Cinta Tak Berujung (Part 2)

Cerpen, Fiksiana273 Dilihat

“Ana, apa yang kamu pikirkan. Ayah tidak pernah mengajarkanmu untuk tidak menghormati orang tua.” Suara tinggi Ayah membuat merinding. Aku memang salah, tapi aku tidak berharap Adam datang secepat ini untuk datang melamarku. Tapi semuanya sudah terjadi maka aku harus berani bertanggug jawab.

Habis magrib tadi Adam datang bersama orangtuanya datang melamarku, tentu saja Ayah marah karena aku tidak pernah bercerita ada yang mau datang melamar. Ayah sangat menjunjung adat, dengan datangnya orangtua Adam tanpa pemberitahuan membuat Ayah naik angin. Aku merasa bersalah kepada orangtua Adam, untung saja Ayah masih melayan mereka dengan sopan.

“Maaf bapak Ibu, saya akan bertanya dulu sama anak saya. Lebih baik kita bicarakan masalah lamaran ini dilain waktu.” Kata – kata Ayah walaupun pelan tapi ada penekanan yang membuat siapa saja yang mendengarkan tahu kalau Ayah menahan amarah.

Adam dan keluarganya pulang, sebelum pulang aku masih sempat berbicara dengan Adam diteras depan rumah.

“Santai saja, tidak perlu takut. Aku hanya tidak mau membuang waktu. Takut kamu diambil orang.” Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya, aku memang menyukai Adam tapi tidak menyangka dia senekat ini

“Kamu tidak takut dengan Ayahmu kan? Masih tetap mau menerima lamaranku kan? Masih saja dengan gaya santainya

“Aku pikir dulu.” Akhirnya aku bersuara

“Tidak semua harus dipikirkan dengan waktu lama, belum tentu juga kita hidup lama.” Ternyata masih ada orang yang sesantai Adam dalam menghadapi masalah, itu yang aku suka darinya.

***

“Aku nikahkan Engkau Muhammad Adam Bin Mustafa dengan anakku Ana Mardiana Binti Muslim dengan mas kawin seperangkat alat sholat serta sebentuk cincin mas tunai.” Aku mendengar suara ayah mengucapkan ijab kabulku untuk menikah dengan Adam.

Aku masih ingat bagaimana Ayah marah besar seminggu yang lalu ketika aku mengatakan menerima lamaran Adam dan menikah dalam waktu dekat. Aku dan Adam tidak menginginkan pesta kami hanya ingin menikah secara sederhana yang dihadari oleh sanak saudara. Ayah sebenarnya tidak keberatan dengan permintaan kami tapi ayah hanya menginginkan aku lulus kuliah dulu dan Adam mendapatkan kerja mapan baru kami menikah.

“Ana, jangan bilang Ana hamil.” Suara ayah meninggi ketika aku mengatakan akan menikah sebelum lulus kuliah

“Ana tidak hamil Ayah.” Aku menjawab tegas

“Jika tidak hamil, kenapa kesanya terburu – buru mau menikah.” Suara Ayah masih dengan intonasi tinggi.

“Ayah selama ini Ana selalu mengikuti keinginan Ayah tanpa membantahnya. Ana janji, Ana akan menyelesaikan kuliah Ana.” Aku berusaha menyakinkan Ayah akan keputusanku untuk menikah.

“Kalian berdua belum ada yang mapan, bagaimana dengan rumah tangga kalian. Ayah tidak berharap setelah menikah kalian akan tinggal dirumah Ayah atau dirumah mertuamu.” Mendengar perkataan Ayah aku menjadi ragu, tapi aku tetap berkeras dengan keputusanku.

“Buat sementara kami akan menyewa rumah Yah, Adam sudah bekerja karena itu dia berani mengajak Ana menikah.” Aku berharap tidak bertanya lagi karena aku belum membicarakan ini dengan Adam. Aku menyesal kenapa tidak pernah berpikir setelah menikah kami akan tinggal dimana.

Entah karena aku kekeh atau ayah yang mengalah akhirnya Ayah menyetujui niat kami untuk menikah.(bersambung)

***

Tinggalkan Balasan