Antara Dua Rasa (End)

Flashback

“Juara satu kelas XI IPA 2 adalah.” Deg  deg jantungku.

Aku selalu bersaing dengan Adnan untuk posisi ini, aku merutuk wakil kepala sekolah urusan siswa yang selalu mempermainkan kami siswa yang menunggu pengumuman juara kelas.

Lihat saja seperti saat ini, seharusnya membacakan urutan ketiga, malah untuk kelasku juara satu yang disebutnya.

Suara bisik – bisik teman kelasku dalam barisasn membuat aku merasa tambah gugup,jangan sampai aku kalah dengan Adnan, semester lalu aku harus tunduk kepada Adnan karena dirinya unggul menjadi juara satu.

“Maaf seperti tahun ini dari kelas XI IPS 2 ada bibit baru, maaf untuk juara yang lalu sepertinya harus lebih focus untuk bersaing. Juara tiga diraih oleh Intan Habibah.” Suara itu terabaikan olehku.

Jangan – jangan aku tidak meraih gelar juara karena Intan tidak pernah menjadi saingan untuk juara kelas.

“Juara dua jatuh ketangan Adnan.” Aku masih focus dengan pikiranku sendiri

“Juara Satu Indah Putri..”

“Putri jangan melamun dipanggil kedepan tu.” aku kembali ke dalam sadar melihat semua mata yang menatapku sambil tersenyum.

Ucapan selamat datang bertubi seiring jalanku menuju ke depan bersama teman – teman lain yang meraih gelar juara untuk mendapatkan penghargaan atas lelah belajar selama satu semester.

“Melamun lagi.” Sontak aku tersadar.” Suara Adnan mengusikku mengenang masa lalu.

“Assalamualaikum.” Aku dan Adnan spontan memandang pintu.

Wajah cemas Ayah membuatku menjadi sedih, akhirnya aku merasa malu dengan Ayah yang sudah menasehatiku untuk tidak mengajar tadi pagi.

“Bagaimana keadaan Anak Saya Dokter, bukannya ini anak  Adnan.” Ayah masih mengingat Adnan batinku.

“Senangnya Saya, Bapak masih mengingat Adnan.” Senyum mengembang di bibir Adnan, selalu seperti itu sejak dulu Adnan murah dengan senyumnya.

“Bagaimana kondisi Indah, Adnan. Indah selalu keras dengan dirinya, sudah Ayah ingatkan tadi pagi untuk tidak pergi ke sekolah tapi ya itulah Indah.” Mataku membulat mendengar Ayah seperti mengadu kepada Adnan.

Ha ha ha suara Adnan dan Ayah mengema diruang UGD, membuatku bertambah malu apalagi perawat serta ada dua pasien yang berada diruang UGD juga.

“Jangan berisik.” Ucapku spontan

Ayah dan Adnan spontan menatapku sambil tersenyum geli tidak ada lagi tawa keras seperti tadi.

“Gunakan surat izin istirahat 3 hari ini pak.” Geram aku mendengar ucapan Adnan

“Sudah boleh pulang Indahnya Adnan.” Tanya Ayah kepada Adnan

“Istirahat di rumah Pak, kurung saja Indah di rumah. Jika tidak saya buat surat istirahat sebulan.” Sungguh mengada – ada Adnan batinku.

Kami, Aku dan Ayah pamit kepada Adnan. Lega rasanya lepas dari bulian Ayah dan Adnan.

“Saya akan mampir ke rumah jika diizinkan Pak?.” Aku tercengang mendengar ucapan Adnan.

“Saya tunggu kedatangannya.” Senyum Ayah mengembang menyahut Adnan.

***

“Sebaiknya jangan terlalu sering datang.” Aku menjeda kalimatku.

Adnan langsung menatapku intens, aku membuang muka malas untuk melihat ketekejutan Adnan atas ucapanku.

“Tidak enak dengan tetangga.” Lanjutku sambil membuat napas berat.

Bukan tanpa alasan aku mengucapkan itu, bisik tetangga sudah mulai mereka mepertanyaan ada apa antara kau dan Adnan.

Walaupun kami tidak terikat dengan sesiapa tapi Aku sadar ada jarak di antara kami, sangat tidak pantas aku mengharapkan bulan sementara aku hanya pungguk.

Ha ha ha hatiku tertawa, dokter dengan profesi yang tidak elit digandengkan dengan seorang guru batinku mengiba.

Melankolis hatiku sangat jauh dengan kepercayaan diri ketika aku berdiri di depan siswaku, selalu mengatakan betapa hebatnya profesi guru.

“Indah ada apa, Nan akan masuk meminang untuk menutup mulut yang mengunjingkan kedatangan Nan kesini.” Mataku membulat lebar mendengar ucapan Nan.

“Jangan membuat keadaan tambah rumit Nan.” Ucapku memelas

“Apa karena statusku yang duda, sehingga Indah menolak.” Suara putus asa terdengar dari mulut Adnan.

“Bukan seperti itu, Indah hanya seorang guru yang .” ucapanku langsung dipotong Adnan.

“Aku butuh guru untuk anak – anakkku kelak, bukan pendamping yang akan menelantarkan anak – anaku.” Ada suara pilu dari ucapan Adnan.

Ada kisah pilu dari pernikahan Adnan sebelumnya, bagaimana istiri dan anaknya mengalami kecelakaan karena istrinya membawa mobil dengan kecepatan tinggi hanya untuk cepat sampai pada acara sosialita istri dokter.

“Bukankah Istri adalah guru pertama untuk anaknya di rumah, sehingga Aku lebih memilih guru sebagai pendampingku saat ini jangan menolakku lagi Indah. Cukup penolakan 5 tahun lalu, aku tidak ingin kembali di tolak.

Aku terdiam seribu bahasa, ya aku pernah menolak Adnan ketika kami selesai S1 karena kedua orangtuanya tidak pernah setuju dengan pilihan Adnan.

Untung saja aku selalu menjaga jarak dengan lawan jenis seperti pesan Ayah dan Emak, sehingga ketika aku di tolak orangtua Adnan aku tidak terlalu kecewa.

“Ayah Ibuku sudah setuju, jika itu yang Indah takutkan. Mereka menyesali keputusan mereka menolak Indah dulu.

Pasti indah tidak tahu sekarang mereka sering menyebut kapan Adnan mau menikah dengan Indah. Jantungku berdegup cepat mendengar cerita Adnan.

Putri Nabila, anak abangku selalu bercerita tentang Indah kepada Ayah dan Ibu, bagaiman Putri selalu mengatakan jika Ibunya bisa sedikit seperti Bu Indah pasti tidak ada pertengkaran yang sering Putri dengar.

Ah ternyata keponakan Adnan menjadi siswi dibawah asuhanku sebagai wali kelasnya, senyum maluku harus aku sembunyikan dari Adnan.

“Jangan lagi bilang profesi guru itu kecil, bukankan kita adalah produk guru hebat.” Aku menatap Adnan melihat kerlingan nakalnya sambil tersenyum mengodaku.

Ada rasa bangga ketika profesiku dihargai oleh orang yang aku suka, tapi rasa yang lain juga melanda hatiku, ragu tapi hatiku sudah terpaut pada dirinya sejak 5 tahun yang lalu.

Dua rasa yang sungguh membuatku merasa di awan, bukan lagi pungguk merindu bulan entah pribahasa mana yang cocok dengan dua rasa di hatiku saat ini.***

 

 

 

Tinggalkan Balasan