Bang Azam bangun, merengkuhku dalam pelukkan yang selalu membuatku nyaman, tapi sekarang aku merasa terhimpit ribuan ton batu dalam dekapan Bang Azam, berusaha melepaskannya tapi tak aku tidak ada kekuatan, aku hanya bisa pasrah dengan luka yang mengangga saat ini.
“Wa, dengarkan Abang. Elma anak Nisam, ingat Nisam sepupu Abang yang sudah seperti adik Abang. Salwa pernah berjumpa dengannya. Nisam meninggal tiga tahun yang lalu , Elma waktu itu masih bayi. Entah kenapa Elma hanya Abang yang bisa menenangkannya. Sejak itu jika Elma sakit Abang terpaksa, Abang bagaikan obat yang mujarab untuk Elma, tapi hanya untuk Elma. Abang ,diminta Bunda untuk membantu Najwa istri Nizam menenangkan anaknya hanya itu. mungkin ini yang namanya takdir, Abang baru mengatakan pada Elma jika Elma punya Bunda lain selain Mamanya. Abang sudah memutuskan untuk mengadopsi Elma menjadi Anak kita, Bunda dan Najwa tidak keberatan. Jadi ini murni karena Elma apalagi mendengar cerita Najwa, Elma sangat dekat dengan Salwa.” Pernyataan Bang Nizam membuat tangisku mereda, aku mulai mencerna perkataannya.
“Papa, Bunda kenapa.” Suara gadis kecil yang membuatku rindu tiba – tiba menguak pintu kamar rawat inapku, dengan wajah imutnya dia menghampiriku dan meminta Bang Nizam untuk memangkunya supaya bisa memandangku dengan jelas.
“Bunda menangis, sakit sekali ya Bunda. “ Ucapnya sambil tangan mungilnya menyentuh wajahku.
Aku tidak bisa berkata – kata, dari arah pintu aku melihat Ibu mertuaku bersama Mamanya Elma memandagnku dengan senyum mengembang. Bunda menghampiri meraih tanganku
“Wa, bunda minta maaf. Nizam sudah Bunda anggap anak sendiri karena itu minta tolong Nizam kasihan Elma masih terlalu kecil dan sering bertanya tentang Ayahnya. Entah karena apa Elma sangat dekat dengan Nizam, jangan takut Najwa bukan istri Azam, sebenarnya pertemuan Elma dengan Salwa bunda yang mengaturnya, selama dua tahun ini kami selalu menyebut Salwa sebagai Bunda Elma karena itu ketika pertama bertemu dengan Salwa, Elma terlalu bahagia, sepanjang jalan pulang ke rumah Elma berceloteh tentang Salwa. Sampai – sampai Elma jatuh sakit ketika kami tidak mengikuti keinginannya untuk bertemu dengan Salwa. Salwa ingat kejadian ketika Elma pingsan bukan. Bunda terus saja bercerita setelah sebelumnya Bang Nizam membawa keluar Elma sehingga Bunda leluasa bercerita kepadaku, sementara Najwa hanya mendengarkan dan sekali – sekali melempar senyum kepadaku.
“Maafkan Najwa kak, tentu kakak terkejut ketika pertama kali kita bertemu dan mendengar Najwa memanggil Bang Nizam dengan Papa, tapi kakak jangan risau sebentar lagi Najwa akan menikah dan pindah ke Malaysia, Najwa titip Elma dengan kakak. Aku menatap Najwa tak percaya bagaikan dogeng seorang Ibu akan menitipkan anaknya kepadaku.
Tak lama pintu terbuka sosok Bang Nizam dan Elma Nampak, tidak hanya mereka tapi ada satu lagi sosok lelaki bersama mereka.
“Kenalkan ini calon Najwa kak.” Ucap Najwa malu – malu.
“Aslam kak.” Suara tegas yang sama dengan suara Bang Nizam
Aku masih mengeleng – geleng kepalaku tidak percaya dengan semua ini, ternyata kumpulan rindu dalam doa malamku terjawab dengan kehadiran Elma yang bagaikan penghapus rindu yang selalu aku harapkan kehadirnya, hilang sudah sebak di dada berganti rindu kepada Bang Nizam dan Elma.
“Sini anak Bunda.” Ucapku sambil mengulurkan tanganku meminta Bang Nizam memberikan Elma yang berada dalam gendongaannya.
Aku mencium seluruh wajahnya, dengan suaranya terdengar memprotes karena aku tidak berhenti menciuminya.
“Bunda geli.” Suara yang sangat aku rindukan.***







