Apakah Aku Wanita dalam Al-qur’an (Part akhir)

Cerpen, Fiksiana258 Dilihat

Mengucapkan salam sambil melangkah menuju ruanganku, beberapa pasang mata terpaku memandangku curiga, aku mengacuhkan mereka terus melangkah menuju ruanganku tentunya, sudah hampir 5 tahun aku tempati ruangan ini. Setelah meletakkan tas dan menghidupkan laptop kantor aku mulai pekerjaanku pagi ini. Menyalin semua pembelian priode berjalan, belum juga selesai pekerjaanku, office boy kantor datang, menyampaikan aku dipanggil keruangan bos.

Merapikan penampilanku, dengan langkah biasa aku menuju ruang bos, berharap hijrahku membuatnya insaf seperti diriku, dengan yakin aku mengucapkan salam sambil membuka pintu ruangan bos. Netra itu membulat penuh, Bos menatapku seakan aku bukan orang yang dia kenal selama ini.

“Anda siapa?” tanya membuatku tersentak tak percaya, tidak mungkin bos tidak mengenaliku

“Mira, bos. Bos memanggil Saya?” kataku

Berdiri menghampiri aku, memegang baju dan jilbabku.

“Apa – apaan kamu, Mir.” Bos berkata sinis

“Kamu lagi kesambet setan?” tanpa menunggu jawabanku bosku mengoceh melihat penampilanku.

“Ada yang salah Pak?” aku malah bertanya balik kepadanya

“Banyak yang salah, sekarang jam kantor. Bukan jam untuk pergi acara wiritan.” Katanya mengejekku

“Saya tahu ini jam kantor Pak.” sahutku jengkel

“Kenapa kamu pakai pakaian untuk ke wiritan.” Terus saja bosku mengejek penampilanku

“Saya mau hijrah Pak?” sahutku emosi

“Hijrah…Kamu lupa ada peraturan kantor yang  tidak memperbolehkan pakai jilbab.” Katanya tegas sambil memandangku dengan netranya.

Aku menepuk jidatku, aku lupa dengan peraturan itu.

“Izinkan saya untuk memakai pakian muslimah dan menutup aurat saya pak.” Pintaku memelas

“Saya tidak suka dengan penampilan kamu yang sekarang.” Setelah berkata itu, bosku kembali lagi ke kursi kebesarannya dan menatapku tidak suka.

“Saya suka sekretaris saya yang lama.” Berkata itu, sambil menatapku jengkel

“Pak…” belum juga ucapanku selesai

“Jika kamu tidak mematuhi perintaku, silakan resigen saja.” melambaikan tangannya menyuruh aku keluar dari ruangannya. Ya Allah, aku menangis dalam hati, ada perasaan kecewa dalam hatiku, bukannya mendapat dukungan untuk berhijrah, aku mengutuk diriku sendiri. Apakah aku terlambat untuk berhijrah, batinku merana. Dan apakah dia, bosku tidak merasa tua dan perlu hijrah juga.

***

Kosong, aku merasakan kekosongan dalam hati dan jiwaku, ku pandangi sekeliling kamarku semua seperti tidak memberikan arti lagi. semua barang mewah di dalamnya malah menambah sedih pilu hatiku melihatnya. Rasa kosong membuatku sakit, teramat sakit dulu aku memuja semua yang berbau kemewahan dunia, sekarang semuanya bagaikan sampah tak berguna dan serta sia –sia.

Tak bisa ku bendung lagi derasnya airmata mengalir di pipiku, rasanya keriput di mukaku bertambah dalam sekelip mata. Tak dapat ku cengah semua duka di dada, aku terus meratap atas apa yang dulu ku puja, tapi sekarang aku merana karenanya. Kecantikan yang selalu ku jaga kini hanya sia – sia kala aku mencoba berjalan ke arah yang menuju ridhonya aku malah di lecehkan, sakit teramat sakit.

“Mira, aku sangat memuja semua yang ada pada dirimu.” Kata bosku kala dia sangat memujaku.

Semua surga dunia mengalir deras tanpa payah aku memintanya.

Tapi tadi pagi sungguh hatiku bagaikan terkoyak dan lukanya mengeluarkan darah yang tidak bisa aku hentikan walaupun aku berusaha tetap bertahan.

“Aku tidak menginginkan istri, aku sudah punya istri di rumah, kau tahu itu.” ejeknya padaku

“Semua yang serba tertutup sudah aku dapatkan dirumah.” Ucapnya lagi tanpa berdosa

“Di sini, di kantor ini aku butuh yang membangkitkan sisi liarku yang tidak ku dapat di rumah. Harusnya kau tahu itu.” kata – kata yang membuatku hancur berkeping.

“Jika kau memilih untuk hijrah, aku tidak. Tinggalkan kantor ini.” Kata yang sebenarnya datar tapi sungguh sangat memporak perandakan hidupku.

Di sini di kamar ini aku hanya bisa merutuki nasib yang sebenarnya aku buat sendiri, harta dunia yang aku kejar akhirnya membuatku miskin di dunia dan akhirat.

“Hijrah bisakah menjadikan aku salah satu wanita yang selalu disebut dalam Al-quran.” Ujarku pelan sambil menahan gejolak dalam hatiku.***

Tinggalkan Balasan

News Feed