Merajut Asa Anak Kampung (akhir)

 

Tetes airmata haru menghiasi pipiku, kertas di tanganku sudah berulang kali aku cium. Terima kasih Bu Idel, jika tidak ada Ibu mungkin saat ini aku sudah terpuruk dalam kesedihan yang mendalam tapi kerana Ibu aku bisa merasakan bagaimana bahagia memegang kertas kelulusan.

Aku berlari menuju rumah, tidak terasa jarak jauh dari sekolah untuk mencapai rumah. Setelah tadi aku sujud syukur dan mengucapkan terima kasih kepada Bu Idel karena budinya aku bisa lulus bersama teman – temanku dan terhindar dari pengunduran diri.

Dari jauh aku sudah melihat Ayah dan Ibu menunggu kedatanganku, aku langsung meraih tangan Ayah mencium hikmat setelah itu aku beralih memeluk Ibu yang sekarang sudah lumayan membaik keadaanya.

Andai saja saat itu tidak ada malaikat bersayap seperti Bu Idel tentu aku akan putus sekolah. flashback

Sore hari seperti janjiku kepada Bu Idel, saat ini aku dan Ayah sudah berada di depan rumah bu idel setelah menitipkan Ibu kepada tetangga kami yang sudah dianggap Saudara.

“Walaikumsallam, Ayo masuk Pak, Niar.” Suara bu Idel menyambut kami .

Kami duduk di ruang tamu Bu Idel yang besar melebihi besar rumah kami, seorang wanita tua hadir diantara kami sambil membawa nampan berisi minum dan makanan kecil.

Aku dan Ayah saling berpandangan, merasa tersanjung dengan penyambutan Bu Idel yang sungguh membuat kami malu, karena status kami yang jauh berbeda.

“Mari Pak, Niar diminum dulu.” Ucap Bu Idel ramah

“Mari Pak dicicpi dulu baru kita bicara.” Ucapnya lagi.

Aku dan Ayah dengan malu – malu mengambil minuman yang disajikan serta mencicipi makanan kecil yang dihidangkan.

“Begini Pak, jika bapak mengizinkan saya akan menjadi orangtua asuh untuk Niar, dan jika bapak sudi kami sekarang membutuhkan satpam, setiap hari bapak bisa membawa Ibu kesini sekalian Niar setelah pulang sekolah juga kesini, membantu saya untuk menjaga anak saya yang butuh teman setelah pulang sekolah, bagaimana Pak dengan tawaran saya. Mudah – mudahan bapak sekeluarga bisa terima.” Kami memandang wajah Bu Idel dengan rasa haru yang dalam tidak menyangka masih ada orang yang berhati luhur seperti diri Bu Idel.

Flash off

Terima kasih Bu Idel, semoga ibu selalu dalam lindungan – Nya. Hanya doa yang tulus yang bisa Niar panjatkan untuk Ibu, aku masih bersimpuh di depan sejadah sejadah setelah sholat magrib. Jalanku masih panjang, sepanjang doaku semoga Allah mengijabah semuanya termasuk doa semoga aku bisa menamatkan pendidikan dan meraih gelar sarjana.

Terbayang wajah kedua orangtuaku, serta wajah dewi penyelamatku yang selalu memberikan motivasi untuk aku kuat menjalani semua dengan ikhlas.

Menatap loptop seken alias bekas dari pemberian Bu Idel, sebelum aku meninggalkan kampung halaman untuk menutut ilmu di Pekan baru, laptop yang menjadi bukti janji meraih gelar sarjana. Siap sudah satu tulisan yang akan aku kirim penerbit, bu Idel menjadi cerita pertama fiksiku yang akhirnya menjadi tambul penghasilan yang membantu uang kuliahku.

Terima kasih dewi penyelamatku, izinkan dirimu menjadi karakter imajinasi dari cerita fiksiku untuk mengenang budi baikmu.***

Tinggalkan Balasan