Gundukkan tanah perkuburan dengan batu nisan yang sudah kusam, aku memandang kuburan kedua orang tua Bang Ijal. Inilah yang membuatku tertarik dengan Bang Ijal walaupun yatim piatu dari kecil Bang Ijal bisa mandiri, bahkan S2 sudah dikantonginya, di kantor Papa jabatan Bang Ijal lumayan tinggi tapi masih saja waktu yang ada digunakannya untuk berkebun dengan memfaatkan ilmunya degnan lahan kecil disamping rumahnya dengan teknik hidroponik.
“Ayah Ibu hari ini Ijal datang tidak sendirian, tapi dengan isteri ijal.” Ucapan Bang Ijal membuat hatiku berbunga – bunga, aku istrinya.
“Berikan restu, semoga Ijal bisa menjadi iman yang baik buat istri Ijal dan rumah tangga kami menjadi rumah tangga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah.”
Selesai mengirimkan doa kepada kedua orangtua Bang Ijal, kami sepakat untuk berjalan kepantai.
“Lihat pantai itu.”Sambil jari Bang Ijal menunjuk ke arah pantai di depan kami.
“Abang sangat suka pantai.” Katanya lagi
“Lihatlah kekuasaan Allah kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi dengan pelaut tapi mereka tetap melaut. Begitu juga dengan kehidupan kita, mungkin dengan memandang laut dan mengamatinya kita akan tahu rahasia dari laut.” Aku hanya mendengarkan apa yang dikatakan Bang Ijal, tanpa mengerti artinya aku tidak mau mengusik ketenangan Bang Ijal memandang laut biru di sini kami menikmati indahnya pantai diiringi deburan ombak yang menghajutkan perasaan kami. Aku berharap keputusanku ini yang terbaik. (bersambung)
***










