mantap bin keren. Lanjutkan